HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 75


__ADS_3

Aditiya yang sedang memeriksa cctv bersama aldi terkejut mendengar suara istrinya


"Sial" batinya.


Aditiya berlari cepat kesumber suara, kenapa ia bisa lupa dengan istrinya. Aditiya terlalu fokus melihat apa yang terjadi dengan Ningsih.


Aditiya membuka pintu kamar mandi, ia sangat terkejut mendapati istrinya di dalam bathbut berisi warna merah dan memeluk kepala seseorang dengan sangat erat.


"Sayang...." panggil aditiya sangat lembut


Zahirah berbalik kesumber suara."Mas.... tolong... tolong.... tolong selamatkan Ningsih mas kumohon jangan biar di pergi meninggalkanku" menangis tersedu-sedu.


Aditiya tidak tahan melihat ini, ingin rasanya menghancurkan apartemen yang sial ini


"Sial" batinnya.


"Tuan" Aldi tak percaya apa yang dilihatnya. nonanya sedang menangis tanpa suara sedangkan Aditiya sedang melamun


"Tuan" panggil lagi Aldi.


Aditiya tersadar "Aldi kau bawa Ningsih keluar, aku akan menenangkan istriku dulu "


"Baik tuan"


"nona biarkan aku membawa ningsih keluar, "


"Aldi kumohon selamatkan ningsih. " aldi hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang kau baik-baik saja? " membantu istrinya bangun


"Mas kenapa Ningsih melakukan ini" Zahira memeluk suaminya dengan sangat erat


"Semuanya akan bai-baik saja sayang, " Aditiya berusaha menenangkan istrinya.


Zahirah masih dalam pelukkan suaminya, ia merasa syok apa yang terjadi barusan. Baru saja merasakan namanya kebahagian namun sejekap pula kebahagian itu hilang.


"Mas" napas mulai putus


"Iya sayang kau baik-baik saja " melonggarkan pelukannya melihat istrinya


"Aku lelah" setelah berkata seperti itu Zahirah pingsan tak sadarkan diri.


"Sial"


Aditiya keluar kamar mandi dengan menggendong istrinya. Aditiya melihat dokter Henri yang memberikan pertolongan pertama untuk menyelamatkan Ningsih.


Aditiya membanringkan istrinya dengan hati-hati "Bagaimana keadaan ningsih? "


"Maafkan kami Aditiya, kami tidak bisa lagi menyelematkan Ningsih karena ia kehilangan banyak darah. " Dokter henri memberikan penjelasan.


Mendengar Ningsih tidak bisa diselematkan, Aditiya langsung melihat istrinya. Aditiya tidak bisa memikirkan reaksi istrinya sekarang saja istrinya sangat syok melihat Ningsih seperti tadi apalagi sekarang Ningsih sudah tidak ada.


Adtiya mengusap wajahnya kasar, stres karena keadaan ini. Aditiya berharap istrinya kuat menerima kenyataan ini. Adtiya memegang tangan istrinya dan menciumnya "Sayang kumohon jangan membuatku takut seperti. jangan pernah untuk berpikir pergi dariku. kaulah satu-satunya yang bisa membuatku tersenyum" ucap Aditiya tulus.


Zahirah terbangun "kau sudah bangun sayang, minumlah dulu, " Aditiya membantu istrinya minum.

__ADS_1


"Ningsih mana mas" Zahirah tak melihat Ningsih


"Ningsih di bawa kerumah sakit "


Zahirah mengira kalau ningsih selamat padahal, Ningsih di bawah kerumah sakit untuk memeriksa lebih lanjut.


"Jadi bagaimana keadaan Ningsih, Ningsih baik-baik saja kan mas "


Aditiya tak langsung menjawab, ia justru menarik panjang napasnya. Aditiya tidak tau harus berkata apa agar istri bisa menerima kenyataan ini. Aditiya tau betul bagaimana berharganya Ningsih di hati istrinya.


"Mas jawab, Ningsih baik-baik sajakan."


"Dia selamatkan mas" desak Zahirah


Aditiya tidak menjawab pertanyaan istrinya ia malah memeluk istrinya, " Kau harus sabar sayang, kau wanitaku yang kuat. "


Zahirah mendengar ucapan suaminya seakan dunianya runtuh. Zahirah sekuat tenaga untuk menahan gejolak rasa yang ada di dalam hatinya. Zahirah berusaha untuk tetap tegar di depan suaminya.


Zahirah terdiam beberapa menit. Aditiya memangil istrinya tapi tidak ada jawaban


"Sayang.... sayang.... sayang..... ra.... kau tak apa-apa?" tanyanya khawatir sebab istrinya sedang memadang jauh kedepan.


"Ah.... maafkan aku mas, aku...aku tidak apa-apa" tersenyum,


"Kapan Ningsih dimakamkan mas."


Aditiya tak percaya dengan reaksi istrinya kenapa istirnya tidak seperti waktu ibunya meninggal. Apa yang sebenarnya istrinya pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2