
Dijalan Ningsih mengutuk dirinya sendiri
"Bodoh kenapa juga saya harus melihat laki-laki itu dengan tatapan terpesona, tapi dia memang sangat mempesona tapi tunggu dulu siapa perempuan yang ada dibelakangnya tadi, apakah dia pacar atau istrinya tapi tidak mungkin dia pacar atau istrinya karna dilihat dari pakaiannya sangat pormal mungkin seketarisnya " pikir Ningsih dengan praduganya sendiri.
"Kau kenapa bicara sendiri dan tidak jelas... Laki-lakilah dan permpuanlah" tanya Zahirah melihat temannya duduk di depannya
"Astaga Zahirah kamu tau tidak saya tadi bertemu siapa tadi di depan toilet" tanya Ningsih dengan mata yang berbina
"Tidak dan saya tidak mau tau " jawab ketus karna zahirah tidak mendapatkan jawab atas pertanyaannya.
"Ihh....kamu kok begitu sih, baiklah saya akan memberi tahu, dia seorang laki-laki, bla-bla..." kata Ningsih penuh semangat.
belum selesai mendengar curhatan Ningsih, Zahirah sudah meninggalkan temannya sedang datang penyakit gilanya itu, kalau terus mendengarkan cerita Ningsih bisa-bisa Zahirah ikut-ikutan gila dibuatnya.
Zahirah yang sedang berjalan lorong kampus, tiba-tiba ada seorang mahasiswi menganjal kaki Zahirah hingga terjatuh. Para mahasiswa yang melihat Zahirah terjatuh tertawa, salah seorang yang melihat zahirah berkata.
"Kalau jalan tuh hati-hati kan jatuh jadinya" tanpa niat ingin membantu Zahirah
"Sakit ya...aduh kasihan...emangnya waktu kecil kamu tidak di ajarkan mamamu berjalan dengan baik" tambah mahasiswi yang menganjal kaki zahirah dan tertawa dan di ikuti oleh mahasiswa lainnya.
Mendengar mamanya disebut, Zahirah marah tapi tidak bisa berbuat apa, dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak melukai perempuan yang menganjal kakinya. Zahirah mengepalkan tangannya dan berjalan menuju toilet, sesampainya toilet zahirah merasakan sesak didadanya, tubuhnya lemas dan tak lama dia terjatuh dilantai.
__ADS_1
Zahirah duduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya dengan sangat erat, dadanya sesak, mangatur napas hingga keadaan lebih baik namun tiba-tiba bayangan masa lalu muncul didalam kepalanya. Zahirah merasakan dadanya semakin sesak napas sudah tidak teratur.
Zahirah terus saja mengatur napas dan menyemangati dirinya agar keadaanya lebih baik
"Saya kuat dan saya mempunyai mama dan Ningsih yang menyayangi saya...ya...saya bisa melewati semua ini...tarik napas buang" kata Zahirah berulang-ulang kali dan akhirnya keadaan kembali seperti tidak terjadi apapun.
zahirah melihat lengan yang lebam akibat terlalu kuat mencengkramnya. Zahirah selalu mendapatkan luka lebam bila Zahirah tidak bisa mengkontrol emosinya dan pada akhir melukai dirinya sendiri.
Zahirah keluar dari toilet dengan perasaan lebih baik walau sebenarnya Zahirah tidak pernah melupakan apa yang telah terjadi.
Zahirah berjalan menuju tempat pengambilan angkot. namun sebelum itu telponnya berdering, belum sempat mengangkat telpon. Zahirah menabrak seseorang laki-laki
"Aduh..." memengang keningnya, sambil mengadah keatas "Maaf pak, saya tidak liat tapi bapak tidak papa kan?" Tanya Zahirah dengan mengelus-elus dada laki-laki yang di tabraknya karna merasa bersalah.
"Halo"
"Ya... kenapa kamu meninggalkan saya sendiri di kantin" kata Ningsih sedikit marah, bisa-bisanya sahabatnya itu meninggalkannya tanpa memberi tahunya.
"Saya malas mendengarkan ceritamu yang tidak ada faedahnya" jawab ningsih sambil menundukkan kepala dengan sopan di depan laki-laki yang memperhatikannya dan berlalu begitu saja.
"Itu berfaedah yah, karna dia akan menjadi calon imanku dan ayah dari anak-anakku kelak" kata Ningsih dengan membayangkannya saja sudah sangat bahagia
__ADS_1
"hahaha....iya..iya...yang mendapatkan calon iman" jawab Zahirah
Zahirah terus saja tertawa dengan cerita sahabatnya, Zahirah tidak menyadari ada sepasang mata memperhatikannya.
laki-laki itu ingin melangkah tapi diurungkan karna dia merasa menginjak sesuatu, dia melihat kebawa kakinya dan ternyata dia menginjak dompet. mengambil dengan menuju ketempat sampah belum sempat ketempat sampah laki-laki itu dikagetkan dengan sebuah tangan yang merebut dompet dari tangannya.
"Pak kalau mendapatkan sesuatu dijalan dan bukan milik anda sebaiknya dikembalikan kepada yang punya pak" kata perempuan, yang ternyata Ningsih
laki-laki itu ingin menjawab tapi didahului lagi
"Bapak memang tampan tapi tak setampan tingkah laku bapak " meninggalkan laki-laki sedang menahan amarahnya.
Pria yang mendengar perkataan perempuan itu berjalan cepat sebenarnya dia tidak ada niat untuk membuang dompet yang didapatnya hanya saja dia ingin membuang botol yang ada ditangan sebelahnya.
"Dasar perempuan tidak ada sopan santunnya, kenapa saya bertemu dengan dua perempuan hari ini sangat aneh " ucapnya laki-laki dengan kesal
belum lagi melangkah seseorang memangilnya "Pak Aditiya" seorang perempuan dengan badan perpesonal berlari menuju ketempat pak aditiya "Maaf pak tapi sebelum bapak kembali kekantor rektor ingin bertemu dengan bapak" kata perempuan itu yang tak lain adalah seketaris Aditiya.
"Untuk apa lagi rektor itu mau bertemu kembali bukankah waktu rapat semuanya telah dibahas" kata Aditiya marah.
"Tapi pak, kata rektor ada yang ingin dia bicarakan dengan masalah pribadi pak" kata seketaris dengan suara pelan takut kalau merusak mood bosnya.
__ADS_1
"Saya tidak menerima seseorang kalau hanya ingin membahas masalah pribadi dan satu lagi saya tidak mau datang lagi ke Universitas ini, kamu mengerti fitriani" kata Aditiya tegas
" Baik pak, saya megerti".