HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 13


__ADS_3

Zahirah duduk disamping diranjang ibunya yang sedang berbaring lemah. Zahirah mengambil tangan ibunya dan membawa kepipinya


"Ibu...kumohon bertahanlah demi aku, aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini kalau ibu meninggalkan Zahirah, apa yang harus kulakukan tanpa ibu, semangat hidupku hanya bertumpuh padamu ibu, jadi kumohon bertahanlah ibu..." kata Zahirah yang memilukan.


Perlahan-lahan ibu Zahirah mulai sadar dia melihat anak satu-satunya, sedang tertidur dengan memegang tangannya. Zahra tersenyum dan bersyukur melihat anaknya selalu ada untuknya. Zahra sebenaranya mendengarkan apa yang diucapakan Zahirah dan itu membuat hatinya terasa teriris tapi sungguh Zahra tidak bisa menahan rasa sakit pada rahimnya, dia tidak kuat lagi bertahan.


Zahrah melepaskan tangan dari genggaman, Zahirah dengan perlahan agar tidak menganggu tidur anaknya.


Zahrah mengulus-ulus kepala Zahirah dengan sayang dan berkata " Maafkan ibu Zahirah tapi sesungguhnya ibu tidak kuat lagi menahannya, ibu bertahan sampai sekarang hanya untukmu dan melihatmu mendapatkan seseorang bisa menyayangimu dan mencintaimu dengan tulus tapi ibu sudah tidak bisa melihat itu lagi, kau harus bertahan nak, ibu yakin suatu saat nanti kau akan merasa kebahagiaan, sekali lagi maafkan ibu harus meninggalkanmu Zahirah." ucap Zahra dengan beruraian air mata dipipinya ini menyakitkannya


"IBU ! " bentak Zahirah


Zahrah kaget mendengar bentakan anaknya, Zahirah mendengar semua ucapn ibunya, untung diruangan pasien tinggal mereka berdua karna pasien yang tadinya dirawat ruangan bersama ibunya sudah diperbolehkan pulang jadi tidak ada yang mendengarkan teriakkan zahirah.


"Ibu....kumohon....ibu...jangan berkata seperti itu ibu dan jangan tinggalkan Zahirah sendirian cukup ayah meninggalkan zahirah ibu..."kata Zahirah menyayat hati air matanya sudah mengalir deras

__ADS_1


"Maafkan ibu Zahirah, apakah kamu tidak kasihan melihat ibu kesakitan, saya sudah lelah Zahirah, izinkan ibu pergi ya...Zahirah, kamu masih ada Ningsih yang bisa menamanimu jadi kumohon ikhlas ibu Zahirah kalau kau terus begini ibu tidak akan tenang Zahirah" jawab Zahrah yang tak kala memilukan hatinya sakit harus berkata demikian tapi lebih sakit lagi memberi harapan anaknya itu.


Zahirah hanya mengelengkan kepala, Zahirah tidak sanggup berkata lagi, Zahirah ingin ibunya bertahan untuknya dan untuk Ningsih tapi ibunya sudah tidak bisa lagi jadi apa harus Zahirah lakukan apakah Zahirah harus mengikhlas ibunya, ya...Tuhan Zahirah tidak sanggup menerima kenyataan seperti lagi.


"Zahirah nak kamu mendengarkan ibukan? " tanya Zahrah dengan lemah


Zahrah merasakan bahwa perut sedang ditusuk pisau berkali-kali tapi segala tenaga ia tahan untuk tidak terlihat anaknya.


"ibu......kumohon....ya...." hanya itu yang bisa diucapkan zahirah, suaranya tidak bisa lagi keluar diakibatkan terlalu lama menangis


Zahirah berlari keluar mencari toilet untuk melepaskan sesak didadanya. Zahirah tidak ingin memperlihat ibunya bahwa trauma yang dianggap ibunya sudah sembuh ternyata belum sembuh malahan tambah parah, karna truama ini sudah bisa menyakiti orang sekitarnya jadi Zahirah harus sendiri untuk menyelesaikannya.


Sampailah Zahirah ditoilet yang berada diujung ruangan yang kurang dilewati orang, Zahirah duduk dilantai memeluk lututnya dan membentur-benturkan kepalanya


"Maafkan Zahirah ibu, Zahirah tidak bisa menjaga ibu dengan baik, Zahirah......"

__ADS_1


Zahirah tidak bisa melanjut kata-katanya karna merasa ingin muntah, zahirah merangak menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


Di luar toilet Aditiya sedang berjalan ingin kembali kekantor tapi tak sengaja mendengar seseorang menangis, Aditiya tidak ingin memperdulikan tapi mendengar isakan seseorang yang ada didalam toilet tidak dalam keadaan baik-baik saja seakan-akan meminta pertolongan.


Terpaksa Aditya memutar langkah kakinya menuju toilet, dibukanya pelan pintu toilet Aditiya sangat terkejut melihat seorang perempuan dalam keadaan yang tidak baik, perempuan itu sedang memuluk lututnya dan wajahnya membenturkan dilututnya dan meracau yang tidak jelas.


Aditiya segera menghampiri perempuan yang sedang menyakiti dirinya lambat-lambat Aditiya mendengar perkataan perempuan itu.


"Maafkan saya..." hanya itu yang terulang-ulang


"Hey....apakah kamu baik-baik saja? " tanya Aditiya


Aditiya belum mengetahui kalau perempuan itu adalah perempuan yang dilihat dikampus dan akhir-akhir ini selalu mengisi kepala.


Zahirah tidak mengetahui kalau ada laki-laki sedang berjongkok dihadapan, Zahirah hanya sibuk menyalahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2