
"Mas" Zahirah berlari kearah suaminya pulang
"Hati-hati " tegur Aditiya.
Zahirah berlari dengan senyuman dibibirnya, ia bahagia karna sudah mendapatkan kabar dari Ningsih. Zahirah mengirah Ningsih akan marah besar dengannya tapi tak disangka Zahirah mendapatkan pesan kalau Ningsih juga turut bahagia atas pernikahannya.
Aditiya memeluk istrinya "Senang yah" Zahirah menganggukkan kepalanya "Kelihatan yah" merengkan pelukannya dan mendongkakkan kepalanya. "Iyalah, bibir ini tidak mau berhenti tersenyum" tunjuk Aditiya "aku jadi ingin menciumnya" Zahirah menutup matanya "kau mau apa" zahirah membuka matanya (iya aku mau apa yah) batinnya. "Kau sedang mau dicium yah" goda Aditiya "Ehh tidak mas" wajah Zahirah sudah memerah.
Zahirah berusaha tidak menatap Aditiya, tapi tak bisa karna sudah ditahan oleh Aditiya "Muah..muah..muah" cium Aditiya, ia selalu senang kalau melihat wajah istrinya yang salah tingkah.
Zahirah sedang menunggu suaminya berganti pakaian sambil membaca kembali pesan dari Ningsih, ada kata-kata ningsih yang membuatnya tidak mengerti "kalau kau bahagia akan juga bahagia" itu pesan Ningsih.
Tapi Zahirah tidak ingin berpikir negatif. Zahirah sekarang sudah bahagia karna sudah mendapat sosok laki-laki yang selalu membuatnya bahagia.
__ADS_1
Aditiya keluar dengan pakaian tidurnya "sedang membaca apa " Berjalan menuju istrinya. Zahirah berbalik kearah Aditiya dan memanggilnya duduk disampingnya.
"Sedang baca apa sih" sekarang Aditiya duduk di samping istrinya dan memeluknya kepalanya bersandar dibahu istrinya
"Aku sedang membaca pesan dari Ningsih mas." Memperliatkan isi pesan Ningsih,
Aditiya mengambil ponsel istrinya bukannya membaca pesan dari ningsih justru melempar ponsel istrinya kebelakang untung kasurnya besar kalau tidak ponsel Zahirah dipastikan jatuh kelantai.
"Mas...ihh.." tegur Zahirah bisa tidak kalau ada yang ia lakukan tidak seenaknya.
"Ehhh tidak kok" takut melihat mata suaminya
"Memang sangat penting yah Ningsih bagimu" tunjuk Aditiya kedada Zahirah.
__ADS_1
Aditiya sudah lama ingin menanyakan ini tapi tidak ada kesempatan baginya. Kalau bersama istrinya itu hanya untuknya. Tapi kenapa semenjak Zahirah mengetahui kalau Ningsih sedang bekerja diperusahaannya tiada hari tanpa menanyaakan kabar Ningsih. Terkadang Aditiya malas menjawab pertanyaan istrinya tapi setelahnya, Aditiya juga yang menyesal karna mendapatkan istrinya tidak banyak cerita atau murung. Aditiya pernah berpikir apakah istrinya ini tidak mencintainya tapi ia sudah mendengar ungkapan cinta istrinya atau ungkapan cintanya itu hanya pura-pura hanya untuk membahagiakannya.
"Loh kok bertanya begitu mas" tidak enak karna sudah membicarakn hal-hal yang sensitif
"Aku hanya penasaran sayang" merapikan rambut Zahirah "Terkadang aku kesal karna setiap hari kau menanyakan tentang Ningsih "
"Kenapa kesal aku hanya menanyakan perempuan bukan la...." belum sempat Zahirah melanjutkan bicaranya Aditiya lansung menciumnya sampai kehabisan nafas "Mas....." ongos-ongosan.
"Aku tidak suka yah kalau kau menyebut laki-laki selain diriku."
"Eh....kok jadi marah aku kan cuma mau menyebut sesama jenis mu. " batin Zahirah
"Kan bukan namanya cuma mau bilang la..." tidak jadi lagi melanjutkan perkataanya "Baiklah aku mengerti " Zahirah menyerah kali ini ciuman lebih lama dari pada sebelumnya sampai bibirnya bengkak.
__ADS_1
"Begitukan lebih bagus" mengusap bibir istrinya yang membengkak akibat ulahnya Aditiya sedikit menyesal atas perbuatannya. Ia tidak tau kenapa ia sangat kesal ketika mendengar kata laki-laki keluar dari mulut istrinya ini baru saja laki-laki apalagi menyebutkan nama laki-laki memikirkannya saja sudah membuatnya sangat marah.