
Zahirah sedang duduk bersebelahan dengan Aditiya sedangkan Ningsih tertidur karna memang kondisinya belum pulih.
"Mas kenapa datang ke sini? " tanya Zahirah setelah memastikan Ningsih tertidur
"Aku ingin menemui" jawab Aditiya yang terterus memandang Zahirah dengan tatapan rindu.
Zahirah merasakan diperhatikan merasa malu, "Tapi-tapi kitakan bisa ketemu di rumah mas. " Zahirah tidak menyebutkan di rumah kita karna ia merasa tidak memiliki hak apapun baik hati maupun jiwa Aditiya, ia takut terlalu berharap kepada sosok yang ada dihadapannya ini.
Aditiya tersenyum melihat tingkah istrinya yang salah tingkah, "Iya, tapi saya ingin menjenguk sahabat istriku, " jawab Aditiya dengan nada lembut tidak lupa membenarkan rambut Xahirah yang menutupi wajahnya.
"Apa yang dilakukan mas Aditiya, aku harus bagaimana ini " batin Zahirah.
Muka Zahirah sudah mulai memerah, "Benarkah"
Aditiya hanya memganggukan kepalanya tapi matanya tetap memandangi Zahirah.
"Jadi mas tidak marah ya"
"Marah kenapa? " tanya Aditiya yang merasa bingung kenapa ia harus marah sama istri kecilnya ini.
"Karna saya tidak pernah pulang semenjak mas dinas keluar negri. " Zahirah menunduk kepala merasa bersalah.
Aditya tertawa kecil, menarik dagu istrinya dengan lembut mau tidak mau zahirah bertatapan dengan Aditiya. Tapi Zahirah cepat mengalihkan pandangaannya. Aditiya sudah tidak lagi tahan untuk mengecup bibir istrinya "cup" satu kecupan tanpa zahirah sadari.
__ADS_1
Zahirah membulatkan mata tidak percaya, apa yang ia dapatkan tiba-tiba sedangkan Aditiya melihat istrinya bertambah cantik apalagi melihat istri mengkedipkan matanya berapa kali.
"Mas...." suara protes Zahirah
"Apa" Aditiya seolah bertanya kalau yang ia lakukan adalah benar
"Apa yang mas lakukan? " tanya Zahirah
"Emang apa yang mas lakukan" goda Aditiya
"mampus kan senjata makan tuan. " batin Zahirah
"Coba katakan apa yang mas lakukan? " tanya aditiya
"Cup" aditiya kembali mencium bibir zahirah "Kayak gitu mas lakukan. "
Zahirah menunduk kepalanya dalam-dalam muka sudah merah hatinya berdetak kencang. Di dalam hati Zahirah menjerit ya Tuhan setuasi macam apa ini.
"Mas sudah makan," Zahirah mengalihkan pembicaran kalau dilanjutkan maka ia tidak tau bagaimana hatinya kedepan.
"Belum" Aditiya pura-pura padahal sebenarnya ia sudah makan sebelum berangkat kerumah sakit. Karna kalau ia telat makan maka Aldi akan selalu menanyainya dan itu membuatnya sakit kepala.
"Kenapa," raut wajah Zahirah khawatir "Padahal mas dari perjalanan jauh loh, jadi mas mau makan apa atau kita pergi makan saja di kantin yang ada di rumah sakit ini?" tanya Zahirah beruntun.
__ADS_1
Lagi-lagi Aditiya tersenyum, ia tidak pernah merasa nyaman dengan seseorang perempuan kecuali Adiknya. "Apa kau sudah makan? " Aditiya tidak menjawab pertanyaan zahirah.
"Ah...aku ya...belum mas, mungkin sebentar" jawab Zahirah.
Aditiya berdiri menarik tangan Zahirah, "Ehh....ehh..ehh..mas kita mau kemana? "tanya Zahirah heran.
Aditiya berjalan memegang tangan zahirah keluar dari dari ruang Ningsih. "Kekantin," jawab Aditiya dingin.
Zahirah merasa kebigungan bertanya lagi "Untuk?"
Aditya sudah kesal, "Makan jangan banyak tanya ikuti saja perintahku! " ucap alAditiya dingin.
Akhirnya Zahirah menutup mulut dan berjalan menundukan kepalanya, sepanjang perjalanan kekantin semua mata tertuju pada aditiya dan Zahirah. bagaimana tidak karna semua kariyawan yang ada dirumah sakit ini mengetahui sosok Aditiya dan sekarang ia mengandeng seseorang perempuan.
Zahirah merasa diliati semua orang, ingin melepaskan tangannya namun ia tidak bisa karna semakin ia ingin melepaskan tangannya dari Aditiya, Aditya semakin menahan hingga merasakan sakit di pergelangan tangan tapi ia takut mengeluh. Takut membuat Aditiya tambah marah, akhirnya ia pasrah.
Aditiya kesal karna kenapa istrinya selalu mementing orang lain, di bandingkan dirinya waktu Ningsih ingin dioperasi Zahirah tidak mementingkan dirinya dan sekarang Zahirah menanyakan apakah ia sudah makan atau belum sedangkan istrinya sendiri belum makan.
Di belakang ada Aldi memperhatikan tuannya, akhir Aldi mengerti kenapa tuannya tidak mau kekantor langsung melahan ia ingin langsung kerumah sakit. Di perjalan Aldi bertanya kenapa tuannya bersikap tidak seperti biasanya sepenting apapun urusan kecuali urusan adik aditiya pasti dia akan singgah keperusahaannya.
"Akhirinya tuan mendapatkan perempuan yang bisa membuat tuan merasakan nyaman dan cinta" ucap Aldi dengan menatap tuannya berjalan jauh
"Siap-siap tuan akan mendapatkan virus bucin" Aldi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1