HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 76


__ADS_3

Aditiya dan Zahirah sudah berada di rumah sakit menunggu hasil akhir pemeriksaan Ningsih. Zahirah hanya diam duduk dan kepalanya bersandar di bahu suaminya. Aditiya ingin berdiri menghampiri dokter yang keluar dari IGD di tahan oleh istrinya. Zahirah menatap suaminya yang ingin pergi dengan mata yang berkaca-kaca dan mengelengkan kepalanya.


Aditiya menarik napas panjang, sejak tadi istrinya ini hanya diam dan kalau ia ingin meninggalkan istrinya. Istrinya akan menahannya tapi tidak menggeluarkan kata-kata yang membuat Aditiya takut. Aditiya tidak tau bagaimana perasaan istrinya saat ini tapi jika Aditiya bertanya kau baik-baik saja sayang zahirah hanya menganggukan kepala dan tersenyum.


"Mas tidak akan kemana-kemana, mas hanya ingin menghampiri dokter yang menanggani Ningsih, " beritahu istrinya lembut tapi istrinya justru berucap.


"Ayo pulang mas.. aku capek.."


Zahirah tidak ingin mendengar penjelasan dokter sudah cukup baginya melihat ningsih dalam keadaan menggerikan tadi jika harus lagi mendengar perkataan yang tidak enak maka pertahan zahirah akan benar-benar runtuh. Jadi Zahirah memilih untuk pulang. Zahirah betul-betul sangat lelah.


"Kau tidak ingin mendengar penjelasan dokter" Zahirah mengangguk


"Baiklah... tapi jika kita pulang maka kita tidak akan melihat Ningsih untuk terakhir kalinya " beritahu istrinya bahwa Ningsih akan dimakan.


Zahirah mengatur napasnya panjang, "Kau baik-baik saja sayang... kalau kau tidak sanggup baik kita akan pulang "


Zahirah mengelengkan kepalanya Zahirah memeluk suaminya "aku ingin melihat Ningsih terkahir kalinya mas, " ucapnya sangat lemah.


Aditiya mengusap punggung istrinya "kau bisa berjalan sendiri mau kuambilkan kursi roda atau kau ingin kugendong" ucap tersenyum


"mas....." kesal Zahirah.

__ADS_1


Di dalam hati Aditiya bersyukur karna istrinya masih kesal jika ia mengodanya. Aditiya takut kalau istrinya akan menjadi pendiam sepinggalan Ningsih


"Tapi kau harus pakai kursi roda sayang, ingat kau sedang hamilkan" Aditiya mengusap perut istrinya yang mulai membuncit


"Iya tapi aku tidak ingin di gendong oleh mas" ucapnya cemburut


"Kenapa kalau digendong dengan mas kau bisa bersandar di bahu yang gagah ini" Aditiya memberi kode Aldi untuk mengambilkan kursi roda


"Pokoknya aku tidak mau. " mulutnya sudah maju,


"Cup" Aditya mencium istrinya gemas dan tersenyum


"Baiklah kalau tidak mau sekarang naiklah kita akan menuju ketempat Ningsih yang terakhir kalainya. "


Aldi yang berada di depan memperhatikan tuannya ingin menegur nonanya tapi ia mendapatkan tatapan tajam dari tuannya jadi Aldi hanya menghela napasnya panjang.


"Kau yakin sayang kau bisa? " bertanya pada istrinya karna muka istrinya sudah pucat, mereka sudah sampai ditempat pemakaman.


Zahirah mangangguk


"Tapi mas harus selalu ada disamping yah " ucapnya lemah

__ADS_1


Aditiya mengangguk "aku yakin istriku kuat " padahal Aditiya hanya menyakinkan dirinya.


Sekarang hanya aditiya dan Zahirah berada di depan makan Ningsih. Proses pemakaman Ningsih sudah selesai dari tadi, tapi yang membuat Aditiya khawatir istrinya tidak mengeluarkan air mata sedikitpun jangankan mengularkan air mata satu katapun tidak keluar dari mulutnya.


"Sayang menangislah sekarang tidak ada yang melihat kita " bisik Aditiya lembut.


Aditiya justru takut melihat istrinya tidak mengeksperesikan perasaannya saat ini.


Zahirah melirik jauh kedepan masih banyak wartawan di sana jika ia menumpah segalanya maka semuanya akan terlihat. Zahirah tak ingin memalukan suaminya.


"Kita pulang mas sungguh aku capek " lagi-lagi Zahirah pingsan dan sudah berapakali Aditiya mengumpat ia melirik jauh ternyata masih banyak wartawan di sana.


Aditiya melirik Aldi, yang terkadang bodoh kenapa Aldi tidak bisa membaca setuasi saat ini..... sial... umpatnya.


"Kau bodoh Aldi di mana kau simpan otak mu kenapa baru kali kau tidak peka akan stuasi. "


Aditiya menendang kursi yang di duduki Aldi. sopir hanya bisa diam dan berkeringat dingin baru kali ini ia melihat tuannya memarahi Aldi.


"Maafkan saya tuan" Aaldi betul-betul lupa membersihkan para wartawan gila itu. ia sibuk mencari penyebab kematian Ningsih.


Aditiya memperhatikan istrinya yang terlihat pucat. aditiya memeriksa suhu badan istrinya, ia kaget dengan perubahan suhu tubuh istrinya tiba-tiba sangat panas "Pak cepat kerumah dan kau Aldi suruh dokter Henri kerumah sekarang ! "

__ADS_1


Aditiya mengangkat istrinya menjadi dipangkuannya dan memeluk istrinya ia berharap berhasil menurunkan suhu badan istrinya berkurang.


__ADS_2