HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 62


__ADS_3

Zahirah menunggu Ningsih terbangun dari tidurnya, dengan keadaan ia terduduk di lantai kepalangnya bersandar di kasur.


Ningsih bergerak gelisah ada sesuatu yang menindis tangannya. Dilihatnya siapa yang menindis tanganya rupanya Zahirah. Ningsih teringat kejadian sebelum pingsan, bagaimana ia sangat terkejut ketika zahirah datang diapartemennya.


Ningsih berusaha untuk melepaskan tangannya tapi tidak ingin membangunkan Zahirah. Ningsih saat ini belum bisa bertemu dengan Zahirah tapi sekarang apa yang harus ia lakukan dihadapannya ada Zahirah tertidur. Ningsih tidak mungkin melarikan diri jika ia pergi Zahirah pasti mengetahuinya kalau Ningsih menjauhinya.


Zahirah bergerak Ningsih pura-pura tertidur. Zahirah memeriksa suhu tubuh ningsih


"Syukurlah, demamnya sudah turun"


berdiri "Aku mau menyiapkan makanan supaya kalau Ningsih terbangun dia bisa makan " meninggalkan Ningsih.


Ningsih membuka matanya ketika melihat Zahirah menutup pintu kamarnya


"Apa yang harus kulakukan, aku takut bercerita dengan Zahirah. Air mataku pasti akan terjatuh dan dia pasti akan mengetahuinya kalau aku pura-pura bahagia atas pernikahannya dan itu akan menimbulkan banyak pertanyaan dikepalanya" Ningsih tidak meyadari kalau Zahirah sudah berada dikamarnya.


"Ning kau sudah bangun yah, bagaiman perasaanmu" Zahirah menyimpan makanan yang dibuatnya di nakas


Ningsih yang tidak menyadari kedatangan Zahirah, ia sampai terkejut melihat Zahirah sudah ada dihadapannya


"Ah iya, aku baik-baik saja" menundukkan kepalanya ia tidak ingin melihat Zahirah.


"Makan yah kau belum makankan aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu"


"Nanti saja Ra, aku belum lapar"

__ADS_1


"Ada apa denganmu Ning kau tidak pernah begini"


"Aku baik-baik saja Ra, aku mau ketoilet dulu" beralasan agar tidak menimbulkan pertengkaran


Ningsih tidak ingin bertengkar cuman gara-gara sakit hati karna cintanya tak terbalas. Zahirah heran melihat tingkah laku Ningsih baru kali ini ia berbicara Ningsih tidak ingin melihatnya.


"Ada apa yang sebenarnya terjadi dengan Ningsih" guman Zahirah.


Ningsih tidak bisa berlama-lama di toilet kalau ia lebih lama lagi, Zahirah semakin curiga dengan tingkah lakunya yang sekarang Zahirah pasti sudah curiga tapi apa yang harus ia jawab kalau Zahirah bertanya.


"Aku tidak mungkin berkata jujur kalau aku sangat mencintai suaminya. ini tidak masuk akal, sadarlah Ningsih." Ningsih frustasi.


"Ning kau baik-baik saja" Zahirah mengodor-odor pintu toilet


"Iya sebantar lagi aku keluar"


"Iya bawel"


Ningsih keluar mencari Zahirah, rupanya Zahirah berada di balkon dia sedang menelpon dan tertawa. Terlihat sekali Zahirah bahagia.


"Yang pengantin baru " Ningsih mengoda Zahirah


"Apaan sih, biasa saja" tapi muka Zahirah tersipu malu


"Mukamu Ra tidak bisa berbohong " masih saja menggoda Zahirah

__ADS_1


"Tau ah, ayo makan kau belum makan kan"


Ningsih menganggukan kepalanya


"mau aku suap"


"Tanganku tidak sakit Zahirah " memperliatkan tangannya


"Kalau begitu makan"


"Iya iya... bawel amat."


Ningsih berusaha tidak memperliatkan bagaimana keadaannya saat ini dengan mengoda Zahirah. Ningsih tidak bisa menelan makanannya padahal ia sangat lapar.


"Ning kau baik-baik sajakan" sudah dari tadi Zahirah memperhatikan Ningsih, ada yang aneh dengan tingkah ningsih.


"Iya" ningsih tergagap


"Tentu saja" memaksakan senyumnya


"Kau marah padaku kan " sudah dari tadi Zahirah ingin menanyaakan tapi Ningsih selalu saja menggalihkannya


"Marah kenapa" mata Ningsih kemana-mana tidak ingin melihat mata zahirah


Zahirah memegang tangan ningsih "Ning liat mataku"

__ADS_1


Ningsih terpaksa melihat mata Zahirah "kau marahkan padaku " mata Zahirah mulai berkaca-kaca.


Ningsih pusing harus menjawab apa, ia tidak marah pada Zahirah tapi ia kecewa karna Zahirah karna tidak memberi tahunya tapi lebih menyaktikan hatinya orang yang ia cintai adalah suaminya sahabatnya sendiri.


__ADS_2