HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 34


__ADS_3

Aditiya memperhatikan pergelangan tangan Zahirah, ia menyesal atas perbuatannya tangan istrinya terluka.


Aditiya tipe orang yang jarang marah tapi sekali ia marah maka ia tidak bisa mengkontrol emosinya tapi kenapa ia terselut emosi cuman istrinya belum makan, ini aneh menurutnya ia tidak pernah berada dikeadaaan yang sepele ini yang bisa membuatnya marah.


Aditiya memegang pergelanggan tangan Zahirah "Apa ini sakit? " tanya Aditiya


Zahirah tersenyum, "Tidak mas, aku baik-baik saja" Zahirah memegang tangan suaminya memberitahu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Aditiya tetap saja khawatir " Di mana dokter Henri"


"Saya sudah dari tadi di sini Aditiya" jawab dokter Henri


"clCoba kau liat pergelangan tangan istriku."


"Apa-apaan ini cuma pergelangan istrinya ia sampai-sampai mau memotong donasinya 1%. Ini sungguh luar biasa, ini pasti kerjaan Aldi" batin dokter Henri menatap kesal Aldi ingin rasanya ia memukul kepala Aldi. Aldi merasa ditatap tidak memperdulikan dokter Henri yang sedang kesal.


Dokter Henri sedang memeriksa pergelangan Zahirah, sementara Zahirah tertunduk malu ia tidak pernah diperlakukan seperti hanya karna ia sedang terluka kecil.


"Kamu keasyikkan ya memegang tangan istriku" Aditiya sedang menatap tajam tangan dokter Henri yang sedang memegang tangan Zahirah


dokter Henri melepaskannya "Eh. Tidak kok, aku hanya memeriksanya"


"Banyak alasan."

__ADS_1


Dokter Henri tersenyum "jangan membangkit singah yang sudah tertidur lama Henri" batin dokter Henri.


"Pergelangan tangan istrimu tidak apa-apa, kalau dioleskan dengan salep, merah pergelangannya akan beransur menghilang. nanti saya akan memberikan salepnya ke Aldi"


Aditiya hanya menganggukan kepalanya "kembali keasalmu emang kamu kurang kerjaan ya.."


"Hehe...saya banyak kerjaan Aditiya yang terhormat." Kalau saja dokter Henri bisa marah ia akan memarahi Aditiya seperti seorang ibu memarahi anaknya tapi ia tak berdaya terpaksa ia hanya bisa tersenyum sangat manis.


Zahirah melewati lorong kamar di mana Ningsih dirawat "Mas kita kelewatan"


Aditiya hanya menjawab hmmm..


Zahirah berhenti, ia tidak bisa meninggal Ningsih seorang diri.


Aditiya mendesah melihat istrinya, ia tau kalau istrinya itu tidak bisa meninggalkan sahabatnya tapi ia tidak ingin melihat istri tidur disofa walaupun nyaman untuk ditiduri untuk ukuran seperti istrinya.


Aditya menghampiri istrinya "Ada apa?" tanyanya lembut


"Kita mau kemana mas, bukankah kita akan kembali kekamar Ningsih"


"Pulang Ra, sudah berapa hari ini kau tidak pernah pulang kerumah"


"Tapi mas Ningsih tidak ada yang menemaninya mas"

__ADS_1


Aditiya mendesah selalu saja begini.


"Maafkan saya mas tapi untuk kali ini saja, sampai Ningsih bisa diperbolehkan pulang" Zahirah menatap kedua mata aditya dengan tatapan memohon.


Aditya mana bisa tahan melihat tatapan ini, tatapan yang membawanya kepernikahan dengan Zahirah.


"Baiklah" Aditya pasrah


Zahirah memeluk suaminya saking senangnya, Aditiya tersentak dan juga senang mendapatkan pelukkan hangat.


Aditya membalas pelukkan istrinya sekarang Zahirah yang tersentak "Apa yang kulakukan, kenapa aku jadi nekat begini, bagaimana kalau mas Aditiya marah tapi ia membalas pelukanku. apa mas Aditiya mulai menyukaiku" Zahirah tersenyum di dalam pelukan suaminya.


"Baiklah saya akan mengizinkan mu tapi dengan syarat aku harus menemani mu"


Zahirah melepaskan pelukannya dan dongkakan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Aditiya ,"Tapi nanti Ningsih bertanya dan saya harus menjawab apa."


"Jawab saja aku suamimu, gampangkan" sifat semaunya mulai muncul.


"Tidak semudah itu mas, saya tau bagaimana sifatnya Ningsih mas "


"Jadi bagaimana" muka Aditiya seolah tidak bersalah.


Kan menjengkelkan "Mas pulang aja iya, nanti kita ketemu " Zahirah memberi pengertian

__ADS_1


"Kalau kau tidak pulang saya pun tidak akan pulang."


__ADS_2