HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 85


__ADS_3

Aditiya keluar dari kamar mandi dengan perasaan gelisa, ia berjalan ke kasur mendudukkan dirinya di samping istrinya yang tertidur dengan damai.


Aditiya mengusap wajah istrinya dengan lembut mencium kening istrinya "aku mencintaimu sungguh. "


Aditiya merebahkan dirinya di samping istrinya, menarik istrinya masuk dalam pelukannya. Sepanjang malam Aditiya mememikirkan apa yang harus ia perbuat agar trauma istrinya sembuh, semakin ia memikirkan semakin ia tidak mendapatkan jalan, satu-satunya jalan ia dapatkan semua terletak pada isitrinya. Yah istrinya harus cerita tentang trauma namun lagi-lagi, Aditiya tidak bisa memaksa istrinya cerita ia takut akan berakibat fatal untuk anaknya.


Aditiya lagi-lagi menarik napas panjang semakin ia memikirkan jalan keluar untuk kesehatan istrinya semakin ia mendapatkan jalan buntu. lama berpikir akhirnya tertidur.


Matahari sudah terlihat naik namun penghuni kamar belum ada yang ingin membuka mata. Zahirah mengeliat pelang merasa ada sesuatu di perutnya. Zahirah tersenyum melihat tangan di atas perutnya rupanya suaminya telah kembali. Zahirah membalikan badan sehingga ia bisa melihat wajah suaminya.


Zahirah ingat betul apa yang terjadi tadi malam, ia mengangkat tangan mengusap wajah suaminya tak hanya mengusap wajah tapi juga mencium suaminya.


"bangun mas, " bisiknya "ini sudah siang loh. " sekali lagi mencium suaminya.


Zahirah mencium suaminya sebelum ia menarik diri dari kecupannya Aditiya menahan kepala istrinya


"hmmmm" Aditiya tidak memberikan istrinya bernapas tidak taukah istrinya, ia sudah menahan waktu pertama kali istrinya menciumnya.


Zahirah hampir kehapisan napas, ia memukul pundak suaminya dengan berat hati Aditiya melepasakan ciumannya.


"Mas," rengeknya mengatur napas


Aditiya tertawa


"Siapa suruh goda mas pagi-pagi" mencium kening istrinya


"Aku tidak mengoda mas... saya hanya membangunkan mas" wajahnya sudah merah karna terengah-engah


"Apa kau bilang tidak mengoda mas... jadi mencium mas mengusap wajah mas tidak mengoda mas"


masih memeluk istrinya. "Iya, "


"Jadi menurutmu mengoda itu bagaimana sayang... coba beritahu mas, " mengoda istrinya.


"Ihhh... tau ah... lepas aku mau ke kamar mandi dan mas juga harus bangun ini sudah siang loh... emang mas tidak berangkat ke kantor?" tanya Zahriah panjang lebar.


"Mas malas," Aditiya kembali menutup matanya karna ia baru saja tertidur jam empat pagi, ia masih mengantuk kalau saja istrinya tidak mengodanya ia tidak akan bangun.


Zahirah kekamar mandi membiarkan suaminya tertidur. Zahirah melihat suaminya yang sangat mengantuk.


Setelah selesai, dengan urusan kamar mandi ia mengampir suaminya, memperbaik selimut dan mencium kening suaminya.


"Aku mencintaimu" Zahirah berlalu pergi sementara Aditiya tersenyum dalam tidurnya.

__ADS_1


Zahirah pergi kedapur untuk sarapan. "Nona ada yang bisa kubantu?" tanya kepala pelayan


"Tidak ada, aku hanya ingin sarapan"


"Baik nona"


Zahirah makan, dengan lahap sampai selesai makan. Zahirah berjalan kearah kulkas mengambil es cream dan membawanya keruang tamu, ia lakukan hampir setiap hari selesai sarapan.


Zahirah membuka cup es creamnya matanya berbinar tapi sebelum ia memakan es creamnya zahirah mengambi remot televisi menekan film karton.


Zahirah memakan es creamnya dengan lahap, ia tidak menyadari kalau suaminya sudah ada di dekatnya.


Aditiya bangun, dengan perasaan segar ia ke kamar mandi setelah urusan kamar mandi, ia mencari istrinya. Aditiya menurunin tangga ia samar-samar mendengar suara istrinya tertawa.


Aditiya merasa, istrinya tidak memiliki beban dihatinya tapi ternyata itu semuanya dikala istrinya tidak mengingat masa lalunya yang kelam. Sekita Aditiya ingin sekali mendengar tawa istrinya sepanjang hidupnya tapi apakah ia bisa memujudkannya sedangkan ia belum mendapatkan jalan keluar dari trauma istrinya.


Aditiya terpana melihat senyum istrinya yang beberapa hari ini belum ia lihat walaupun sering vedio call tapi ini berbeda dengan melihatnya langsung.


Aditiya mengambil tissu dan membersihkan es cream yang ada di pinggir bibir istrinya. Zahirah terkejut tapi kemudian ia membiarkan suaminya.


"Sayang pelan-pelan makannya" Aditiya dengan sabar membersihkan bibir istrinya sedangkan, Zahirah tidak mengubris perkataan suaminya.


"Sudah kenyang? " tanyanya lembut, Zahirah mengangguk dan tersenyum.


"Tidak sayang...bukankah mas sudah janji kalau mas akan membawamu berlibur kepantai. "


Zahirah senang bukan main, sampai ia tidak meyadari kalau ia naik kepangkuan suaminya.


"Bernakah kita akan kepantai mas?" tanyanya ulang, Aditiya tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih mas.... jadi kapan kita pergi, kepantai mana yang kita datangi dan iya berapa lama kita berlibur mas" mata Zahirah terpancarkan bahagia tangan berada di leher Aditiya, matanya menatap Aditiya dengan bahagia.


"Bulan depan" goda istrinya


mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya, zahirah cemberut dan ingin turun dari pangakuan suaminya tapi Aditiya sudah menahannya.


"Mas lepaskan aku mau turun " dengan wajah kesal.


"Tidak mau" Aditiya semakin mendekat wajahnya kewajah isitrinya.


"Mas apa yang kau ingin lakukan" Zahirah was-was tapi matanya tertutup.


Aditiya tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang mengemaskan "apa yang kau harapkan sayang " bisik Aditiya

__ADS_1


zahirah membuka matanya, melihat suami tertawa terbahak-bahak. "Mas ihhh.... turun aku... aku mau duduk di sofa" memukul dada suamimya pelan.


Zahirah kesal selalu saja suaminya mengodanya, Tapi melihat suaminya bahagia kekesalanya hilang "Mas mau turun"


"Kenapa kau tidak suka duduk di pangkuan mas" tatapan Aditiya menjadi dingin.


Zahirah tergagap, "Bukan.... bukan begitu aku suka duduk di pangkuan mas"


"Terus kenapa kau ingin turun dari pangkuan mas" masih mempertahankan mimik muka dingin.


"Panjangkan.... cuman perkara duduk di pangkuan saja akan lama selesainya" batin Zahirah ingin sekali membantah suaminya tapi takut melihat wajah suaminya.


"Aku kesal mas.... mas selalu saja mengodaku dan yah katanya mau pergi berlibur ke pantai tapi jawabannya buat aku kesal, bulan depan kau bilang itu kelamaan mas..." mata zahirah mulai berkaca-kaca tidak taukah suaminya kalau ia sudah memikirkan jauh-jauh hari pergi berlibur kepantai.


Aditiya merasa bersalah melihat istrinya ingin menangis. Aditiya menarik istrinya masuk kedalam pelukannya.


"Maafkan aku.... kita akan pergi berlibur ke pantai besok... okay... jadi jangan sedih aku hanya suka melihat wajah kesalmu kau semakin mengemaskan ketika kesal."


"Benarkah kita akan pergi kepantai besok" Aditya mengangguk.


"Hore..... makasih" membalas pelukan suaminya


"Hadiahku mana? " tanya Aditiya


"Hadiah apa" Zahirah berpikir


"Oh.... cup... cup.. cup" mencium suaminya tiga kali


"Aku meingginkan yang lebih sayang...." bisiknya


"Aku tidak tau lagi apa yang harus kuberikan mas" Zahirah memasang wajah polos didepan suaminya.


"****...." umpatnya dalam hati Aditiya


"Kau ingin mengetahuinya, " Zahirah menganggukan kepalanya cepat.


Aditiya mendekat wajahnya ketelinga istrinya "Bermain di ranjang" mengigit teliga istrinya gemas.


Wajah zahirah memerah, ia memeluk suaminya dan menbunyikan wajahnya di leher suaminya.


"Kau ingin melakukannya" Aditiya menahan gelojak di dalam dirinya sedikit lagi akan meledak tapi ia ingin mendengar jawaban istrinya. Zahirah hanya memganggukan kepalanya sebagai bertanda iya.


Aditiya berdiri dengan semangat mengendong istrinya seperti koala menuju kekamar.

__ADS_1


__ADS_2