
Aditiya tidak mendapatkan jawaban, dari pertanyaan jadi aditiya berinesiatif memegang bahu Zahirah dan mengguncang-guncangkan bahu zahirah.
"Hey...apakah kamu kamu baik-baik saja ? "
Zahirah merasah seseorang memegang bahu perlahan-lahan Zahirah mengangakat kepalanya, mata Zahirah bertemu dengan mata Aditiya. Aditiya kaget melihat siapa perempuan yang ada dihadapannya berbagai pertanyaan ada dikepalanya, bukankah perempuan ini yang dilihatnya dikampus waktu itu dan kenapa dia sekarang terlihat sangat menyedihkan.
Zahirah mengambil tangan Aditiya dan, memegangnya erat sampai kuku Zahirah melukai kulit Aditiya. Aditiya merasa tangannya diremas sangat kuat meringis sebentar saja jadi Zahirah tidak sempat melihatnya.
"Pergilah kumohon, " kata Zahirah yang sudah memegang jas Aditiya dengan sangat erat
"Pergilah kumohon, aku takut menyakiti mu" ulang Zahirah menarik jas Aditiya sampai kancing jas Aditiya terlepas
Aditiya mendengar perkataan Zahirah, ekspersi wajah Aditiya berubah dan alisnya berkerut. "Kenapa dengan perempuan ini bukankah dia menyuruhku pergi tapi gengaman dijasku begitu erat seakan-akan dia melarangku pergi" batin Aditiya
Zahirah sudah kehabisan tenaga dan akhirnya tumbang tapi sebelum pingsan Zahirah menangangkat mukanya menghadap ke Aditiya dan berucapkan "Tolong aku" dengan sangat pelan, perkataan Zahirah itu menyentuh hati aditiya apalagi saat melihat wajah Zahirah yang menyedihkan dan ada timbul sesuatu yang aneh di dalam hati aditiya.
Zahirah pingsan dengan sigap Aditiya menahan tubuh Zahirah agar tidak terjatuh di lantai. Aditiya mengangkat tubuh Zahirah keluar dari Toilet dan membawanya keruangan di mana adiknya, dirawat setelah menaruh Zahirah di ranjang disebelah adiknya yang tertidur sangat pulas. Aditiya mengambil ponsel di saku celananya dan menelpon dokter Henri.
"Keruangan adikku sekarang !" perintah Aditiya
Henri mendapatkan telepon dari Aditiya kaget, alisnya berkerut "Apa-apaan Aditiya tidak mengucapkan salam dan main langsung suruh-suruh, emang aku kurang kerjaan apa, pekerjaanku banyak tau" kata dokter Henri dengan menatap ponselnya kesal sedang mati dari panggilan Aditiya.
__ADS_1
Belum sempat dokter Henri melangkah keluar dari ruangan ponsel berbunyi lagi, dan dokter henri tau siapa yang menelponya.
"Iya sudah dijalan aditya " kata dokter Henri menahan marah
"Cepat!" kata Aditiya disebrang sana.
"Iya-iya"
"Ada apa lagi sih, perasaan Widya sudah membaik dan ada apa dengan nada suaranya seperti mengkhawitirkan seseorang tapi siapa yang dia khawatirkan kekasih tidak ada" gerutu dokter Henri ditengah perjalanana menuju keruangan adik Aditiya.
Pintu terbuka "Ada apa Aditiya dan kali ini siapa yang sakit, kenapa sih kamu selalu mengkagetkan aku" kata dokter Henri kesal
"Tidak usah banyak tanya, kau periksa saja wanita ini " tunjuk aditiya
"Henri" bentak Aditiya "Saya tidak suruh kau diam begong di situ ya..saya suruh kau periksa wanita ini" kata Aditiya kesal
"Ah...maaf..maaf..maaf..." kata dokter Henri
Dokter henri menghampiri Zahirah yang sedang tak sadarkan diri, dokter Henri memulai meriksa organ vital Zahirah dan semuanya normal
"Bagaimana apa sesuatu terjadi padanya? " tanya Aditiya
__ADS_1
"Tidak ada kok semuanya baik" kata dokter Henri
"kalau begitu kau bisa kembali keruangan mu" kata Aditiya
"Baiklah Aditiya yang terhormat " kata dokter Henri pasrah dan kesal.
Dokter Henri ingin keluar dari ruangan dicegah oleh Aditiya
"Apa lagi sih, kalau rindu bilang donk" batin dokter Henri
"Henri lengannya kenapa ada ruam kebiruan? " tanya Aditiya terselip kekhawatiran.
Dokter Henri yang sudah malas meledani aditiya "Mungkin terbentur kali " kata dokter Henri malas "Saya kembali iya, pekerjaanku banyak Aditiya"
Aditiya hanya mengangguk matanya tak terlepas dari Zahirah.
Dokter Henri melihat tingkah laku Aditiya batinnya berucap
"Saya doakan kau Aditiya semoga kamu bucin sama wanita ini...hehe.."
"Saya tau ya apa kau pikirkan Henri " kata Aditiya kesal "Keluar"
__ADS_1
"Hahaha....maaf..saya permisi" kata doker Henri berlalu meninggalkan ruangan segera.