
Semua orang sudah kembali pekerjaannya masing-masing, Widya sudah pergi dahulu meninggalkan rumah besar karna ia harus kekampus untuk menyelesaikan tugasnya sedang Aldi dan dokter Henri pulang setelah beberapa saat Widya pergi.
Kini tinggal Aditiya diruang tamu dengan Zahirah keduanya masing mengenakan gaun pernikahan
"ahmm...mas" panggil Zahirah lembut, ia sengaja memanggil Aditiya dengan sebutan mas karna ia merasa harus menghormati Aditiya sebagai seorang suami.
lagi-lagi Aditiya merasa sesuatu dihatinya ketika namanya diganti menjadi mas "Iya..ada apa" jawab aditiya datar
"Apa boleh saya kerumah sakit untuk menjaga Ningsih dan selama Ningsih dirawat apa boleh saya menginap disana? " tanya Zahirah pelan takut kalau ia menjinggung Aditiya padahal ia tau Aditiya tidak akan melarangnya.
"Hmmm...silahkan saja, saya kasih izin selama teman itu sembuh"
zZahirah kaget ketika suaminya itu mengetahui tentang pribadinya "Baik..terima kasih mas"
__ADS_1
Zahirah ingin kekamar yang tadi malam ia tempati tidur "Tunggu mau kemana kau? " tanya aditiya ketika melihat istrinya kekamar tamu bukan kekamarnya "mau ganti baju mas" tunjuk Zahirah kearah kekamar tamu.
Aditiya menghela napasnya kenapa semuanya harus dijelaskan kepada istrinya, ia tidak tau apakah istrinya ini sengaja atau sikapnya terlalu polos. "kamarmu bukan dikamar tamu lagi ra tapi kamarmu sekarang dikamar dilantai dua"
"Tapi pakaian ku ada dalam kamar tamu mas "
"Pakaiaanmu sudah dibawah kekamarku"
"Tapi...tapi.."
Aditiya membuka pintu kamarnya, menarik istrinya untuk duduk ditepi ranjang
dia mbilnya telapak tangan zahirah dan memngenggamnya dengan lembut " Dengar mulai hari ini sampai aku mati rumah ini adalah rumah mu juga, apalagi kamar ini adalah kamar mu juga apakah kamu mengerti ra" Zahirah hanya menganggukkan kepalanya patuh
__ADS_1
Aditiya terlebih dahulu masuk kemar mandi karna ia harus keluar negri untuk menyelesaikan pekerjaannya bukannya ia harus berlibur dihari pernikahannya malahan ia pergi untuk bekerja
" Aku harus keluar negri ada yang harusku kuselesaikan disalah satu cabang perusahanku dan tidak bisa diwakili oleh siapapun" Aditiya sedang memasang dasi berburu-buru tiba-tiba ada sebuah tangan mencengahnya dan memasangkan dasinya dengan lembut. Istrinya sedang berjinjit untuk bisa memasang dasinya. Aditiya tersenyum melihat tingkah laku istrinya hatinya kembali menghangat.
Susah payah zahirah memasang dasi suaminya karna tinggi badan jauh dari suaminya ditambah lagi gaunnya yang belum diganti.
Melihat zahirah kewalahan Aditiya ingin mengambil alih "Biar aku saja"
"Sudah selesai" Zahirah memberikan usapan lembut didada suaminya. mengangakat kepalanya dan tersenyum manis.
Aditiya terpesona melihat senyum istrinya dan tidak sadar mencium kening Zahirah " Terimah kasih" Zahirah membeku mendapatkan serangan tiba-tiba "Aku pergi" kata Aditiya yang kembali datar
Aditiya sudah menghilang dari kamar ini tapi zahirah masih berdiri ditempatnya ia belum bisa menerka tingkah laku aditiya kepadanya.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan begitu lembut dari Aditiya, Zahirah merasa takut. Takut akan jatuh cinta padanya, takut terlalu banyak berharap kepada suaminya sekarang, takut akan menyakiti Aditiya dan takut Aditiya akan meninggalkannya jika aditiya mengetahui traumanya.
"Sadarlah Zahirah bahwa kau tak bisa berharap banyak sama suamimu, seharusnya kau sudah bersyukur karna ia ingin menikah dengan perempuan seperti dirimu. Yang tidak punya apa-apa dan seharusnya kau bersyukur kalau Aditiyalah yang menolong Ningsih jadi kau jangan mengira Aditiya bersikap baik padamu kalau dia menyukaimu padahal dia hanya menolongmu keluar masalahmu jadi sadarlah zahirah" zahirah menyadarkan dirinya sendiri didepan cermin.