HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 33


__ADS_3

Zahirah terus mengikuti langkah kaki Aditiya, ia melihat punggung Aditiya yang sempurna. Ia bertanya pada dirinya sendiri, meagapa ia harus terjebak dengan sosok laki-laki yang dari fisik sempurna, perempuan manapun dia bisa dapatkan sedangkan ia tidak tau apakah ia akan menikah atau tidak tapi sekarang ia dan aditiya menjadi suami istri, ia tidak tahu apa maksud Tuhan yang mempertemukan ia dan suaminya tapi satu hal yang Zahirah tahu kalau hatinya telah menyayangi sosok pria yang sedang menggengam tangan dengan erat.


Entah di mana Zahirah mulai memiliki hati untuk suaminya tapi ia yang tau semenjak ia mengenal Aditiya kehidupannya berubah dan kebahagian selalu ia rasakan. Zahirah hanya bisa menyimpan hatinya dan berharap jika suatu saat Aditiya akan memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Duduk " perintah Aditiya


Zahirah duduk sesuai dengan diperintahkan "Tunggu di sini jangan kemana-mana" perintah lagi amAditiya, Zahirah hanya menganggukan kepalanya seperti anak kecil yang telah berbuat salah.


"Nasi campur satu dan air botolnya satu mbak"


penjual yang di kantin terbengong melihat siapa yang dihadapannya


"Mbak" adtiya meninggikan suaranya sedikit


"Ah iya pak, maaf-maaf pak tunggu sebentar pak "


amAditiya menganggukan kepalanya.


Sementara mbak mengambilkan pesanannya, aditiya memperhatikan zahirah dari kejauhan, ia melihat Zahirah tertunduk dan memperhatikan pergelangan tanganya.


"Ini pak pesanannya " Aditiya mengambil pesanannya tanpa kata-katapun


setelah Aditya pergi datang Aldi untuk membayarnya.


"Makan" perintah Aditiya

__ADS_1


"Terima kasih mas " Zahirah tersenyum "Mas duduk yah"


Aditiya duduk di samping Zahirah "Mas tidak makan?" tanya Zahirah


kesal Aditiya hilang mendengar perhatian Zahirah "Tidak, saya sudah makan sebelum kerumah sakit" ucap Aditiya lembut


"Syukurlah, kukira mas belum makan, saya makan ya mas"


Aditiya menganggukan kepalanya.


Baru satu suap Zahirah memakan makanannya, ia tersentak ketika Aditiya mengambil pergelangan tangannya "Kok merah? " tanya Aditiya khawatir


Zahirah ingin menjawab tapi karna mulut masih ada makanan dan didahului Adtiya "Aldi "panggil Aditiya


"Iya tuan "


"Iya tuan" Aldi merasa heran karna yang ia lihat tidak ada yang terluka sekarang.


"Kau dengar tidak" Aditiya mulai meninggikan suaranya


"Mas...saya baik-baik saja kok" Zahirah memberikan pengertian terhadap suaminya agar tidak membuat keruh suasana di kantin


"Baik-baik bagaimana tanganmu merah begini"


"Aldi sudah belum kau hubungi dokter Henri "

__ADS_1


"Sudah tuan " Aldi mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan


"Kekantin sekarang kalau tidak saya kurangi 1% sumbangan yang tuan Aditiya janjikan!. "


Dokter Henri sedang sedang sibuk tiba-tiba ponsel berdering keras, ia tau kalau ponsel berdering apalagi suaranya sangat nyaring pasti dari seketaris Aditiya yang tak punya hati jadi ia cepat-cepat membuka pesannya.


Dokter Henri membaca pesan Aldi, ia membulatkan matanya tidak percaya. "Apa 1%, apa dia tidak salah kirim pesan, mungkin dia menganggap 1% itu tidak berharga tapi rumah sakit ini akan pusing mencari donatur 1% untuk mengantikan 1% itu" gomel dokter Henri.


1% sumbangan Aditiya sama halnya harus memcari sepuluh orang donatur, Aditiya sebenarnya memiliki saham di rumah sakit dokter Henri tapi Aditiya tidak mengingginkan itu, Aditiya ingin hanya dianggap sebagai donatur.


"Siapa yang sekarat sampai-sampai kau memanggilku di kantin? " tanya dokter Henri ketika ia sampai di kanting dengan keadaan ongos-ongosan Aldi ingin tertawa tapi ia tahan ketika melihat keadaan dokter Henri "Itu" tunjuk Aldi kearah pengantin baru.


Dokter Henri membulatkan matanya "Kamu bercanda " kesal dokter Henri


Aldi hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


"Bisa tidak gue kirim ini orang kerumah sakit jiwa" batin dokter Henri


"Saya tau ya apa yang ada dipikiranmu dok " kata Aldi dengan tatapan tajam


"hehehe...bercanda Aldi " cegir dokter Henri


"Mana berani gue, " batin dokter Henri


dokrer Henri mengingat bagaimana marah Aldi ketika ia ingin menipu Aditiya, ia hampir mati di tangan Aldi.

__ADS_1


Dokter Henri mengelengkan kepalanya beberapa kali, ia tidak ingin mengingat peristiwa itu lagi.


__ADS_2