HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 68


__ADS_3

Ningsih mendengar semua perkataan Aditiya. hatinya saat ini seperti kaca yang pecah yang tidak mungkin kembali utuh lagi.


Ningsih mengkuatkan hatinya berjalan kearah ruang tamu di mana ada tasnya dan Aditiya. Ningsih merasa tasnya sangat jauh tapi ia harus meninggal rumah ini secepatnya kalau tidak semuanya akan mengetahui perasaannya.


"Kenapa turun? " tanya aditiya


Ningsih mengcengram celana kerjanya "aku mau pulang pak, saya baru ingat ada pernikahan teman kerja pak"


kebetulan ada teman kerja Ningsih menikah hari ini, Ningsih bisa beralasan.


"Pak saya minta tolong, kalau Zahirah mencari saya katakan padanya kalau saya pulang karna urusan mendadak. Pak tau sendirikan bagaimana Zahirah" aditiya menganggukan kepalanya


"kalau begitu saya permisi dulu pak " Ningsih berlari keluar cepat ingin meninggalkan rumah ini.


Hatinya saat ini hanya dia tau bagaimana sakitnya. Mencintai seseorang yang menganggapnya sebagai adik saja. Pernah Ningsih terbesit dihatinya kalau ia tidak apa-apa bila dijadikan kedua atau dijadikan simpanan tak mengapa yang penting cintanya terbalas terserah orang mau bilang apa tentangnya asalkan rasa cintanya terwujud. Tapi setelah mendengar perkataan Aditiya yang menganggapnya adik dan hanya untuk membahagiakan istrinya.


"Mas" teriak Zahirah


Aditiya yang sedang membahas pekerjaan dengan Aldi terlonjak kaget "Ada apa sayang " mengatur napas akibat lari


"Ningsih di mana " Khawatir "Ningsih tidak pernah pulang sebelum memberitahuku mas " memeluk suaminya.


"Ningsih buru-buru pulang karna ada urusan mendadak" menyampaikan alasan Ningsih


zahirah mengdongkak kepalanya


"Benarkah" aditiya mengnggukan kepalanya.

__ADS_1


"Benarkah, Ningsih pulang karna urusan mendadak bukan karna marah?" tanya Zahirah memastikan


"Benar sayang, katanya Ningsih ada pernikahan teman di ruangan kerjanya" membelai kepala istrinya


"Kenapa wajahmu pucat, kau sudah makankan" Zahirah tersenyum


"Di tanya sayang bukan di suruh senyum," mencium istrinya


"Mas menunduk aku ingin membisikkan sesuatu "


Aditiya menundukkan badanya agar sejajar dengan istrinya


"Kapan sih kau tinggi "


"Ihhh mas...." meninggalkan suaminya.


Aditiya menarik kembali istrinya "Bercanda sayang"


Zahirah mendekatkan bibirnya ketelinga suaminya


"Aku hamil"


Aditiya tertawa tak percaya "Kau hanya ingin membuat mas bahagiakan" memeluk istrinya erat ia berharap kalau itu kenyataan


"Beneran mas" mengambil tangan suaminya memberikan tes kehamilan dan meletakkan tangan Aditiya diperutnya


"disini ada anak kita " tersenyum bahagia.

__ADS_1


Aditiya tertawa lagi tapi tawanya kali ini berbeda "terima kasih sayang..aku sangat mecintaimu"


mencium istrinya "Terima kasih yah ini adalah kado yang terindah bagiku"


Zahirah membulatkan matanya "Hari ini mas ulang tahun " Aditiya menganggukan kepalanya


"Jahat" memukul dada suaminya


"Sakit sayang" mengambil tangan istri dan menciumnya


"Sakit yah.... maaf.. maaf... maaf" bertingkah berlebihan padahal aditiya bercanda


"Hei.... bercanda sayang" kenapa istrinya selalu saja bertingkah berlebihan


"Kau tidak apa-apa" melihat istrinya berkeringat


"Aku baik-baik saja mas" menenangkan suaminya padahal ia juga berusaha menangkan dirinya yang hampir hilang kendali


"Tapi wajahmu pucat sekali, aku telpon dokter Henri yah" meraih hpnya yang berada di meja


"Ehhh.. tidak usah.. aku pucat karna belum makan...hehehe...maaf" memegang kedua terilganya


Aditiya menarik napas yang tadinya ingin marah tidak jadi karna melihat tingkah lucu istrinya.


"Dimaafkan lain kali jangan di ulang lagi yah dan di sini " mengusap perut istrinya "Ada anak kita, yang harus kita jaga jadi ibunya harus sehat selalu."


"Baiklah mas ku sayang" memeluk suaminya.

__ADS_1


Zahirah sangat bersyukur dengan hadiah diberikan Tuhan. Bersyukur karna memiliki suaminya yang mengerti dirinya dan sekarang diberikan anak yang masih ada di dalam perutnya.


"Aku sangat-sangat-sangat memcintaimu mas" memcium pipi suaminya sangat lama. Aditiya hanya tertawa bahagia ia tidak pernah sebahagia ini.


__ADS_2