HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 84


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan jam 12 malam namun Zahirah tidak bisa tidur, ini sering terjadi semenjak meninggalmya Ningsih. Zahirah tidak benar-benar tidur walaupun di depan suaminya ia terlihat baik-baik saja, nyata tidak.


Rasa bersalah semakin menumpuk dihatinya, ia berusaha tegar tapi keadaan berkata lain. Zahirah mencoba menerima segalanya bahwa semua yang telah terjadi adalah kehendak Tuhan tapi hatinya tidak menerima itu.


Zahirah duduk di lantai tertunduk menangis memeluk dirinya sendiri. Zahirah merasa tidak kuat lagi, ia merasa segalanya akan berakhir meninggalkan dirinya seorang diri.


Aditiya pulang dengan riang gembira, langkah kakinya sangat ringan dan ia tak sabar ingin memeluk istrinya yang sangat ia rindukan.


Aditiya membuka pintu kamar sangat hati-hati takut kalau membangunkan istrinya yang tertidur. Aditiya berjalan kearah kasur namun ia tidak menemukan istrinya ia mulai panik. Aditiya mengambil telponnya untuk memeriksa cctv tapi sebelum ia mengambil hpnya Aditiya mendengar suara isakkan yang sangat menyakitkan.


Aditiya berjalan kearah sumber suara, betapa terkejut ia ketika melihat istrinya yang sedang duduk dilantai tidak memakai alas dan sendal rumahnya.

__ADS_1


Aditiya menghampir istrinya memegang telapak kaki istrinya. "Sayang kau baik-baik saja" aditiya menganmbil jasnya dan meletakkan di lantai dan meletakkan kaki istrinya.


Zahirah menangkat kepalanya melihat suami sudah berada di hadapannya dan memeluknya erat. Aditiya membawa istrinya didalam pangkuannya dan membiarkan istrinya menangis.


"Menangislah sayang, mas ada disini selalu menemanimu, keluarkanlah sayang, semuanya akan baik-baik saja " Aditiya mengusap punggung istrinya dengan lembut memberikan bahwa istrinya tidak sendiri ada ia yang selalu menemani istrinya.


"Mas Ningsih.... Ningsih... Ningsih.... telah pergi tidak kembali lagi" Zahirah mengeluarkan isi hatinya semenjak kematian Ningsih,


"Apa salahku mas.... aku tidak megerti dengan takdirku... aku lelah mas....... kenapa takdir terus mempermainkan hidupku mas....." suara zahirah terdengar menyayat hati.


Aditiya sampai tidak tahu harus menjawab apa tapi Aditiya sangat terluka mendengar jeritan hati istrinya. "Tenanglah sayang, masih ada mas... mas tidak akan meninggalkanmu dan anak kita nanti tidak ada yang akan meninggalkanmu jadi kau harus kuat sayang, untukku dan untuk anak kita" Aditiya berdiri mengendong istrinya dan membawanya keatas kasur.

__ADS_1


Tagisan Zahirah mulai mereda dan melepaskan pelukannya, ia menghadap suaminya padangan mereka bertemu Zahirah mengangkat tangannya mengelus wajah suaminya yang sangat rindukan.


Aditiya menutup matanya merasakan usapan tangan istrinya "Maafkan aku mas sudah membuatmu khawatir lagi " Zahirah tertunduk


Aditiya menarik istrinya membawanya kedalam pelukannya "Tidurlah, ini tidak baik untukmu dan anak kita ini sudah sangat larut" Aditiya mengusap kepala istrinya.


Aditiya terus mengusap rambut istrinya sampai terdengar denguran halus istrinya. Aditiya melepaskan dekapannya dan memperbaikki tidur istrinya tak lupa memberikan kecupan di kening istrinya.


Aditiya turun dari kasur berjalan kearah kamar mandi berganti baju. Sesampainya di kamar mandi Aditiya tidak berganti pakaian justru ia melihat dirinya di depan cermin, menarik napas panjang dan mengusap wajah dengan kasar. Aditiya merasa takut melihat keadaan istrinya yang semakin tidak baik,


"Sayang apa harus aku lakukan agar kau berhenti menyalahkan dirimu. " Aditiya masih ingat kata-kata istrinya kalau dia lelah

__ADS_1


"Sayang kuatlah, demi aku dan anak kita" kata Aditiya putus asa.


__ADS_2