
Zahirah berjalan mundur terus "Jangan mendekat, " teriaknya "kumohon jangan mendekat aku tidak ingin menyakitimu lagi mas" Zahirah menangis keras.
Zahirah tidak menyadari akan terjadi seperti ini, ia hampir membunuh orang yang ia sangat cintai. "Aku pasti sudah gila.... aku sangat takut pada diriku sendiri, " mecengkram rambut keras.
Aditiya mengumpat berpakali di dalam hatinya. Kenapa juga harus keluar darah sialan ini. Aditiya ingin mendekat tapi tidak bisa jangan sampai ia mendekat istrinya akan berbuat nekat.
"Sayang tatap aku.... kumohon" Aditiya berusaha menbujuk istrinya
Zahirah menatap suaminya yang tidak jauh darinya, "Sayang aku tidak apa-apakan, tidak ada terjadi pada diriku jadi kumohon mendekatlah jangan membuatku takut sayang....." mohon Aditiya.
"Maafkan aku mas..... aku tidak bisa.... aku tidak bisa, " suarahnya mulai lemah.
Aditiya mulai panik ia melihat istrinya sudah pucat dan istrinya sudah berada di pingir balkon kamarnya
"Baiklah jika kau tidak ingin mendekat tapi kumohon sayang jangan bergerak " Aditiya butuh waktu untuk berpikir bagaimana caranya menyelamatkan istrinya sementara ia tidak bisa mendekat.
Napas zahirah mulai sesak, "Mas....mas....mas..." panggil Zahirah lemah.
Aditiya berlari cepat sebelum istrinya pingsan. Untung Aditiya tepat waktu kalau tidak istrinya akan terjatuh dari balkon kamarnya.
Aditiya mengangkat istrinya cepat dan membawanya ketempat tidur "Aldi ke kamar" aditiya menutup telponnya
"Tok..tok..tok" aldi heran baru kali ini tuanya memanggilnya jam 2 malam
__ADS_1
"Masuk"
Aldi terkejut melihat kondisi tuanya yang berantankan di tambah lagi leher dan bibirnya yang memerah seperti orang sudah dipukul
"Tuan baik-baik saja, "
"Jangan perdulikanku, aku baik-baik saja. Kau telpon dokter Henri saja suruh cepat kesini"
"Aku sudah disini Adit" di belakang Aldi ada dokter Henri. perkiraan dokter henri tepat akan terjadi sesuatu makanya ia tidak pulang kerumahnya.
Dokter Henri memeriksa Zahirah dengan hati-hati sementara Aditiya terus berada disamping istrinya yang masih pucat. dokter henri memberi beberapa suntik vitamin dan menginfusnya.
"Bagaimana ? "
"Jadi apa yang harus kulakukan Henri?. "
Dokter henri menghela napasnya, ia juga tidak tau apa harus di lakukan karna melihat kondisi Zahirah saat ini. Zahirah tipe orang tidak ingin menceritakan masalah ia alami, contohnya ia bisa pendam traumanya sampai sekarang.
"Saya tidak menyuruhmu diam Henri. Kau kusuruh memberi solusi "
"Begini Adit kurasa kau tau sendiri bagaimana istrimu ! "
Aditiya mengusap wajahnya gusar, ia tidak suka dengan keadaan ini " Jangan bertele-tele katakan yang sejujurnya. " Aditiya mulai emosi
__ADS_1
"Baiklah, pertama jika istrimu terbangun dari pingsannya ajak cerita istrimu tapi jika istrimu tidak mau bercerita jangan paksa jika dipaksaan akan menimbulkan kondisi yang lebih parah, yang sekarang yang bisa lakukan kau harus selalu di sisi istrimu jangan pernah meninggalkannya. Dia begitu lama selama kehamilannya. saya takut jika istrimu ditinggalkan istrimu berbuat nekat. kau pahamkan yang kumaksud. "
Aditiya hanya menganggukkan kepalanya "Kalau begitu aku permisi jika terjadi sesuatu kau bisa memanggilku. Aku mengantuk sekali. "
"Tuan apa sebenarnya terjadi sama nona ? "
Aditiya lagi menghela napasnya panjang,
"Aku tidak tau harus mulai dari mana Aldi, aku tidak tau kehidupan istriku di masa lalu sangat memperhatikan. " Aditiya menatap istrinya yang terbaring lemah dan mengelus-ulus kepalanya.
Aditiya berdiri dan menjauh sedikit dari istrinya. Aldi melihat tuannya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, ini baru pertama kali ia melihat raut wajah Aditiya yang di liputi kemarahan yang sangat besar, sampai buluk kuduk Aldi merinding.
"Cari tahu kehidupan istriku sebelum ia menikah denganku mulai dari apa penyebab ayahnya meninggal. semuanya tanpa terkecuali. kau paham apa yang ku mau Aldi "
Aditiya sangat membenci dirinya kenapa baru sekarang ia ingin menyelidiki kehidupan istrinya setelah kejadian ini,
"Dan satu lagi pasang cctv disemua ruangan termaksud kamarku dan toilet kamarku dan semua itu hanya terhubung dihpku. " Aditiya harus mengantisipasi kejadian akan terjadi.
Sekarang Aditiya duduk di samping istrinya yang masih terbaring lemah, ia mengusap kepala istrinya dengan sayang. Aditiya merasa seperti mimpi apa yang terjadi barusan. Bagaimana tidak istrinya tidak mengenalinya, bagaimana istrinya mencekiknya dan bagaimana istrinya berteriak keras semua masih tersimpan sangat jelas.
Aditiya mencium kening istrinya. "Maafkan aku sayang, jika selama ini aku tidak tau apa-apa tentangmu dan maafkan jika selama ini kau masih menyimpan luka dihatimu. Mulai sekarang aku akan berusaha membuatmu lebih bahagia dari sebelumnya, " mencium istrinya.
"Ini janji seorang Aditiya Kusuma Wijaya" batin Aditiya
__ADS_1