
Zahirah terbangun ingin buang air setelah buang air, Zahirah teringat kalau ia belum membuka pesan dari Ningsih.
Zahirah menghidupkan hpnya. Hatinya mulai merasa tidak enak, kenapa Ningsih mengirim pesan suara. Ningsih jarang sekali mengirim pesan suara kecuali serius.
Zahirah membukanya pesan suara itu. Mendengar kalimat pertama hati Zahirah mulai tidak tenang. Sekuat tenaga Zahirah menahan hpnya agar tidak terjatuh.
"Aku capek ra"
hanya itu yang jelas didengarnya.
"NINGSIH" teriaknya sampai Aditiya terbangun dari tidurnya.
Aditiya menghampiri istrinya "Kenapa sayang?"
Zahirah mendongkak kepalanya
"Tolong.... tolong... tolong temanku Ningsih... bawa aku padanya kumohon...." Zahirah tidak menggenal siapa di depan.
Aditiya mendapatkan istrinya seperti waktu Ningsih kecelakan tidak mengenal dirinya
"sayang sadarlah," Zahirah berdiri tanpa menghiraukan suaminya, ia berlari keluar dari kamar dengan pakaian tidur yang tipis.
"Sial" mengejar Zahirah
"Sayang tunggu....."
masih saja tidak dihiraukan "Zahirah" bentak Aditiya.
Ketika berhasil meraih tangan istrinya
Zahirah tersadar dan memeluk erat suaminya.
"Mas Ningsih... Ningsih bawa aku sekarang juga keapartemennya kumohon mas"
"Sayang masih jam 3 subuh sayang " memberi pengertian karna Aditiya tidak tau apa-apa,
Zahirah melepas pelukan
__ADS_1
"Aku bilang sekarang" berteriak.
Aditiya kaget melihat emosi istrinya meluap. Zahirah yang tidak mendaptkan respon berlutut dan memegang kedua kaki suaminya
"Mas kumohon untuk kali ini saja tolong bawa aku keapartemennya Ningsih"
Aditiya memegang kedua bahu istrinya untuk berdiri,
"Jangan begini sayang... apapaun akan kulakuan tapi tanya mas kamu kenapa sayang"
Zahirah tidak ada waktu menjelaskan. Zahirah menatap suami dengan tatapan memohon
"Mas...... kumohon"
"Baiklah tapi kita ganti baju."
"Tidak usah mas....." Zahirah hanya ingin melihat keadaan Ningsih sekarang juga.
Aditiya menarik napas agar tidak emosi baru kali ini istrinya membantah "Ra kita ganti baju dulu yah kasihan adek bayinya "
"Ahh iya mas... maafkan aku" Zahirah menghapus air matanya.
"Pakai baju sayang" tegur Aditiya melihat istrinya melamun
"Ahh... iya mas... maafkan aku mas" Zahirah buru-buru memakai baju.
Di perjalanan Aditiya tampak menelpon Aldi agar keapartemennya Ningsih. zahirah yang duduk gelisa mengigit kukunya. Aditiya mengambil tangan zahirah dari mulutnya dan membawanya kedalam pelukkannya .
Di dalam pelukkan suaminya Zahirah menangis "Kenapa menangis ?" melonggarkan pelukan dan menghapus air mata istrinya
"Aku... aku... aku tidak tahu mas...perasaanku tidak enak setelah mendengar pesan saura Ningsih.... aku... aku... takut kalau ningsih seperti ibu" memeluk erat suami saking takutnya
"Tenanglah... semuanya akan baik-baik saja" walaupun Aditiya tidak yakin.
Sampailah di depan apartemen Zahirah mencoba menghubungi Ningsih, tapi tidak diangkat setelah beberapa kali menelpon tidak ada jawaban. Zahirah mengodor-odor pintu apartemen Ningsih tidak ada jawaban juga.
Aditiya yang sedang sibuk menelpon keamanan Apartemen. Aldi datang dengan muka tegangnya
__ADS_1
"Ada apa tuan?" tanyanya heran
"Kau dari mana saja sudah dari tadi aku menelpon kau baru sampai"
"Rumah saya jauh tuan" jawabnya pasrah
"buka pintinya "
"Saya bukan tukang pintu tuan Aditiya." batinnya
Aldi membawa keamanan apartemen ini. Zahirah berdiri gelisa di belakang orang yang membuka pintu Ningsih. Tingkat keamanan Apartemen ini sangatlah ketat karna ini adalah mantan apartemen Aditiya.
"Sayang dengarkan aku yah...." Zahirah masih saja berdiri, di belakang orang yang membuka pintu tanpa menghiraukan suaminya
Aditya mengambil bahu Zahirah agar menghadapnya,
"Zahirah....."
Zahirah mendongkak melihat suaminya. "Dengar baik-baik saya izinkan kau masuk ke dalam tapi dengan satu syarat kau harus hati-hati... ingat kau sedang hamil... oke sayang" Zahirah hanya mengangguk kepalanya beberapa kali.
Pintu tebuka Zahirah terkejut melihat apartemen Ningsih, sangat berantakan ini jauh lebih berantakan di bandingkan terakhir ia datang. Zahirah berjalan menuju kamar Ningsih. jantung zahirah berdetak kencang apa yang ia pikirkan apakah akan menjadi kenyataan. Zahirah semakin takut ketika tidak melihat Ningsih dikamarnya.
"Ningsih sayang di mana kamu... jangan begini yah.. aku tau kalau aku salah tapi kumohon bersuaralah... aku takut Ningsih.... kumohon..." memangil Ningsih dengan suara putus asa.
Setiap sudut kamar zahirah memeriksanya tapi ningsih tidak ada. Zahirah mendengar suara kerang air yang menyala hati zahirah mulai sedikit tenang mungkin ningsih mandi pikirnya.
"Ningsih aku datang... kau sedang mandi yah... Ningsih... Ningsih.." Zahirah tidak mendapatkan respon membuat hati semakin takut
"Ningsih... kalau tidak menjawab aku masuk yah....." tidak ada jawaban sama kali.
Tangan Zahirah bergetar membuka pintu kamar mandi,
"Klek"
zahirah membulatkan matanya kaget "Air warna merah dari mana asal air ini... ya Tuhan...." suara Zahirah tercegat dilehernya ketika melihat Ningsih di dalam bathbut tidak sadarkan diri.
Zahirah masuk kedalam bathbut dengan keadaan linglung, mengangkat kepala Ningsih yang tengelam.
__ADS_1
"Ningsih sadarlah kumohon jangan begini" memeluk kepala Ningsih erat
"TOLONG" teriaknya keras.