
Zahirah sangat senang mendengar bahwa ia mendapatkan keringanan dari pihak rumah sakit
"Benarkah pak saya dapat melakukan operasi saudara saya tanpa membayar operasi " kata Zahirah semangat
Aldi menganggukan kepalanya " Tapi dengan satu syarat " kata Aldi dengan penekanan
Zahirah berpikir syarat seperti apa yang akan ia lakukan untuk menganti biaya operasinya sahabatnya, Zahirah melirik kearah laki-laki dihadapannya dengan tatapan bingung dan memulai pikiran yang tidak-tidak "Apakah dia aka menjualku kepada om-om hidung belang atau dia akan mengirimku keluar negri menjadi Tkw " batin Zahirah
Aldi yang sudah dari tadi menahan sabar untuk mendapatkan jawaban dari perempaun yang ingin dinikahi oleh tuannya, sudah tidak tahan lagi Apalagi dia tau apa yang dipikirkan perempuan dihadapannya ini.
"Apakah anda sudah berpikir, waktu saya tidak banyak ibu " kata Aldi dingin
"Apakah saya boleh menolak" kata Zahirah
"Tentu saja tapi nyawa saudara ibu ada ditangan anda semakin anda lama berpikir maka nyawa saudara anda tidak tertolongkan" kata lagi penuh intimidasi
Zahirah tidak bisa berpikir berpanjang lagi persetan satu syarat itu. Sekarang yang harus diutamakan adalah nyawa sahabatnya, asalkan bisa meyelamatkan nyawa Ningsih apapun ia lakukan untuk menyelamat nyawa Ningsih. Tanpa berpikir lagi zlZahirah mendatangi kertas kosong yang ia tidak tau apa isinya nanti.
Di dalam hati Aldi bersorak ria masalah yang membuatnya pusing akhir-akhir ini akhirnya terselsaikan juga tanpa harus mengotori tangannnya.
__ADS_1
"Saya sudah tanda tangan jadi tolong selamatkan saudara saya pak, " kata Zahirah lemah
"Sudah dari tadi tim dokter melakukan operasi, " kata Aldi
"Kalau begitu saya permisi dulu saya menunggu operasi saudaraku" jawab Zahirah tapi sebelum ingin melangkah keluar
"Mau kemana anda urusan kita belum selesai" kata Aldi dingin
"Tapi..."
"Saya akan menjamin bahwa saudara ditanggani oleh dokter yang handal,"
Zahirah mendesah " Baiklah jadi apa kita akan bahas, "
Zahirah memukul jidatnya sampai lupa dengan persyaratan itu kenapa kalau keadaan panik dia tidak pernah berpikir panjang.
"Jadi apa syaratnya pak? " tanya Zahirah
Aldi tidak menjawab pertanyaannya tapi malah menyuruh Zahirah menunggu " Tunggu sebentar masih ada orang ingin bergabung "
__ADS_1
"Tapi pak saya tidak bisa menunggu disini pak, bolehkah saya pergi sebentar lagi saya kembali jika operasi saudaraku selesai" Tanya zahirah
"Tidak boleh anda harus menunggu...."
Aldi tidak menlanjutkan kata-katanya karna yang ditunggu sudah datang.
Aldi berdiri dari tempat duduknya "Tuan " sapa Aldi pada aditiya
Aditiya sudah mengetahui pokok permasalahannya dan ketika aditiya masuk keruangan ini ia melihat sosok perempuan yang selalu menganggu hatinya apalagi saat melihat, kondisi Zahirah sangat berantakan ditambah baju penuh dengan noda darah. Aditiya memberikan tatapan yang tajam kepada Aldi.
"Mampus aku kenapa juga aku tidak memberikan nona Zahirah bersih-bersih setidaknya ganti bajulah...tamatlah riwayatku kalau begini" batin Aldi yang mengutuk dirinya sendiri karna ingin cepat menyelesaikan masalah ini. Aldi tidak berpikir panjang ketika berhasil mendapatkan tanda tangan zahirah langsung memberi tahu Aditiya bahwa misinya berhasil.
Zahirah kaget melihat siapa laki-laki dihadapannya saat ini, Zahirah melihat dirinya sendiri betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Kenapa disaat ia susah payah menutupi keadaannya yang menyedihkan kepada semua orang tapi dia tidak bisa menghindar dari pria satu ini akan selalu mendapatkan dirinya terlihat menyedihkan.
Zahirah sudah meremas ujung baju akar tetap tegar walau kenyataan tidak dan berusaha bersikap seperti biasa.
"Sore pak " kata Zahirah memasakan senyumannya
Aditiya duduk tanpa menjawab sapaan Zahirah tapi tetap menatap Zahirah yang susah artikan, ia melirik Aldi lagi tapi kali lirikan Aditiya sangat tajam. Aldi memgetahui bahwa tuannya ini sedang marah, jadi berinisinatif memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Ibu Zahirah perkenalakan ini pak Adtiya" Zahirah ingin mengulurkan tangan tapi tidak jadi karna melihat tangannya penuh dengan bekas darah dan Aditiya melihat itu semua.
Lagi-lagi Aldi mendapatkan tatapan tajam setajam silet di dalam hati Aldi " Mampus gue, gue baru pertama kali mendapatkan tatapan mengerikan, ya Tuhan selamat aku dari murkanya tuan Aditiya. "