
" Kamu sudah selesai? " tanya Aditiya
" Sudah tuan, " jawab Zahirah
" Kalau begitu sampai bertemu besok dirumah " kata Aditiya dingin
" Tapi tuan, saya tidak tau alamat tuan " kata Zahirah
" Nanti aldi akan menjemput "kata Aditiya melainkan perintah
" Dan satu lagi kamu tidak perlu memanggil saya sebutan pak atau tuan kau bisa panggil nama saya " kata Aditiya
" Baiklah tuan eh maksud saya Adit " kata Zahirah terbata.
Aditiya merasakan getaran dihatinya ketika panggilan itu sudah lama ia tidak dengar, panggilan itu yang selalu ayahnya sebut dikala ayahnya memanggilnya. Panggilan yang selalu Aditiya rindukan.
Aditiya tidak menyadari bahwa bibirnya terangkat keatas sedikit hampir tidak kelihatan.
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi Adit dan terima kasih atas pakaian bersihnya " pamit Zahirah dan membungkukan badannya sedikit sebagai tanda terima kasih atas pakaian ia pakai. Aditiya tidak menjawab apapun hanya menganggukan kepalanya.
Setelah Zahirah keluar dari ruangan. Aditiya kini sendiri belum ingin beranjak dari duduknya, ia merasakan sesuatu dihatinya yang susah diartikan oleh akal sehatnya.
Aditiya masih saja tetap betah tinggal diruangan ini, dan mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, ia mengingat betapa kagetnya ahirah ketika melihat dirinya begitupun dengan dirinya. Aditiya kaget ketika melihat kondisi Zahirah, di mana bajunya penuh dengan noda darah dan tangan belum sempat Zahirah cuci jangan lupa dengan wajah yang sangat lelah.
Aaditiya tidak pernah lupa apa tujuan untuk menikahi Zahirah, selain menepati janjinya kepada adiknya tapi yang lebih utama adalah Aditiya merasa iba melihat kondisi Zahirah. Aditiya tidak bisa melihat Zahirah menangis pada waktu itu pada saat Zahirah tidak sadar ingin memotong pergelangan tangannya, untung saja ia tepat waktu. Aditiya benci melihat Zahirah menangis dalam keadaan seperti itu lagi.
Lama merenung Aditiya dikagetkan seseorang masuk tanpa permisi siapa lagi kalau bukan direktur rumah sakit ini.
" Apa yang kau lakukan disini? " tanya Aditiya
" Apakah kau kurang kerjaan atau kau sudah bosan dengan posisimu? " tanya Aditiya dibandingkan menjawab pertanya Henri, Aditiya memilih bertanya lain.
Dokter Henri kesal mendengar pertanyaan Aditiya, ia tau bahwa ia pemilik rumah sakit ini, tapi yang menopang rumah sakit yang dikelolahnya tetap menjadi rumah sakit terbaik dikota ini adalah Aditiya. Jadi kapanpun Aditiya berhenti mendanai rumah sakit ini akan hancur dalam sekejap mata.
" Haha...bukan begitu maksudku, aku sibuk malah sangat sibuk tapi aku ditelpon oleh seorang pengawai yang berkerja di ruangan ini kalau kau sedang berada rungan ini" jawab dokter Henri dengan menampilkan senyum manisnya
__ADS_1
" Terus kalau kau sudah tau kalau aku disini apa yang ingin kau lakukan? " tanya Aditiya
" Tidak ada sih, cuman saya sangat penasaran runganku saja kau tidak pernah datangi padahal ruangan kerjaku jauh lebih bagus loh " kata dokter henri yang pura-pura menampilkan muka sedihnya
" Ruangan kerjamu tidak penting " jawab Aditiya semaunya
Ingin rasanya dokter henri berteriak dasar laki-laki yang tidak berpersaan.
Aditiya sudah berdiri ingin meninggalkan tapi cengah oleh dokter Henri " Tunggu dulu Aditiya jawab dulu pertanyaanku " kata doker Henri
"Nanti juga kau tau " bukannya menjawab dengan benar Aditiiya malah memberikan jawaban yang tabu.
" Kelolah baik-baik rumah sakit ini kalau saya mendengar sesuatu yang tidak beres rumah sakit ini, kau tahu apa resikonya " perintah Aditiya
" Baiklah...baiklah saya akan bekerja keras " jawab dokter Henri cepat, kalau sudah pembahasan seperti ini dokter Henri mulai takut.
" Hmm....ingat pesanku " kata Aditiya lagi
__ADS_1
Dokter Henri diam tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepala dan tersenyum manis.
" Yang punya rumah sakit siapa yang memerintah siapa...nasib-nasib " batin dokter Henri.