
Sebelum melanjutkan ceritanya, Adtiya berjalan menuju di mana foto terpajang diambilnya salah satu foto yang membuat hatinya menghangat, foto di mana zahirah tersenyum sangat cantik terlihat sangat bahagia "ahh....aku jadi merindukannya kan." batinnya
Ningsih melihat apa yang dilakukan Aditiya. Ningsih tidak tau harus bersyukur atau tidak karna selama ini Ningsih sangat berharap sahabatnya itu mendapat laki-laki yang baik dan mencintai Zahirah. Zahirah berhak bahagia setelah penderitaan yang dialaminya.
Ningsih tau kalau Adtiya sangat mencintai Zahirah terlihat dari sorot mata Aditiya ketika melihat foto Zahirah. Ningsih bisa menerima dengan kenyataan ini tapi tidak dengan hatinya, hatinya sudah terlalu jauh mencintai sosok laki-laki yang ada dihadapannya.
"Ningsih " panggil lagi aditiya tangannya masih memegang foto yang tadi dilihatnya (kumohon jangan memanggil namaku seperti itu) batin Ningsih. Adtiya kembali duduk "Aku tidak tau apa yang membuatmu pulang dengan tergesa-gesa sehingga kau tidak ingin bertemu dengan istriku" memperhatikan Ningsih hanya terdiam mendengarkannya, (bukannya saya tidak ingin bertemu dengan Zahirah tapi saya tidak tau harus bersikap seperti apa sementara rasa sakit hatiku tidak bisa kubendung sendiri) batin Ningsih.
__ADS_1
"Kau tak boleh membenci Zahirah, Ningsih karna dia tidak salah yang salah adalah saya, saya yang menyuruh Zahirah tidak memberi tahu siapapun karna awalnya saya menikahi sahabatmu hanya karna kasihan tapi sekarang rasa kasihan itu sudah berubah menjadi cinta. Cinta yang begitu besar jika kau ingin memaafkan Zahirah kau bisa meminta apapun dariku" Aditiya menceritakan bagaimana bisa menikahi Zahirah (bisakah saya meminta hati bapak untuk dicintai seperti bapak mencintai istri bapak) ingin rasanya Ningsih berkata demikian namun semua hanya hayalan semunya tak sedikitpun Aditiya ingin berpaling dengan istrinya.
"Jadi temui zahirah, dia selalu mengkhawatirkanmu bertanya tentangmu dan yang kau harus tau Zahirah sangat menyayangimu. Setiap aku bercerita tentangmu apa yang kau lakukan di kontar, Zahirah selalu bahagia dan semangat apalagi kalau kau menyelesaikan tugas dengan baik dia langsung membanggakanmu didepanku. Aku selalu cemburu jika Zahirah selalu menanyakanmu. Aku ingin dipikiran zahirah hanya aku seorang." Aditiya tertawa bagaimana ia bisa cemburu kepada seorang perempuan "Kau taukan seperapa besar rasa cintaku padanya jadi kumohon jangan menyakitinya dengan menghindarinya yang perlu kau salahkan adalah aku" sorot mata Aditiya terlihat memohon.
"Tuan" Aldi tak menyangka kalau Adtiya akan memohon seperti ini yang tidak pernah Aditya lakukan sekalipun. waktu orang tuanya bercerai Aditiya hanya diam dan melampiaskan rasa sakit hatinya dengan mengurung diri kamar dan menghabiskan minuman beralkohol yang tidak tau jumlahnya.
"Jadi telponlah Zahirah beri dia kabar kalau kau baik-baik saja" Aditiy berdiri "Aku ambil foto ini" Aditiya berjalan keluar tanpa memperdulikan Ningsih.
__ADS_1
Sebelum Aldi mengikuti Aditiya "Kuharap kau mengerti tuan Aditiya bicarakan" Aldi keluar dengan sorot mata yang sangat tajam sehingga Ningsih tertunduk merasa takut.
Setelah Aditiya dan Aldi keluar dari Apartemennya, Ningsih langsung duduk di lantai ia sudah tidak kuat menahan hatinya sesak isi kepalanya saat ini kosong. Di ingatan Ningsih saat ini perkataan Adtiya telponlah Zahirah. Bagaimana ia bisa menelpon zlZahirah kalau saat hatinya sakit. Ningsih belum siap bertemu atau berbicara dengan Zahirah. Hatinya belum bisa menghadapi Zahirah.
Karena takut dengan Aldi akhirnya Ningsih hanya mengirimkan pesan pada zahirah
"Ra....maafkan aku baru memberimu kabar, saat ini aku ada di Apartemen dan keadaanku baik-baik saja. Aku pulang tergesa-gesa karna aku terlalu syok kalau kau sudah menikah. Kau jahat Zahirah tidak memberikan taukan kabar bahagia kalau kau sudah menikah. Jahat. Tapi jika kau bahagia dengan pernikahanmu aku juga bahagia. Jangan mengkhawatirkanku, aku selalu baik berkat kau selalu disampingku " Ningsih menulis pesan dengan air mata yang mengalir dipipinya.
__ADS_1