
Pagi sudah menjelang mataharipun sudah terbit Zahirah masih ditempat tidur, sebenarnya ia sudah bangun dari tadi tapi ia enggan membuka mata, ia tidak mau menerima kenyataan ini, kenyataan yang akan membawanya kedalam permainan hidup.
"Tok...tok...tok..." suara pintu " nyonya waktunya anda siap-siap" suara kepala pelayanan
"Iya sebentar" dengan tubuh yang masih malas bergerak membuka pintu
"Silahkan masuk mbak " Zahirah mempersilahkan mbak yang ingin mendandanginya untuk acara pernikahannya.
Zahirah sudah didandangi seorang yang prefesional dibidangnya. sementara diruangan tamu sudah ada Aldi dan Widya
"Kak kau yakin kakakku mau menikah hari ini? " tanya Widya tidak percaya pasal ia ditelpon untuk pulang dari asramanya karna kakaknya mau menikah
"Iya nona" jawab Aldi malas
"Emang ada perempuan yang mau menikah dengan kakakku yang dingin, cuek dan satu lagi yang gila kerja " Widya merasa heran kenapa kakaknya tiba-tiba mau menikah padahal ia anti dengan namanya membina rumah tangga. Terus kenapa sekarang ia mau menikah apa alasannya.
Aldi yang ditanya hanya mengangat bahunya saja, melihat itu Widya tambah kesal belum lagi ia tidak tau bagaimana calon kakak iparnya apakah dia sama dengan mantan kakaknya yang kurang ajar itu kalau betul Widya akan menggagalkan pernikahan kakaknya.
__ADS_1
"Nona yang ingin menikah dengan tuan Aditiya tidak seperti perempuan yang anda pikiran nona " tepat sasaran
"Iihh yang tanya siapa " Widya dibuat kesal bisa-bisa Aldi tau apa yang ia pikirkan "Bisa tidak membuatku kesal kalau kita setiap kali bertemu" lagi-lagi Aldi mengangkat bahunya acuh.
Aditiya sudah keluar dari kamar dengan pakaian serbah putih dengan menampilan seperti ini kegagahan aditiya bertambah.
"Semuanya sudah siap? " tanya Aditiya kepada Aldi
"Sudah tuan "
"baiklah kita mulai pernikahannya dan panggil pengantin perempuannya"
Zahirah meremas gaun yang dia pakai untuk menghilangkan rasa gugup dan takutnya, ia mengangkat kepalanya matanya bertemu dengan mata Aditiya yang menatap tanpa eksperesi. Detak jantung Zahirah sudah tidak karuan lagi ia semakin meremas gaunnya.
Pernikahan dilangsungkan sangat tertutup tanpa ada orang yang mengetahui jangankan awak media keluarga Aditiya pun tidak ada yang diberi tahu. Yang mengetahuinya kedua pembelai, Widya, Aldi, dokter Henri dan kepala pelayan.
Dokter Henri yang sedang hadir dalam acara pernikahanan tidak percaya dan ia tidak mengetahui siapa calon istri temannya itu tapi ketika melihat Zahirah ia merasa pernah melihatnya. Tidak lama berpikir akhirnya dokter Henri mengenalnya "Ah..saya tau perempuan ini, perempuan yang dapat membuat Aditiya marah-marah tanpa sebab " henri melihat Zahirah tanpa berkedip bola matanya semakin membesar ketika mengenal siapa calon istri Aditiya.
__ADS_1
Tapi tidak Aditiya ia melihat dokter Hneri dengan tajam.
"Dok saya harap mata anda tidak betul-betul keluar " tegur Aldi, dokter Henri langsung melihat kesegala arah ia merasa sudah berbuat yang fatal "salah lagikan gue, aduh sejak kapan Aditiya bucin sama calon istrinya " batin dokter Henri
Acara pernikahan sudah selesai sementara zahirah duduk disofa dengan tiba-tiba datang seorang perempuan
"kakak ipar " tegur Widya
Zahirah berbalik kearah Widya, ia tidak mengetahui bahwa Aditiya atau yang sekarang sudah menjadi suaminya mempunyai adik perempuan.
"Astaga" Widya kaget melihat siapa yang menjadi kakak iparnya perempuan yang pernah ia bully tiba-tiba widya merasa bersalah " Kaka maafkan aku ya waktu di kampus..aku bersalah sudah bully kakak padahal kakak tidak bersalah sekali sama aku" kata Widya dengan mata yang berkaca-kaca
Zahirah melihat ketulusan hati adik iparnya "Iya dek saya sudah memaafkan kamu kok sebelum kamu minta maaf " Zahirah memeluk widya dengan sayang tak lupa tangannya mengusap punggung widya dengan lembut.
Mendapatkan perlakukan yang tulus dan tidak ia dapatkan sama dengan mantan kakaknya dulu Widya bersyukur "Terima kasih ya kakak ipar sudah mau menjadi istrinya kakakku yang dingin itu " bisik Widya.
Zahirah tersenyum lembut dengan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Semua yang lakuakan Widya dengan Zahirah yang sudah menjadi istrinya tak luput dari pandangan Aditiya. Hatinya menghangat melihat interaksi adiknya dengan istrinya yang belum lama menjadi nyonya Aditiya.