HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 39


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, Zahirah terbangun dengan posisi yang sama, rupanya ia tertidur dilantai.


"Ahh..sudah pagi ya" Zahirah bangun dan duduk memperhatikan sekeliling rupanya suaminya itu tidak pulang kerumah "Apa mas Aditiya sudah makan apa belum" bukanya marah tapi justru Zahirah khawatir.


Ia mengambil ponselnya melihat apakah ada panggilan dari suaminya ternyata tidak ada. Zahirah merasa kecewa, ia membuka pesan ada beberapa pesan dari sahabatnya sekita Zahirah tersenyum.


Zahirah membaca pesan ningsi "Ra hari ini aku berkerja diperusahan aditiya, kamu tau kalau pak Aditiya itu baik" Zahirah menyetujuinya "Ra kamu tau kalau hari ini kita semua lembur, tiba-tiba saja suasana menjadi tegang, tidak ada seorangpun boleh pulang. semua pengawai mendapat pekerjaan tambahan padahal semua pekerjaan sudah selesai" Zahirah merasa sedih semua orang menjadi kesulitan "Ra kamu di mana sih kenapa kamu tidak membalas pesanku, Ra nanti lagi kuhubungi ya karna jam istrhatku sudah selesai. Aku merindukanmu "


"Aku juga merindukanmu sangat" Zahirah kembali menangis matanya sudah bengkak.


Zahirah berada di ruang tamu, ia ingin menunggu suaminya pulang pasti dia capek dan lapar.


"Nona, makan ya dari kemarin malam nona belum makan" kata kepala pelayan


"Iya, terimakasih pak."


Zahirah makan seadanya saja, ia terus memikirkan suaminya. Zahirah ingin bicara dengan suaminya untuk mengakhir ini, ia harus minta maaf tapi bagaimana cara ia minta maaf kalau ponsel Aditiya mati begitupun dengan Aldi. Apakah ia harus pergi kekantor jika ia kekantor suaminya maka semua orang tau kalau ia adalah istrinya Aditiya dan aditiya akan bertambah marah padanya. Akhirnya Zahirah memilih menunggu dirumah saja.

__ADS_1


Tengah malam menjelang tidak ada tanda-tanda Aditiya pulang tapi Zahirah tetap menunggunya, ia tidak lagi duduk disofa melainkan ia duduk dilantai didepan meja kepalanya tertunduk menyentuh meja "Mas pulanglah...aku ingin menjawab pertanyaanmu yang kemarin bahwa aku sangat bahagia menikah dengan jadi kumohon mas pulang ya..." kata Zahirah di dalam kesendirianny air mata lagi-lagi terjatuh.


Disudut ruangan kepala pelayan memperhatikan nyonyanya yang sedang duduk dilantai ia tidak tega melihatnya tapi ia juga tidak ingin menganggu nonanya yang sedang tertidur.


Aditiya pulang jam tiga subuh, ia masuk kerumah dengan cepat. Aditiya ingin melihat istrinya tapi sebelum menaikki tangga ia melihat istri sedang duduk dilantai dengan kepala tertunduk bersandar dimeja melihat kondisi itu membuat hatinya menjadi sakit lagi-lagi ia melihat keadaan istrinya yang menyedihkan. Aditiya menghampir Zahirah dengan lembut mengangkat tubuh Zahirah membawanya kekamar, sepanjang menuju kamar Aditiya memperhatikan muka istrinya, hatinya bertambah sakit ketika melihat kedua mata istrinya bengkak pasti istrinya ini menangis sepanjang hari.


Ahh betapa bodohnya dirinya bertindak seperti anak kecil.


Aditiya membaringkan Zahirah diranjang dengan hati-hati agar tidak terbangun tapi kelopak mata perlahan terbuka "Mas" Zahirah menyentuh pipi Aditiya "Iya" Aditiya memegang tangan Zahirah yang berada dipipinya.


"Tidak mas kita harus cerita"


"iya tapi besok ceritanya kamu tidurlah lagi"


"tidak mau, pasti besok mas tinggalkan aku lagi, sebentar saja dengarkan aku ya mas"


"Baiklah"

__ADS_1


Zahirah membenarkan duduknya "Mas bertanyakan apakah aku bahagia menikah dengan mas "


"Hmmm" Adtiya tidak mendengarkan apa yang istrinya katakan tapi ia lebih fakus kebibir istrinya mungil


"Aku...aku....aku...bahagia kok menikah sama mas" jawab Zahirah terbata


aditiya sudah tak tahan ingin mencium bibir itu "Benarkah"


"Iya benar mas" jawab Zahirah dengan senyum manisnya.


Pertahanan Aditiya runtuh sekita akhirnya ia menarik tengkuk istrinya dan menciumnya dengan lembut.


Zahirah membeku ia tidak tau tahu harus melakukan apa sedangkan Aditiya memperdalam ciumanya dengan malu-malu zahirah membalas ciuman suaminya.


Lama kelamaan Zahirah kehabisah nafas, Zahirah memukul pundak Aditiya kalau ia sudah tidak bisa bernafas. Aditiya melepaskan ciumannya matanya meminta sesuatu sedangkan zahirah mengatur nafasnya.


"Bolehkah?" tanya Aditiya, ia harus meminta izin dulu walaupun ia dan zahirah sudah menjadi suami istri tapi ia tetap ingin tahu jawaban istrinya.

__ADS_1


__ADS_2