
Aditiya memeluk erat tubuh istrinya, ia merasa frustasi di saat istrinya dalam keadaan tidak berdaya.
"Sayang berhentilah menyakiti dirimu, kau menyakitiku juga, " Aditiya memohon agar Zahirah mendengarkannya.
Zahirah merasa sesak ia melihat darah di baju seseorang mendorongnya dengan keras menjauh darinya.
"Apakah yang aku meyakiti suamiku lagi... apakah kali ini sangat fatal" batinya
Aditiya di dorong keras terkejut "Sayang kau harus di obati, " ucap Aditiya lembut.
Zahirah tidak tau kalau ia yang sedang terluka, pikiran Zahirah lagi-lagi menyakiti suaminya orang selalu menjaga, orang yang selalu menghiburnya dan selalu meneruti kemauannya tapi yang ia perbuat hanya rasa sakit yang ia berikan pada suaminya.
"Mas....." Zahirah menatap koas putih suaminya yang ada darahnya.
"Maafkan aku.... aku selalu menyakitimu... aku selalu membuatmu khawatir mas... apa yang harus kulakukan jika terus begini bisa-bisa aku membunuhmu....." Zahirah menatap suaminya dengan keadaan yang tak berdaya.
"Sayang aku tidak apa-apa... kau yang terluka. " Aditiya membuka baju memperlihatkan bahwa ia sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Zahirah melihat kalau suaminya baik-baik saja
"Syukurlah" Zahirah pingsan
Aditiya mengangkat Zahirah ketempat tidur dan menelpon perawat yang sudah ada ketika kejadian Aditiya malam itu.
Setelah perawat mengobati luka Zahirah. Aditiya memeluk istrinya dari samping sambil memgusap perut istrinya yang sudah membuncit,
"Nak kau harus kuat... kau harus bertahan demi ibu.... kau harus mengerti keadaan ibu sekarang... maafkan ibumu jika ibumu tidak terlalu memperhatikanmu karna saat ini ibumu sedang tidak baik-baik saja nak" ucap Aditiya lemah.
Terkadang tidak menampakkan, kalau ia sedang sakit tapi kalau penyakitnya datang istrinya tidak mengenal siapa yang ada di sekitarnya tapi setelah istrinya sadar dia mengingat semua apa yang dia lakukan dan akan menyalahkan dirinya terus menerus. Aditiya sampai sekarang belum bisa mengajak istrinya berbicara apa yang membuat istrinya sampai trauma bukan Aditiya tidak ingin tapi ketika aditiya mencobanya istrinya pasti mengalihkannya.
Aditiya terus menerus mengelus-elus perut istrinya tak lupa mencium kepala istrinya. Aditiya tidak bisa tidur padahal ia harus pergi kekantor besok untuk menyelesaikan masalah proyek di kota A.
Zahirah menggeliat merasakan perutnya di usap, air mata Zahirah mengengalir ia sudah membahayakan dua orang yang sangat dicintainya. Zahirah merasa sangat bersalah terhadap anak yang dikandungnya karna kurang memperhatikannya dan lebih merasa bersalah terhadap suaminya karna ia selalu membuat suaminya khawatir dan selalu menambah masalah.
"Maafkan aku mas..." ucap Zahirah lemah sampai tak terdengar Aditiya, jika saja Aditiya tidak menyadari istrinya terbangun.
__ADS_1
"Kau sudah bangun" zahirah menganggukan kepalanya
"Makan yah kasihan dede bayinya belum makan " Zahirah hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Aditya bangun mengambil makanan yang sudah disiapkan tadi oleh kepala pelayan. Aditiya menyuapkan makanan untuk istrinya.
Selesai makan, zahirah bersandar di dada suaminya "Mas tidak marah "
"kau ingin kata jujur dari mas, " Zahirah mengangguk
"Mas marah sayang. " ucap Aditiya putus asa.
"Maafkan aku mas " hanya itu yang bisa dilakukan Zahirah hanya minta maaf.
"Aku marah karna kau selalu menyakiti dirimu sayang.... aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja tapi kumohon jangan menyakiti dirimu sayang... aku merasa orang yang tak berguna ketika kau menyakiti dirimu sayang. " Ucap Aditiya memohon.
"Maaf mas...." Zahirah sebenarnya tidak ingin menyakiti dirinya tapi ia lakukan tidak menyadari kalau itu bisa menyakiti dirinya atau orang lain.
__ADS_1