HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 65


__ADS_3

Ningsih menangis tersedu-sedu dikamarnya, ia tidak megerti dengan takdir ketika ingin melepaskan seseorang yang bukan miliknya justru dia datang dengan perhatian yang lebih.


Ningsih melihat kejadian semua apa yang terjadi dirumahnya. Pada waktu Ningsih terbangun dan ingin membuang air kecil ia mendengar samar-samar suara orang tertawa Ningsih penasaran suara siapa yang terdengar bahagia sekali.


Ningsih mengintip di balik pintu kamarnya. Ningsih membulatkan matanya tidak percaya apa yang diliatnya, ia melihat Zahirah dan aditiya berciuman yang begitu mesra. Hatinya sangat sakit. Ningsih menyadari kalau tempatnya tidak untuk berada di hati Aditiya jangankan dihatinya dipandangannyapun sudah tidak ada jadi bagaimana bisa ia mencintai seseorang begitu besar padahal sama kali tidak menganggapnya.


Ningsih harus menghilangkan perasaan ini, ia harus menghapus segala tentang Aditiya dipikirannya. Apalagi dihatinya tapi ketika ia sudah ingin bangkit Ningsih mendapatkan perlakuan yang sangat menggejutkan hatinya. Dia Aditiya memperhatikannya walaupun hanya sekedar mengusap kepala tapi bagi Ningsih sangat istimewa baginya.


"Apa aku harus kulakukan dengan semua kejadian ini, aku tak mengerti apa yang sekarang kurasakan" mengusap air matanya


"Mengapa aku bahagia ketika aditiya mengusap kepalaku " Ningsih tertawa dengan air mata yang tetap jatuh


"Aku rasa sudah gila" membaringkan badannya.


Ningsih ingin tertidur sejenak berharap ketika ia terbangun sudah melupakan kejadian yang dilihatnya.


Zahirah di dalam mobil sedang melamun "Kenapa Ra" aditiya membawanya kedalam pelukannya


"Kau memikiran lagi sahabatmu" zahirah menganggukan kepalanya

__ADS_1


Adtiya kesal dengan sifat perasa istrinya "aku bisa marah yah, kalau kau terus memikirkan Ningsih dia sudah tidak apa-apa jadi apa lagi yang kau khawatirkan Zahirah"


suara Aditiya tidak selembut tadi apalagi saat memyebut nama istrinya terdengar sekali ia tidak suka dengan sifat istrinya.


"Maafkan aku mas" memeluk Aditiya dengan erat. Zahirah tidak megerti hatinya ia merasa ada yang aneh dengan Ningsih tapi Zahirah tidak tau.


"Hei sayang kau baik-baik saja" merasakan pelukkan istrinya sangat erat seperti orang ketakutan


"Mas Ningsih" air mata Zahirah sudah terjatuh


"Aku... aku... aku merasa Ningsih menyimpan sesuatu mas"


Zahirah menggeleng kepalanya "Baiklah apakah kau ingin melakukan pekerjaan kita yang tertundah di apartemen Ningsih" Zahirah memukul punggu suaminya bebepara kali


"Mas nanti Aldi dengar" berbisik di telinga suaminya.


Aldi yang sedang asyik dengan pikiranya tidak memperdulikan yang berada yang di lakukan di bangku penumpang. Aldi lebih kepikiran dengan kejadian di perusahaan, Aditiya tiba-tiba saja menghentikan rapat dan ingin menemui istrinya. Aldi yang harus menyelesaikannya.


"Memang kenapa kalau Aldi memdengarkannya" mengigit telinga istrinya

__ADS_1


"Mas ihh...geli"


"jawab sayang "


"Mas kenapa sih panggilanku berubah-ubah, sekarang kau panggil aku sayang sebentar kau panggil aku Ra dan nanti kau panggil aku Zahirah" cemberut


"Mau-mau akulah" memperhatikan mimik wajah istrinya "Ohh atau kau ingin di panggil sayang terus yah" sekita zahirah menganggukan kepalanya beberapa kali seperti anak kecil di berikan premen.


Aditiya tertawa "lucunya" batinnya


"Sayang" goda aditiya terlihat wajah zahirah memerah karna senang


"Sayang....." Zahirah menyebunyikan kepalanya dipunggung suaminya


"Mas jangan mengodaku" Aditiya tertawa dan membawa istrinya kedalam pelukannya.


Aditya sengaja mengahlikan pikiran istrinya dengan menggodanya. Aditiya tidak ingin istrinya selalu menangis tapi akhir-akhir ini istrinya selalu menangis dan penyebabnya berhubungan dengan Ningsih.


Aditiya tak megerti seberapa sayang istrinya dengan Ningsih tapi Aditiya juga tidak bisa melarang istrinya tidak bertemu dengan Ningsih.

__ADS_1


Di liriknya istrinya yang masih nyaman di dalam pelukannya "Tidur rupanya pantasan tidak ada suara" mencium kepala istrinya


__ADS_2