HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 73


__ADS_3

Ningsih tidak pulang keapartemennya tapi ia pergi ke Klub malam untuk minum. Dini hari Ningsih baru pulang keapartemennya. Ningsih berjalan tidak stabil ia melempar tas kesemabarang arah. Ningsih berteriak seperti orang gila.


"Niingsih kau gila.... kau gila... kau gila." Mengatai dirinya sendri setelah mengatai dirinya ia tertawa sangat keras,


"Aku memang sudah gila... gila karna cinta sialan ini."


Ningsih duduk memeluk lututnya "Aku harus bagaimana... aku tidak bisa seperti ini tapi aku juga tidak bisa menghilangkan rasa cintaku padanya.... aku rasa aku sudah gila," tertawa lagi.


"Tidak ada tempatku dihatinya walau hanya sebutir pasir tapi ketika aku sudah menyadari, kalau aku tidak ada dihatinya kenapa cinta ini masih ada.... KENAPA HAH !." Berteriak keras.


Pikiran ningsih saat ini sangat kacau, Ningsih pusing ingin berbuat apa, tidur tidak bisa, makanpun tidak bisa yang bisa perbuat sekarang meratapi dirinya .


Sudah berapa hari ini ia seperti orang yang tak waras kadang ia menangis tersedu-tersedu kadang ia tertawa sangat keras. Lama kelamaan Ningsih merasa kewarasan perlahan-lahan menghilang.


Puncaknya malam ini ia sudah tidak tahan lagi. Ningsih mulai muntah-muntah akibat maag akut yang deritanya dan mulai menyakiti dirinya agar tetap sadar dari kewarasaannya.


Ningsih memasukki kamar mandi mengisi bathtub. Berdiri depan cermin tiba-tiba Ningsih berhalusinasi melihat Aditiya dan Zahirah sedang mertawainya. Ningsih tidak sadar meninju cermin dan membuang semua perabotan di kamar mandi, berhamburan di lantai. Ningsih antara sadar dan tidak.


Ningsih jongkok menarik rambutnya "Aku lelah... aku capek tidak bisakah semua ini berakhir. Sungguh aku sangat lelah. Aku ingin mengakhirknya" berteriak.

__ADS_1


Mata Ningsih tertujuh pecahan kaca. Lama Ningsih melihat tanpa sadar tangannya meraihnya. Ningsih memegang erat pecahan kaca sampai tangannya berdarah.


Ningsih memasuki bathtub merendam dirinya, kepalanya menatap langit kamar mandi. Isi kepalanya hanya Aditiya dan kata-kata Aditiya kalau ia sangat mencintai istrinya.


Ningsih tidak menyangka hidup akan berakhir seperti ini, padahal ia bercita-cita menikah dan memiliki keluarga yang bahagia.


"Aku tidak menyadari mencintai seseorang akan semenyakitkan ini. kata orang lebih baik mencintai dari pada di cintai akan bahagia tapi aku sudah mencintainya tapi kenapa aku tidak bahagia sama sekali. Hanya rasa sakit yang begitu amat dalam yang kudapatkan." Ningsih menutup matanya menangis tidak tahan.


Ningsih mengangkat kedua tangannya dan melihat salah satu tangan masih memegang pecahan kaca. Lama Ningsih menatap pergelangan tangannya,


"Maafkan aku Zahirah kau harus bahagia."


Ningsih mengiris pergelangan tangannya "kenpa aku tak merasakan apapun" Ningsih, heran ia tidak merasakan sakit tanpa sadar ningsih mengiris tanganya yang satunya lagi.


"mungkin ini yang terbaik untukku dan terbaik untukmu Zahirah... maafkan aku Zahirah harus meninggalkan mu... kuharap kau tidak terlalu sakit dengan tidak adanya aku..... kuharap kau bahagia bersama anak-anakmu dan suamimu.... aku sangat-sangat menyayangimu sungguh tapi aku tak tahan lagi sekali lagi maafkan aku... aku lelah Ra....." mata Ningsih tertutup rapat,


perlahan-lahan badan Ningsih mulai tenggelam sampai seluruh badannya tidak terlihat lagi karna tertutupi oleh yang berwarna merah.


Hp zahirah berbunyi tapi belum sempat Zahirah membukanya hpnya lobet tota

__ADS_1


"Yah.. yah... yah mati.... mana Ningsih yang kirim pesan aduh...."


"Kenapa sayang"


"Hpku lobet mas"


"Tidur yah... mas capek sayang." Hari ini Aditiya sangat lelah karna ia mendatangi beberapa cabangnya.


Biasanya aditiya akan menginap dihetol di salah satu cabang tapi sekarang Aditiya malah memelih untuk pulang.


Zahirah langsung meletakkan hpnya yang tadi ingin menghidupkan tapi tidak jadi karna baru pertama kalinya mendengar suaminya mengeluh soal pekerjaan


"Capek yah " Aditiya mengangguk


"Mas sudah makan" merapihkan ramput suaminya berantakan


"Sudah sayang.... bagaimana kabar dede bayi" mengelus perut zahirah


"Baik mas,"

__ADS_1


"Tidur yuk sayang."


Zahirah menemani suaminya tertidur tapi pikirannya tertuju pada pesan Ningsih. Lama berpikir zahirah ikut tertidur juga.


__ADS_2