
Mobil yang ditumpangi Zahirah sudah sampai di rumah Aditiya.
"Nona sudah sampai " Aldi membangunkan Zahirah
"Ah..iya ..maaf..maaf...saya ketiduran" Zahirah merasa tidak enak, sebelum membuka pintu mobil Zahirah membulatkan mata nya tidak percaya, melihat rumah yang ada didepannya ini. Sangat mewah, Zahirah menelan air liurnya susah payah mencoba menormalkan detak jantung, hatinya bertanya rumah siapa ini, apakah betul rumah Aditiya kalau betul seperapa kaya Aditiya dan kenapa Aditiya ingin menikah denganya yang tidak tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan perempuan yang lain.
"Silahkan nona, tuan Aditiya sudah menunggu anda " Aldi membuka pintu mobil dan mempersilahkan Aahirah
"Ah...iya baik dan terima kasih. "
Zahirah turun dari mobil matanya berkedip beberapa kali melihat apa yang ada dihadapan sekarang rumah yang sangat besar, Zahirah merasa ingin pulang saja.
"Tuan apakah tidak bisa tuan Aditiya bicara di rumah sakit saja? " tanya Zahirah sebelum masuk kerumah aditiya
"Apa lagi ini, mau apa sebenarnya perempauan ini kenapa dia ingin pulang tiba-tiba. Merepotkan sekali. Ayolah pekerjaanku bukan hanya utnuk meledani kau saja nona" batin Aldi menatap Zahirah heran
__ADS_1
"Maaf nona tapi taun Aditiya sudah lama menunggu dan ia tidak suka menunggu lama "
Zahirah belum menjawab Aldi terlebih dahulu membuka pintu dan mempersilahkan Zahirah masuk "Silahkan nona tuan sudah menunggu anda diruangan tamu. "
Zahirah yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya ia masuk, ketika ia masuk jantungnya berdetak tidak karuan tangannya sudah dingin. Zahirah takut Aditiya meminta dirinya macam-macam, ia merasa bahwa ia tidak ada apa-apanya dengan kemewahan ini terus kenapa ia harus berusan dengan aditiya. Apa yang sebenarnya yang inginkan Aditiya darinya sementara dirinya tidak memiliki harta sedikit pun saja sudah habis belum lagi dengan pengobatan Ningsih.
"Kamu sudah sampai " Zahirah menganggukkan kepalanya "Duduklah" perintah Aditya
zahirah duduk didepan Aditiya kepalanya tertunduk dan tangannya menyatu di dalam hati Zahirah menghapalkan doa agar semua akan baik-baik saja.
"Iya tuan" jawab Zahirah terbata
"Saya langsung saja.. kenapa saya memanggilmu kesini karna ada beberapa hal yang kamu harus ketahui sebelum menjadi istri saya" Aditiya menatap Zahirah yang masih saja tertunduk
"Yang pertama kita menikah hanya saya, kau, aldi dan adik saya yang tau. Yang kedua saya berharap kamu tidak banyak berharap dengan saya ( Saya tau kok batas saya tuan, dalam hati Zahirah ) dan yang terakhir kamu bisa melakukan apa saja tapi kamu tau batas (batas sperti apa yang anda maksud, tanya Zahirah dalam hatinya)"
__ADS_1
Aditiya menghela napas karna Zahirah tidak merespon perkataan padahal ia sudah berkata pelan agar Zahirah megerti " kamu mengerti Zahirah" Aditiya meninggikan sikit suaranya
Zahirah hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda iya.
"Jika tidak ada lagi, saya permisi pulang tuan" pamit Zahirah
" Mau kemana kau? " tanya Aditiya dingin, ia muak melihat Zahirah yang selalu ingin melarikan diri darinya padahal ia tidak menyakiti Zahirah
"Pulang tuan" jawab Zahirag polos.
"Siapa yang suruh kau pulang, ah" bentak Aditiya, Aditiya sudah tidak menahan emosinya kenapa ia harus menikah dengan perempuan yang tidak mendengar perkataannya
"Mulai hari ini dan seterusnya kau tinggal disini dan kamarmu ada disana" tunjuk Aditiya kearah tangga disamping tangga ada kamar " dan saya tidak ingin dibantah" Aditiya sudah meninggalkan Zahirah yang masih duduk, ia masuk kekamar agar amarahnya tidak bertambah.
Zahirah berdiri dan menuju kamar yang akan tempati selama hidupnya, ia membuka pintu kamar dan melihat kesemua sisi. Zahirah bersyukur ia mendapatkan kamar jauh lebih baik dari kamarnya sebelumnya.
__ADS_1
Zahirah duduk ditepi ranjang dan menghela napasnya " semuanya akan baik-baik saja Zahirah" tangannya mengusap-usap lengannya. setiap kali Zahirah merasa lelah yang ia bisa melakukan meyemangati dirinya sendiri.