
Ningsih kesal mendengar pertanyaan Zahirah, bisa-bisanya Zahirah menanyakan hal yang tidak penting.
"Astaga Zahirah, pertanyaan apa itu dan ayo cepat kerumah saki. " perintah ningsih
"Baiklah" jawab Zahirah dengan lembut.
Sebenarnya Zahirah bertanya hal yang tidak penting kepada Ningsih hanya ingin mengalikan pikirannya, agar tidak pikiran buruk tentang ibunya.
Ningsih menlajukan motornya dengan kecepatan rata-rata, Ningsih juga takut kalau ibu Zahirah terjadi sesuatu. Ningsih sudah menganggap ibu Zahirah menjadi ibunya sendiri karna kedua orang tua Ningsih sudah lama meninggal akibat sakit parah.
Sampailah Ningsih dan Zahirah diruamah sakit
"Sus pasien bernama zahra diruangan berapa sus?" tanya Ningsih
"Anda keluarganya ibu Zahra?" tanya suster
"Iya sus, saya anaknya dan ini teman saya sus " jawab Zahirah
"Ibu Zahirah masih ruangan UGD mba, kami belum bisa memindahkan keruangan rawat inap karna pihak keluarga belum menyelesaikan adiministrasinya mba" kata suster memberikan penjelasan
"Baiklah sus, Ningsih kau pergi liat ibu dulu saya akan menyelesaikan administrasi ibu dulu" kata zahirah
__ADS_1
Ningsih hanya menganggukan kepalanya dan berjalan menuju keruangan UGD.
"Tapi sus bisakah saya mencecilnya biaya pengobatan ibu saya?" tanya Zahirah hati-hati
suster tersenyum "Tentu bisa mba dan dirumah sakit ini memiliki peraturan bagi keluarga yang kurang mampu membiayai pengobatan keluarganya yang sedang sakit akan mendapatkan keringan seperti potongan biaya 50% dan dapat mencicil biaya pengaobatan pasien" tutur suster
mendengar penjelasan suster Zahirah merasa mendapat air segar, jika Zahirah tidak mendapatkan keringganan Zahirah harus memutar otaknya di mana dia harus mendapat uang sebanyak itu. Di dalam hati Zahirah berdoa "Siapapun pemilik rumah sakit ini saya berharap dapat ketemu dan menngucapkan terimah kasih."
Setelah ibu Zahirah dipindahkan ruangan rawat dan disinilah mereka bertiga, ibu Zahirah masih dalam keadaan tertidur sedangkan Zahirah dan Ningsih sedang duduk berdampingan.
"Ning apakah ibu akan baik-baik saja "tanya Zahirah yang tidak mengalihkan pandangannya pada ibunya.
"Tentu saja ibu baik-baik saja, ibu cuma kecapeaan jadi ibu pingsan" kata Ningsih menghibur Zahirah
"Benarkah, tapi kenapa ibu belum juga bangun Ningsih?" tanya Zahirah dengan suara rendah menahan air matanya
"Iya Zahirahku yang paling kusayang melebih dunia ini " jawab Ningsih bercanda
"hahaha...jangan lebay iya, Ningsih emangnya kamu tidak sibuk tumben jam segini kamu pergi meninggalkanku biasanya jam segeni kamu sudah hilang batang hidungnya?" tanya zahirah
"Sembarang kalau bicara hidung gue masih ada iya tidak kemana-mana" jawab Ningsih kesal
__ADS_1
"hahaha..maksud aku emang kamu tidak sibuk jam segini?" tanya Zahirah.
"Sibuk sih, tadinya aku ingin meninggalknmu tapi melihat wajahmu akau tidak tega. muka mu itu kayak anak kucing yang kehilangan induknya" jawab Ningsih dengan tertawa karna melihat wajah zahirah cemberut.
"Ya udah sana pergi kalau kamu sibuk "jawab Zahirah kesal dan mendorong bahu Ningsih pelan
"Hahaha...maaf..maaf..habisnya sih mukamu lucu tau kalau cemberut. saya tidak sibuk ko hari ini" jawab Ningsih
Zahirah ingin menjawab tapi tertahan karna melihat pergerakan mata ibunya
"ibu bagaimana keadaan ibu apakah ibu menginginkan sesuatu "tanya zahirah yang tidak sabar setelah melihat ibunya sudah sadar
Ningsih melihat hanya mengelengkan kepalanya dan ibu zahirah hanya tersemyum melihat kekhawatiran anaknya.
"Saya baik-baik saja nak dan saya hanya ingin minum air." jawab zahra dengan suara serak
dengan cepat Zahirah mengambil gelas dan mengisinya air.
"Ini ibu..pelan-pelan ya minumnya" kata zahirah lembut dan memberikan segelas air
Zahrah hanya menganggukkan kepalanya dan langsung memminum air hingga tandas.
__ADS_1