HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 77


__ADS_3

Aditiya menatap istrinya yang di periksa oleh dokter Henri. Aditiya tidak tahu apa yang dipikiran istrinya saat ini kenapa dia harus menahan segalanya rasa sakit yang di deritanya.


"Bagaimana Henri? " tanyanya khawatir


dokter Henri menghela napas


"Jangan menakuti Henri, " suara Aditiya berubah menjadi dingin


"Aku tidak menakuti mu Adit, cuman kau tahu kan kalau istrimu sedang hamil, seharusnya kau menjaganya dengan baik. Untung saja rahim istrimu kuat. Kondisi istrimu saat ini aku tidak bisa memberikan jawaban pasti tapi yang kuliat istrimu sedang debperesi berat." ucap dokter Henri


"Deg ! "


bagai di sambar petir mendengar istrinya debperesi.


"Kenapa padahal didepanku dia masih saja tersenyum manis. Apakah aku kurang memperhatikan sehingga aku tidak tahu kalau istriku sedang sakit atau dia yang terlalu pandai menyembunyikan yang dia pendam. apa yang harus kulakukan... oh.... Tuhan." Pikiran Aditiya sekarang kosong, ia syok mendengar kalau istrinya debperesi.


Zahirah bergerak, "Sayang apa yang kau rasakan" menggengam tangan istrinya lembut


Zahirah yang kebingungan melihat raut wajah suaminya yang sangat khawatir

__ADS_1


"Aku baik-baik saja mas. "


Aditiya menghela napas, "Sayang kumohon, jangan berkata kau baik-baik saja padahal sebenarnya kau menyimpan luka di sini" tunjuk Aditiya hati istrinya.


"Kau harus memberitahu mas apa yang kau rasa saat ini karna mas tidak akan tahu kalau kau tidak memberi tahu mas sayang, " memeluk istrinya lembut.


Sekita zahirah menegang. Aditiya merasakan tubuh istrinya bergetar "Tidak apa-apa sayang... mas di sini, mas selalu ada untukmu tidak usah kau menahannya. jika kau ingin menangis, menangislah... mas akan selalu menemanimu, " ucapnya lembut dan membelai lembut kepala Zahirah.


Pertahan zahirah runtuh air mata yang sudah ia tahan di rumah sakit sekarang sudah tumpah. Zahirah menangis keras dipelukan suaminya


"Mas... kenapa Ningsih tega meninggalkanku... Ningsih tega mas.... aku sangat menyayanginya tapi kenapa Ningsih meninggalkanku mas... aku salah apa mas.... aku.... aku... aku..... arrrghhhh....."


Aditiya menatap istrinya menghiba agar Zahirah mengkontrol emosinya tapi Zahirah tidak mendengarkan apapun yang di dengar suaminya.


Tiba-tiba bayangan kelam di masa lalu mencul satu persatu. Apa penyebab ayahnya meninggal, ibunya yang meninggalkannya tanpa memberi tahu kalau ibunya sedang sakit dan sekarang Ningsih orang sangat sayangi setelah kepergian kedua orang tuanya.


Zahira menjambat ramputnya keras "Tidak... tidak aku tidak bersalah aku.... aku... aku tidak Membunuh. " Ucapnya pelan tapi di dengar oleh Aditiya "Aku tidak bersalah ayah ibu Ningsih kumohon jangan tunggalkan aku.... aku tidak bersalah...." Teriaknya keras....


Aditiya sangat syok melihat istrinya, ia tidak mengenal istrinya saat ini. Semua perkataan istrinya membuatnya syok tapi ketika Zahirah ingin turun dari tempat tidur. kesadaran Aditiya kembali ia menarik tangan istrinya dan memeluk.

__ADS_1


Aditiya memegang bahu istrinya agar ia bisa melihat wajah istrinya "Sayang tatap aku... kau masih ada aku... aku akan melakukan apapun untukmu tapi kumohon jangan begini... sadar sayang. "


Zahirah menatap aditiya, tapi di mata Zahirah bukan Aditiya ia menatap sosok yang membuatnya hancur. Zahira mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan keleher Aditiya "Semuanya gara-gara kau kenapa kau masih saja selalu menhantui hidupku. Gara-gara kau aku kehilangan ayahku. semuanya gara kau !. "


Muka Aditiya sudah memerah karna di cekik istrinya, ia hampir kehabisan napas kalau Zahirah tidak melepaskan tangannya dari lehernya tapi sekian detik tangan Zahirah menampar Aditiya.


"Plakkk. "


suaranya sangat keras saking kerasnya bibir aditiya sampai mengeluarkan darah.


Mata zahirah tertuju pada bibir suaminya yang mengluarkan darah seketika kesadaran Zahirah kembali, ia menatap tangannya apa yang sedang ia lakukan. Zahirah turun dari tempat tidur dan menjauh dari suaminya.


Tapi Aditiya mengikutinya "Jangan mendekat mas..." Zahirah berjalan menudur,


"Aku.... aku... aku tidak ingin lebih menyakitimu mas.... aku hampir saja membunuhmu mas.... apa yang harus kulakukan..... arrgghhhh......"


"Sayang mas tidak apa-apa.. kumohon berhenti berjalan.... aku baik-baik saja" mendekati istrinya yang sudah berada di balkom kamarnya kejadian yang dulu akan terulangi lagi tapi kali ini berbeda emosi istrinya sedang tidak sangat stabil.


"Aku akan membunuh orang yang sudah membuatmu begini sayang ! " batin Aditiya berjanji

__ADS_1


__ADS_2