HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 37


__ADS_3

"Mas" panggil zahirah lagi


Aditiya tersadar kalau istrinya sudah terbangun "Kau sudah bangun" Aditya menjauhkan sedikit badannya dari pelukannya.


Zahirah menganggukan kepala "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aditiya lagi


Zahirah tersenyum "Iya, saya baik-baik saja"


"Apa mas sudah makan?" tanya Zahirah, ia tidak ingin melanjutkan pembicaran kenapa ia bisa menangis dalam tidurnya


"Belum" Aditya tahu kalau istrinya itu tidak ingin lagi di tanya soal kenapa ia menangis, selalu saja begini batin Aditiya.


"Eh kok belum makan sih, ini sudah lewat makan siang loh mas, eh tidak-tidak tapi ini sudah mau magrib."


Zahirah ingin berdiri tapi di tahan oleh Aditiya "Kenapa?" tanya Zahirah heran "Ayo mas kita pergi makan"


bukan menuruti apa yang dikatakan Zahirah, Aditiya justru membawa istrinya di dalam pelukannya "Kenapa kamu selalu begini" Aditiya memeluk istrinya tanganya mengusap punnggu istrinya.


Zahirah merasa terharu, mendapatkan perlakuan yang hangat dari laki-laki selain ayahnya. Setika Zahirah teringat ayahnya dan kejadian masa lalu, zahirah mulai merasa sesak didadanya, ia harus mengkontrol emosi agar tidak menyakiti suaminya yang sekarang Zahirah mencintainya.


"Ra" panggil aditiya lembut


"eh iya mas"


"kau melamun lagi "


"hehe...maaf, habisnya pelukan mas hangat" mati aku kecepolosan batin Zahirah malu

__ADS_1


Aditiya tertawa melihat kepolosan istrinya "Iihh..jangan ketawa mas" Zahirah tambah malu


"Cup" satu kecupan mendarat didahi Zahirah, membuat Zahirah bertambah merah


"Menggemaskan" ucap Aditiya sepontan.


Zahirah tidak bisa lagi duduk lama-lama dipangkuan suaminya, ia tidak bisa mengkontrol hatinya yang berdetak kencang.


"Mas makan ya, aku juga belum makan "


"Kamu belum makan " Zahirah menganggukan kepalanya "Sejak kapan kamu belum makan"


"Hmm..sejak sampai dirumah"


"Apa kamu tidak kelaparan"


"terus kenapa kamu belum makan "


"Aku kan tunggu mas "


"Jadi kalau mas tidak pulang-pulang kamu tidak makan" Aditiya tidak suka dengan sifat Zahirah satu ini selalu saja mementingkan orang lain sebelum dirinya.


Kapan makannya mas kalau mas bicara terus batin Zahirah kesal.


Minta maaf sajalah daripada tambah panjang "Maaf mas"


Aditiya menghela nafas ia juga terlalu banyak bertanya bukan mengajak istrinya makan malah mengajaknya berdebat "Ayo pergi makan."

__ADS_1


Akhirnya makan juga batin Zahirah.


Setelah makan kedua suami istri itu kekamarnya


"Mas mandi dulu "


"mauku siapkan air panas mas"


"Tidak usah "


"kalau begitu aku siapkan pakaian mas ya "


Aditiya menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kekamar mandi.


Di kamar mandi Aditiya masih membayangkan bagaiamana kejadian diruang tamu, apa yang membuat istrinya itu sedih sampai terbawa dalam mimpinya. Ia masih ingat bagaimana Zahirah menjadi tak terkendali saat ibunya meninggal apakah sampai sekarang istrinya masih penyimpan rasa sakit yang tidak pernah diperlihatkan. Apa yang sebenarnya dia alami selama hidupnya.


Kenapa ia sama sekali tidak mengetahui tentang istrinya yang ia tau hanya diluarnya saja karna tidak ada informasi sedikitpun mengenai masa lalu istrinya.


Aditiya menghela napasnya lagi ia sudah terlalu lama di kamar mandi, pasti istrinya menunggunya. Ia keluar dari kamar mandi, ia memakai pakaian yang disiapkan istri kalau ia tau menikah akan senyaman ini ia akan menikah secepat tidak-tidak ia akan menikahi istrinya pada saat pertama bertemu.


Aditiya keluar kamar, ia terkejut tidak mendapatkan istrinya. pergi kemana istrinya itu apakah istrinya itu meninggalkannya, kejadian di masa lalu teringat kembali. Seketika hatinya marah tapi belum sempat Aditiya berteriak ia melihat istrinya dibalkon.


Aditiya memperhatikan istri, awalnya biasa saja tapi lama-lama ada yang aneh dari tingkah istrinya itu. Ia baru tersadar istrinya berjalan lurus tanpa memperdulikan dirinya akan terjatuh.


AAditiya berlari dengan cepat dan menarik tangan Zahirah


"Apa kau sudah gila hah..." bentak Aditiya, ia melihat mata istrinya dengan tatapan kosong tapi air matanya mengalir deras.

__ADS_1


"Zahirah" bentak Aditiya lagi untuk menyadarkan istrinya, ia tidak mengerti kenapa keadaan ini cepat sekali berubah.


__ADS_2