HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 15


__ADS_3

Aditiya duduk disamping di mana Zahirah terbaring, Aditiya memperhatian muka Zahirah. Aditiya terpesona melihat bulu mata Zahirah yang panjang dan lentik. Aditiya ingin meyentuhnya tapi tertahan karna melihat pergerakan mata Zahirah.


"Haus" kata Zahirah lemah


Aditiya berdiri mengambil air dan memberi ke Zahirah. Zahirah belum bisa mencerna dimana sebenarnya ia berada. Zahirah hanya ingin mengisi tenggorokanya yang kering, selesai minum barulah Zahirah sadar bahwa dia berada ruangan rawat tapi kenapa ruangan ini tidak seperti ruangan lainnya malahan seperti kamar tidur yang nyaman yang membedakannya adalah ada peralatan rumah sakit.


"Saya dimana? " tanya Zahirah melihat sekeliling


"kamu di rungan adikku" jawab Zditiya


Zahirah menoleh kearah sumber suara tepat disebelahnya. Zahirah ingat kejadian di Toilet. Tiba-tiba Zahirah mengambil tangan Aditiya, aditiya mendapatkan perlakulam secara tiba-tiba terlonjak kaget ingin menarik tangannya tapi ditahan oleh Zahirah


"Apakah ini sakit? " tanya Zahirah lembut saat melihat luka goresan kuku dipergelangan tangan Aditiya.


Aditiya merasakan hatinya menghangat mendapatakan perhatikan oleh seseorang tidak dikenal


"Tidak" jawab Aditiya singkat


"Apakah aku menyakiti ditempat lain? " tanya Zahirah dengan memperhatikan seluruh badan Aditiya.


Belum sempat Aditiya menjawab Zahirah terlebih dahulu melihat jas Aditiya kusut dan beberapa kancing jasnya hilang.


"Naafkan aku.. aku...aku...aku tidak sengaja, sungguh" kata Zahirah terbata ditambah dengan raut wajah nenyesal


Aditiya tersenyum melihat muka polos Zahirah, IA tidak mempermasalahkan jasnya toh masih diganti dengan yang baru. Aditiya lebih penasaran dengan nama perempuan yang ada didepannya.


"Siapa namamu? " tanya Aditiya


"aAh..." Zahirah melogo ditanya namanya

__ADS_1


"Namamu siapa? " tanya lagi Aditiya


"Oh...nama saya Zahirah" jawab Zahirah dengan mengulurkan tangannya


aditiya mensambut ulur tangan Zahirah "Aditiya"


"Apa yang membuatmu menangis hingga pingsan dan kenapa lenganmu bisa lebam? " tanya Aditiya penasaran dan menunjuk lebam di lengan Zahirah


Zahirah melihat kearah tulunjuk Aditiya dan segera ditutupnya.


"Ah...tidak papa, saya sudah terbiasa" jawab Zahirah


Alis Aditiya berkerut mendengar jawaban Zahirah "Terbiasa katanya maksudnya dia selalu mendapatkan luka lebam seperti itu" batin Aditiya


"Ah maafkan saya pak Aditiya saya harus kembali melihat kondisi ibu saya, kebetulan ibu saya dirawat di sini juga" kata Zahirah


"Ah...maksudku ibu saya di rawat di rumah sakit ini juga..hehe" jawab Zahirah cegiran


"Haha..." ketawa Aditiya melihat muka polos Zahirah yang terlihat lucu


"Kalau begitu saya permisi dan terima kasih atas bantuanya pak Aditiya" kata Zahirah kesal


Bagaimana tidak kesal bukannya mendapatkan respon yang baik tapi Zahirah mendapatkan respon yang menyebalkan.


Aditiya bertambah tertawa melihat raut wajah Zahirah yang kesal. Zahirah berdiri dan terburu-buru keluar dari ruangan ini, ia tidak mau melihat wajah Aditiya yang menyebalkan itu .


Zahirah sudah keluar dari ruangan rawat adik aditiya dan aditiya sendiri masih tertawa melihat tingkah laku zahirah yang menurutnya lucu


"kaK..." panggil Widya

__ADS_1


Sebenarnya Widya sudah dari tadi melihat tingkah laku kakaknya, pas disaat dokter Henri datang. Widya merasa heran dengan apa yang lakukan kakaknya sekarang belum pernah melihat kakaknya khawitir dan senang secara bersamaan.


Aditiya merasa adiknya memanggilnya menoleh kearah sumber suara. "Iya..kamu sudah bangun" jawab Aditiya yang tidak lagi tertawa


Widya mengangguk "kak aku ingin pulang ya...saya tidak papa lagi kok" pinta widya


"Tidak Widya luka mu belum sembuh" kata Aditiya


"jadi kalau seminggu lukaku belum sembuh aku tetap disini begitu kak? " tanya Widya heran


"Hmm.." jawab Aditiya tidak memperhatikan adiknya, Aditiya memilih memperhatikan ponselnya untuk memeriksa laporan yang diberikan Aldi.


"Apa... yang benar saja jadi kalau lukaku tidak sembuh-sembuh saya selamanya di sini, yang seharusnya itu dirawat bukan aku tapi kamu kaK, otak mu itu yang harus diperiksa " batin Widya dengan menatap tajam kakaknya.


"Kak...boleh iya keluar hari ini, kalau tidak bisa keluar hari ini besok deh kak...ya...ya..ya.." kata Widya memohon.


"Tidak Widya kamu harus diperiksa lebih lanjut dulu, kata dokter Henri kau harus diperiksa terlebih dahulu sebelum diperbolehkan pulang " kata Aditiya tetap kekeh.


"Kurang ajar itu dokter Henri" guman Widya


"Saya dengar Widya " kata Aditiya tajam


"Hehe.....tapi kan kak saya juga calon dokter jadi saya tau betul dengan kondisi saya kak" kata Widya


"Jadi boleh ya saya pulang kak nanti deh saya berkomunikasi dengan dokter Henri " pinta Widya


Adiknya ini selalu saja ada jawaban dari pertanyaannya dan Aditiya yang harus mengalah


"Baiklah adikku sayang" kata Aditiya pasrah.

__ADS_1


__ADS_2