
Ningsih sedang berada rumah Zahirah ingin memastikan apakah yang diliatnya diacara ulang tahun perusahaan di mana ia bekerja adalah benar.
Ternyata benar, rumah yang selalu ditempati Zahirah sekarang tidak terpenghuni lagi terbukti banyaknya sampah dan debu.
Ningsih tidak tau harus melakukan apa. Ningsih tidak mengirah akan mendapatkan guncangan seperti ini.
Ningsih seperti orang yang kehilangan arah ia tidak tau harus cerita pada siapa. Satu-satunya yang bisa mendengarkan hanya Zahirah seorang, namun kini Zahirah telah menggecewakannya hatinya sakit tapi lebih sakit lagi bahwa orang yang ia cintai selama ini sudah beristri dan sangat mencintai istrinya.
Ningsih pulang keapartemennya dengan keadaan kacau. Ningsih melampiaskan dengan pergi minum-minum. Ningsih masuk di dalam kamarnya membuka semua bajunya, masuk kekamar mandi di dalam kamar mandi Ningsih menumpahkan segala rasa sakit hatinya
"Kenapa harus seperti ini, kenapa Zahirah harus membohongiku, apakah aku tidak berhak tahu.Tapi tidak mungkin Zahirah berbuat seperti itu" Ningsih tau betul bagaimana Zahirah ia sudah lama mengenalnya sejak lama.
Jadi siapa yang harus disalahkan. Sebenarnya Ningish tidak permasalahkan Zahirah membohonginya yang jadi masalah adalah hatinya, terlalu berharap dengan Aditiya di tambah lagi cintanya sudah sangat besar sampai ia tidak bisa membendung rasa cintanya pada Aditiya.
__ADS_1
Apa yang harus Ningsih lakukan dengan cintanya sekarang "apa yang harus kuberbuat dengan cinta ini, aku harus kemana agar cinta ini hilang. Ya Tuhan kenapa aku harus mengenal cinta dengan orang tidak sama sekali memandangku."
Ningsih menerka kalau Aditiya berbuat baik padanya karna demi kesenangan hati istrinya. Ningsih tau kehabagian Zahirah terletak pada orang-orang yang Zahirah sayangi.
Ningsih menangis sejadi-jadi, ia sampai memukul dadanya karna rasa sesak yang tak kunjung hilang.
Ningsih keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sama air matanya tetap jatuh walau ia tak ingin menangis.
Suara bel berbunyi. Ningsih mengira pesanan makanannya yang datang ternyata yang datang adalah Aditiya. Ningsih tau untuk apa Aditiya datang, ia tidak ingin menyambut Aditiya tepatnya hatinya belum siap untuk berbicara dengan Aditiya.
Di luar Apartemen Ningsih ada Aditiya yang sedang menunggu ia tidak pernah berbuat seperti ini. Ini gara-gara istrinya yang selalu menanyakan bagaimana kabar Ningsih. kalau bukan karna istrinya ia sudah menghancurkan pintu ini dari tadi.
Sedangkan Aldi yang memberi kabar kalau Ningsih sudah berada diapartemennya berdiri tanpa mengucapkan sepata katapun. sebelum memberi kabar pada Aditiya ia mendapatkan laporan kalau Ningsih sedang mabuk berat. Yang membuat Aldi bertanya kenapa Ningsih harus meminum alkohol sangat banyak hanya persoalan kalau dia kecewakan sama sahabatnya, padahal Ningsih tidak pernah menyentuh barang haram itu.
__ADS_1
Ningsih membuka pintu "silahkan masuk pak dan maaf pak menunggu lama saya harus membereskan ruangan ini karna berantakan"
Aditiya masuk dan memperhatikan ruangan ini "Saya bisa duduk" bertanya tapi tetap duduk sebelum diberikan izin
"Ah iya pak "
"kau taukan untuk apa aku datang kesini "mata Aditiya tidak fokus, ia melihat beberapa foto yang terpajang
"Iya pak " tidak tau harus menjawab apa apalagi hatinya saat ini sedang sakit
"Ningsih" panggil Aditiya lembut
ini pertama kalinya menyebut nama Ningsih.
__ADS_1
Hati Ningsih bertambah sakit bukannya mendapatkan perlakuan kasar tari Adtiya justru sebaliknya "Saya mohon pak jangan perlakukanku seperti ini. lebih baik kau mencaciku agar aku bisa membencimu. Bagaimana bisa aku membencimu kalau kau berbuat seperti ini membuat hati bertambah berharap. berharap akan sesuatu yang mustahil" batin Ningsih ingin rasanya berteriak dihadapan Aditiya tapi ia tidak bisa. Ningsih hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan rasa sakit hatinya.