HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 43


__ADS_3

Niingsih tak sengaja bertemu dengan Aditiya.


"Selamat pagi" kata Ningsih ceria


"Hmmm"


"Ehh kok kenapa berubah, padahal kemarin-kemarin kalau aku memberikan salam ia juga menjawab, apa ada yang salah denganku hari ini" batin Ningsih


"Ningsih "


"iya pak"


"Keruanganku sebentar nanti jam istirahat"


"Iya pak"


"Kenapa pak Aditiya memanggilku keruangannya apakah aku berbuat salah" Ningsih merasa tidak berbuat salah, ia pernah mendengar kalau pegawai yang dipanggil keruangan Aditiya pegawai itu berbuat salah besar.


Ningsih mulai cemas apakah ia akan di pecat, padahal ia kan selalu mencapai target apa yang dikerjakan malahan selalu membuatkan hasil yang sangat baik bagi yang kerja sama dengan perusahan Aditiya. jadi letak kesahalannya di mana.


"Ningsih " tegur teman sekantornya


"Iya Ina " Ningsih tidak bersemangat padahal hari-harinya selalu bersemangat


"Aku dengar kamu di panggil sama pak presedir ya "


"Iya" suara Ningsih lemah


"Loh kok bisa "


"Aku juga ngak tahu "

__ADS_1


"padahal kamu tidak pernah berbuat salah loh, seharusnya kamu itu di kasih naik jabatan bukannya di pecat" teman sekantornya keceplosan "Maaf-maaf Ningsih aku tidak bermaksud" Ina meras bersalah.


Ningsih menganggukan kepalanya, "Iya tidak papa" padahal hati ingsih sudah sangat sakit membayangkannya saja sudah sangat sakit apalagi jadi nyataan.


Jam istrihat sudah tiba, para pengawai kekantin untuk mengistirahatkan diri atau pergi mengisi perut yang sudah kelaparan sedang Ningsih sudah berada didepan pintu ruangan aditiya


"Ahhh....ya Tuhan berikan saya kekuatan untuk menerima kenyataan ini " Ningsih menglafalkan doa sebelum masuk keruangan Aditiya


"Tok..tok....tok" suara ketukan pintu


"Masuk "itu suara aldi


Ningsih masuk untuk pertama kalinya, ia melihat sekliling betapa besarnya ruangan ini, Ningsih merasa semakin mencuit ketika melihat ruangan presiden. Ningsih mencari kemana pak Aditya pergi yang ada cuman Aldi.


"Kau sudah datang" Aditiya keluar dari rungan istirhatnya


"Iya pak"


"Ambil ini" Aditiya memberikan sebuah map


"iya"


Ningsih membuka map dengan tangan gemetar, Iya tidak bisa membayangkan Apa isi di dalam Map. Tetapi ketika membaca isi kertas mata Ningsih membulat tidak percaya. isi kertas tersebut adalah sebuah sertifikat Apartemen yang berdekatan dengan perusahaan tempat ia bekerja.


Ternyata ia tidak dipecat tapi ia malah diberikan sebuah hadiah yang ia tidak bisa ia bayangkan.


"Pak ini" Ningsih bertanya dengan heran


"Iya itu hadiah dari kerja kerasmu selama bekerja, kamu bekerja dengan giat" memang Aditiya selalu memberikan hadiah bagi pengawainya yang kerja keras "Dan kamu saya akan menjadi menejer"


Ningsih kaget apakah hadiah sudah tidak berlebihan sekarang seharusnya ia tidak usah mendapatkan sebuah apartemen.

__ADS_1


"Kau boleh keluar hanya itu yang saya ingin sampaikan dan semua pegawai sudah mengetahui sekarang kalau jabatanmu sudah dinaikkan"


"Baik pak terima kasih"


Aditiya menganggukan kepalanya.


Ningsih keluar dari ruangan Aditiya dengan perasahaan berbunga-bunga rasa cintanya terhadap Aditiya semakin bertambah. Bukankah ia akan sering ketemu dengan Aditiya dengan jabatannya yang sekarang.


Aldi merasa heran waktu setibanya di kantor, Aditiya meminta untuk dipesankan sebuah apartemen yang dekat dengan perusahaan ternyata untuk kariyawan. Memang benar kalau Ningsih bekerja di atas rata-rata dengan pengawai lain tapi dengan ia mendapatkan jabatan meneger untuk sudah lebih dari cukup.


"Kak" karna ini masih jam istrihat Aldi ingin berbicara dengan Aditya serius


"Hmmm" Aditiya yang tau kalau Aldi ingin tanyakan hal yang serius


"Apa yang membuat kakak memberikan Ningsih Apartemen"


"Karna dia sudah bekerja keras"


"Tapi itu, sudah cukup dengan jabatannya sekerang"


"Sejak kapan kamu memprotes apa yang ingin kuberikan dengan pengawaiku" Aditiya ingin menjahili Aldi. akhir-akhir ini sifat jahilnya selalu muncul apalagi sekarang ada istirnya "Ah..akukan jadi menrindukannya" batin Aditiya


"Apa karna nona Zahirah" tepat sasaran


Aditiya menganggukan kepalanya ia membayangkan wajar istrinya yang sedang tersenyum manis "Aku tambah merindukannya."


Aldi yang mendengarkan kata terakhir membuatnya merinding sejak kapan tuannya itu lebay.


"Aku mau pulang" Aditiya berdiri ingin meninggalkan ruangan kerjanya dan langsung pulang kerumah.


"Tuan bukankah ada janji dengan para pemegang saham hari ini" Aldi memberi tahu, bisa-bisa ia repot rapat ini jika dibatalkan.

__ADS_1


Aditiya kembali tempat duduknya, "Aku tidak tau kalau waktu berjalan sangat lambat padahal kemarin-kemarin waktu berjalan dengan cepat, iya kan Aldi."


Aldi hanya menganggukan kepalanya, "Terserahlah tuan apa yang anda ingin katakan yang terpenting anda harus menyelesaikan rapat ini" batin Aldi, ia malas meladeni orang terkena virus cinta.


__ADS_2