
Aditiya tidak menyangka kalau istrinya mempunyai pemikiran seperti itu, bukankah ia bersifat lembut mengikuti segala yang dia inginkan sudah menandakan kalau ia sangat menyukai istrinya.
Aditiya tidak mendengarkan suara tangis istrinya lagi "Zahirah" kaget Aditiya melihat istrinya sudah tak sadarkan diri.
Aditiya membaringkan Zahirah. Aditiya berpikiran kalau istrinya sedang tertidur karna kelelahan.
"Selamat tidur, aku mencintaimu sayang" cium kening istrinya
Aditiya ikut tidur dengan memuluk istrinya.
Ditengah malam Aditiya terbangun merasa panas dibadannya padahal pendingin ruangan tidak mati.
Ternyata panas yang ia rasakan bukan karna suhu ruangan yang panas tapi suhu istrinya sangat panas "Ra..bangun sayang" Aditiya berusaha tidak panik
"hmHmmm..." Zahirah perlahan bangun
"Apa yang kau rasakan"
"Dingin mas" Zahirah membuka matanya lemah
"Tunggu aku menelpon dokter"
"Tidak usah mas, aku akan baik-baik saja jika sudah isitirahat" ucap Zahirah lemah dan menenangngkan suaminya
"Tapi Ra" Aditiya tetap tidak bisa tinggal diam
"Jika sampai besok saya tetap dalam keadaan seperti ini mas bisa melakukan apapun"
"Tapi Ra, jangan berkata kalau kau baik-baik saja padahal kau tidak baik-baik saja"
__ADS_1
"Ini sudah malam mas, kita tidak bisa menganggu siapapun. Semua orang butuh istrahat kau juga mas istrahat ya" Zahirah mengusap punggu Aditya memberikan ketengan suaminya.
Aditiya hanya pasrah dari keras kepalanya istrinya, padahal ia bisa membangunkan siapapun. Zahirah tetap mengusap punggung Aditya agar suaminya ikut tertidur.
"Tidak usah mengkhawatirkanku Ra, mas tidak papa" Aditya mengambil tangan istrinya yang berada dipunggungnya dan menciumnya
"Hmmm"
"Kau tidurlah."
Zahirah tidak bisa tidur karna merasakan seluruh tubuhnya seperti dipukuli sakit semua. Tapi Zahirah tidak ingin menganggu siapapun jadi ia berusaha untuk tidak mengeluh.
" Mas"
"Loh kok belum tidur"
"Mas juga belum tidur "
"Tidak usah mas, kan aku sudah bilang akan baik-baik saja" bohong Zahirah
Aditiya mendesah kenapa istrinya keras kepala sekali malam ini padahal setaunya istrinya sangat penurut.
Aditya sedang memeluk istrinya terasa sekali kalau suhu istrinya tidak normal tapi ia harus berusaha tidak gegabah ia tidak ingin bertengkar cuman gara-gara seperti ini.
"Ra tidur ya" khawtir Aditiya
"Iya, mas boleh aku menanyaankan sesuatu"
mulai lagikan seharusnya dia istirahat, "Boleh"
__ADS_1
"Apa mas memberikan hadiah untuk Ningsih" sebenarnya Zahirah sudah ingin menanyatakan sewaktu diruang tamu
"Iya memang kenapa"
"Tidak, aku hanya ingin berterimah kasih"
"Berterima kasih untuk apa"
"Terimah kasih untuk segalanya, terimah kasih sudah menolong dan membahagiakan orang kusayangi"
"Ningsih " Aditiya tak menyangka kalau Ningsih sangat berharga bagi istrinya
"Iya, tadi Ningsih terlihat sangat bahagia dan mas tau dia mengajakku loh tinggal bersama" Zahirah mencerita apa yang di lakukan bersama Ningsih walau Aditiya tidak memintanya
"Terus kau menurutinya, awas ya kalau kau menurutinya" ancam Aditiya
"Hahah...tidaklah akukan sudah punya suami yang aku sayang"
"Apa yang kamu bilang tadi "Aditiya mendengar kata yang membuatnya bahagia
"Aku punya suami"
"Bukan yang terakhir "desak Aditiya
"Tidak ada-ada hanya itu yang kuucapkan" Zahirah mengelak ia tak sengaja mengucapkan kalau ia menyayangi suaminya
"Zahirah"
"Baiklah tapi jangan marah ya, aku sayang mas Aditiya, aku sangat menyukaimu mas jika mas tidak memiliki perasaan apapun untukku itu tidak papa yang penting aku bisa selalu bisa bersamamu dan itu sudah membuatku sangat bahagia."
__ADS_1
Ungkapan cinta yang menyedih, yang tak mengharap cintanya terbalas. Itulah yang selalu Zahirah lalukan ketika selalu bersama dengan orang ia sayangi
"Mas tidak marahkan" Zahirah mendongkakkan kepalanya "Ahhh rupanya ia tertidur" Zahirah menggeser sedikit badannya "Cup" Zahirah mencium aditiya yang tertidur "Aku mencintai mas Adtiya Kusumu Wijaya dan maafkan aku jika aku serakah" Zahirah mengusap wajah suaminya "Selamat tidur mas kusayang" ia kembali memeluk suaminya.