HATI YANG MENYIMPAN LUKA

HATI YANG MENYIMPAN LUKA
Bab 66


__ADS_3

Ningsih kembali bekerja seperti biasa, ia mulai menata hatinya untuk dirinya sendiri. namun sampai saat ini Ningsih belum siap untuk bertemu dengan Aditiya. Ningsih berusaha menghindari dari pertemuan Aditiya. setiap kali ada berkas ingin di periksa oleh Aditiya, Ningsih memberikan kepada Aldi.


Tapi kali ini Ningsih tidak bisa berbuat apa-apa, ia berada satu lif dengan Aditiya


" selamat pagi pak" sapa Ningsih


"Pagi Ning"


Ningsih tersentak dengan panggilan yang diucapkan Aditiya, pasokan udara diruangan lif terasa sangat sedikit. Ningsih mundur beberapa langkah untuk mentralkan jantungnya.


"Ningsih sebentar Zahirah mau datang ke kontor, kau datanglah keruanganku dan temani Zahirah karna aku ada rapat "


"tapi pak, saya banyak berkas yang belum selesai" menolak dengan sopan, kalau ia harus menyaksikan dua insan yang jatuh cinta yang bermesraan. Di mana hatinya belum bisa sembuh sampai saat ini.


"Tidak apa-apa, kau bisa mengerjakannya besok-besok"


Ningsih yang tidak bisa lagi menalok "Baiklah pak saya akan keruangan pak Aditiya kalau Zahirah datang"


"Terimasih kasih" mengusap kepala Ningsih


"atas pengertianmu " tersenyum


Aditiya keluar dari lif meninggalkan Ningsih sendirian yang diam mematung. Ningsih tidak menyadari air matanya keluar. Ini pertama kalinya Ningsih mendapatkan senyum Aditiya. Hatinya bertambah sakit


"Kenapa harus begini, kenapa dia memperlakukanku sangat manis" duduk di lantai Lif. Beruntung karna belum ada orang yang masuk lif selain dirinya.


Zahirah memasukki perusahaan suaminya untuk pertama kali. Membulatkan matanya tak percaya ternyata kata orang-orang kalau perusahaan Aditiya Kusuma Wijaya yang terbesar di kota ini dan Zahirah baru menyadari kalau suaminya itu orang tersukses di kota ini.


"Apa aku pulang saja yah" merasa minder


"Tau-tau gini aku tidak memaksa mas Aditiya kalau aku mau datang keperusahannya" gumannya


"Nyonya" salah satu pengawai yang melihatnya


"Ah iya aku mau bertemu dengan mas Aditiya" jawab canggung


"Pak Aditiya sedang rapat nyonya"

__ADS_1


"Ah benarkah kalau begitu aku pulang saja"


Zahirah berbalik ingin meninggalkan perusahan suaminya, tiba-tiba ada memanggilnya


"Zahirah"


Zahirah berbalik kesumber suara "Ningsih" berlari kearah Ningsih


"Pelan-pelan nyonya Aditiya nanti kau terjatuh bisa-bisa aku di pecat cuma gara-gara kau terjatuh"


"Ihh apaan sih, aku kan rindu sama kau" cemberut


"Baiklah, hari aku Ningsih menemanimu sampai suamimu selesai rapat"


"Yey... Ningsih memang terbaik" dengan begini Zahirah tak merasa lagi minder di depan pengawai suaminya.


Di dalam ruang kerja suaminya Zahirah memperhatikan wajah Ningsih yang matanya bengkak.


"Apakah Ningsih ada yang menyakitinya di perusahaan atau ada yang membully Ningsih" batin zahirah


"Ning"


"Ihhh tidak mas Aditiya tidak kau kalau di panggil selalu jawabannya hmmm... hmmm... hmmm" kesal selalu saja


"Hahah.... baiklah ada apa Zahirah kusayang"


"Ihhh tidak usah lebay juga" memukul Ningsih pelang.


Ningsih hanya tertawa "Ning ada yang menyakitimu di perusahaan yah?"


"Ehh kok tanya begitu" terkujut "Memang kenapa kau bertanya seperi itu"


"Itu mata mu bengkak kau sudah menangiskan pasti ada yang menyakitimu"


"Sial, suami ra.. suami yang menyakitiku dengan perlakuan manisnya" batin Ningsih


"Ohh aku tadi" berpikir keras mencari alasan

__ADS_1


"Iya kau kenapa" desaknya


"Aku tadi...."


Pintuk terbuka, terlihat dua orang laki-laki berjalan kearahnya yang satu dengan muka dinginnya yang satu dengan senyuman manis. Zahirah berlari.


"Mas"


Aditiya memberikan ciuaman keistrinya. Aldi yang sudah terbiasa jadi menganggap itu biasa saja sedangkan Ningsih memalingkan wajahnya.


"Mas ihhh malu tau ada Ningsih" bisiknya


"Ningsih tidak lihatk kok "


Ningsih berdiri ingin berpamitan jika ia berlama-lama ia bisa mati berdiri. Ningsih tidak sanggup melihat Zahirah dan Aditiya bermesraan tepatnya hatinya yang belum siap.


"Ning mau kemana?" tanya Zahirah


"Mau kembali nyonya" Ningsih sengaja memanggil Zahirah dengan nyonya demi menghormati Aditiya


"Ning kau tak perlu memanggilku seperti itu Ning"


"tapi nyonya" melihat kearah Aldi.


Zahirah melihat mata Ningsih " iya kan mas" menarik baju suamiya. Aditiya hanya menganggukan kepalanya, ia lebih memilih mencium leher istrinya.


"Ning kau tidak usah pergi dulu kita makan bersama"


"Tapi ra " muka Ningsih memohon agar ia di izinkan keluar dari ruangan Aditiya


" iya kan mas, Ningsih boleh makam bersama kita" Aditiya menganggukan kepalanya lagi


"Mas jawab" menjauhkan diri dari dekapan suaminya


"Iya sayang, ning kau tinggal makan bersama kita"


memeluk kembali istrinya "kau sudah senang" Zahirah menganggukan kepalanya

__ADS_1


Ningsih pasrah, ia tidak bisa lagi menolak.


__ADS_2