Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Lara


__ADS_3

"Kamu mau balik ke rumah sakit? Biar kuantar," Alfi bertanya kepadaku sebelum dia berpamitan pada Mayra, dengan setelan baju kemeja putih berlengan panjang, dia terlihat seperti sosok imam yang sempurna.


Aku menggeleng. "Aku sudah terlanjur pergi, besok saja aku ke sana lagi," kataku. Sebenarnya aku sendiri pun masih bingung mau ke mana, menginap di rumah bibiku atau pulang ke rumah Reza.


"Sebentar lagi magrib. Kamu mandi saja dulu. Nanti pakai bajuku," kata Mayra.


Kuanggukkan kepala dan kuucapkan terima kasih pada perempuan secantik bidadari itu. Aku pun pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Sekitar jam setengah delapan, waktu isya sudah berlalu sekitar dua puluh menit, aku hendak berpamitan pada Mayra. Kupikir dan kurasa -- aku tidak enak kalau Alfi pulang dari masjid tapi aku masih ada di sana. Sebab itu kuputuskan untuk segera pergi, aku pun berencana memesan taksi online lalu menemui Mayra di dapur. Dia sedang menemani Tirta makan malam.


"Ma, minta Papa pulang besok, ya. Tirta pingin jalan-jalan."


Aku langsung menghentikan langkah kakiku ketika mendengar si kecil Tirta sedang mengobrol dengan ibunya. Saat itu otakku langsung berpikir kemungkinan Alfi dari masjid langsung ke rumah sakit untuk menemani Reza, dan aku merasa semakin tidak enak karena kupikir Alfi terlalu sibuk mengurusi urusan Reza perihal rumah sakit, masalah penusukan, sampai mendamaikan Reza dan Alvaro. Terlebih saat itu Mayra sempat diam, dia tidak langsung mengiyakan keinginan anaknya.


"Ma... bisa, kan? Please...?"


"Nak...."


"Kali ini... saja, please...?"


"Lusa, ya Nak. Besok kan Papa masih di rumah Mama Dinda. Nanti Dede-Dedenya sedih kalau papanya pulang ke sini."


Prang!


Sebuah nampan plus gelas-gelas kacanya terlepas dari tanganku, jatuh pecah berserakan di lantai. Mayra dan Tirta pun kaget melihatku membeku di sana, di pintu dapur. Yah, sama kagetnya seperti aku yang mendengar kenyataan itu -- kenyataan bahwa cinta Alfi kepada Mayra yang selalu kubanggakan ternyata tidak sesempurna seperti yang selama ini kupikirkan.


"Sayang, kamu lanjutkan makan sendiri, bisa? Mama mau bicara dulu dengan Tante Nara."


Tirta pun mengangguk dan menuruti apa yang diperintahkan Mayra padanya.


"May... ak... aku... aku...," arrrgh suaraku tercekat.

__ADS_1


Mayra menyentuh dan meremas pundakku dengan lembut. "Duduk dulu," katanya. Dia memapahku tapi kakiku rasanya lunglai hingga aku jatuh dengan telapak tangan dan lutut yang mendarat ke lantai. Yap, telapak tangan kiriku terluka tertusuk pecahan beling. Mayra panik dan langsung meraihku. Dia menyuruhku duduk di kursi meja makan, tapi dia bingung hendak melakukan apa dulu. Aku tahu dia takut Tirta berdiri dan menginjak lantai yang dipenuhi pecahan kaca itu, di sisi lain dia pasti memikirkan lukaku yang berdarah atau bahkan bisa terinfeksi.


"Biar aku yang bersihkan," kataku.


"Tapi lukamu..."


"Nanti bisa kuobati sendiri. Kamu jagain Tirta."


Sebisa mungkin aku berusaha menguasai kembali diriku. Aku pun berdiri untuk membersihkan lantai itu, setelah itu barulah aku mengobati lukaku. Ketika semuanya selesai, Mayra menggandengku ke sofa, dia hendak menceritakan tentang kisah poligami dalam rumah tangganya. Sebelumnya dia menyuruhku minum segelas air putih hangat dan memintaku mengatur napas supaya aku tenang.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang tentang sosok Alfi?" Mayra mengawali cerita itu dengan mengajukan pertanyaan itu padaku terlebih dulu.


Aku menggeleng. "Aku tidak bisa berpikir apa-apa, May. Yang jelas aku terkejut, aku kaget. Aku...."


"Seakan ada gempa, dan kamu terjebak di tengah-tengah reruntuhan, kamu takut, kamu panik, dan kamu hanya bisa pasrah dan lunglai di sana, di tempat kamu berdiri. Seperti itu, kan? Itu yang kurasakan dulu. Bahkan lebih dari itu, Ra. Sakit sekali rasanya di dalam sini."


Aku tahu, May. Aku tahu rasanya pasti sakit sekali.


Persis Reza, tanpa mengucapkan pernyataan cinta, dia langsung mesra: menggandengku, memelukku, menciumku, lalu mengakuiku sebagai calon istrinya.


"Pada masa kuliah barulah kami saling memperkenalkan satu sama lain pada keluarga masing-masing. Keluargaku menyukai Alfi, begitu juga keluarga Alfi, mereka menyukaiku, mereka sayang padaku. Setelah selesai kuliah, aku langsung kerja, sementara Alfi melanjutkan S2 ke luar negeri, tapi sebelum Alfi pergi -- kami memutuskan untuk bertunangan. Sampai saat itu semuanya masih baik-baik saja. Meskipun kami LDR, komunikasi kami tetap baik, Alfi pun selalu pulang tiap libur semester. Setelah dua tahun, Alfi berhasil menyelesaikan pendidikannya, dia pun kembali ke Indonesia, lalu kami memutuskan untuk menikah."


Mayra diam sejenak, tapi tidak hening, dia menangis sesenggukan. Begitu juga aku, meski tidak sampai sesenggukan, tapi air mataku tidak mau berhenti.


"Satu bulan sebelum pernikahan, aku mengalami kecelakaan. Kedua orang tuaku meninggal di tempat. Entah mukjizat entah apa, aku malah selamat. Harusnya aku ikut mati saja bersama mereka."


Kuraih tangan Mayra dan kugenggam kuat-kuat. "Jangan bilang seperti itu," kataku. Tidak ada nasihat yang baik yang bisa kuucapkan. Shock di dalam diriku masih bertahta di dalam sana.


"Seketika duniaku hancur. Kecelakaan itu berakibat fatal, aku mengalami cidera parah yang mengharuskan rahimku diangkat. Sejak itu semuanya berubah, orang tua Alfi langsung menentang pernikahan kami. Yah, itu bukan salah mereka, tentulah mereka mengharapkan wanita yang sempurna untuk menjadi menantu, yang bisa memberikan mereka keturunan. Iya, kan? Iya kan, Ra?"


Aku diam saja dengan air mata yang mengalir. Aku tidak bisa menggeleng apalagi mengangguk.

__ADS_1


"Tapi Alfi tetaplah Alfi, sosok lelaki yang mencintaiku tanpa syarat. Dia tidak pernah berubah. Dia memilih menentang orang tuanya demi aku, demi menikah dan hidup bersamaku."


Jelas aku sudah bisa menebak kelanjutan ceritanya. Kisah cinta yang seringkali tersuguh di dalam novel ataupun sinetron dan film. Tapi siapa sangka -- dalam dunia nyata ini kisah itu terjadi pada sahabatku, orang yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.


"Kamu tentu bisa menebak kelanjutannya, kan? Apalagi kamu penulis, kamu suka membaca novel dan menonton film. Pasti kisah cinta seperti ini sangat tidak asing bagimu." Mayra diam sambil menghapus air matanya, kendati air mata itu tak hentinya keluar.


"Aku pernah bilang, kan, kalau aku mau membatalkan pernikahan? Tapi Alfi itu persis Reza, dia tidak akan pernah mau melepaskan aku, seperti Reza yang tidak akan pernah melepaskanmu. Saat itu aku sangat bingung, Ra. Di satu sisi Alfi itu kebahagiaanku, aku juga tidak tega membiarkan dia hidup dalam kesedihan kalau aku meninggalkannya. Tapi aku juga tidak mau menjadi penyebab keretakan hubungan Alfi dengan keluarganya. Aku juga tidak mau menikah tanpa restu. Lalu... aku mengajak Alfi menemui orang tuanya, untuk memohon supaya mereka mau merestui kami."


Mayra tersenyum, tapi bukan senyuman bahagia. Aku tidak tahu harus menyebutnya jenis senyuman apa. Senyuman itu menggambarkan rasa sakit hati, kecewa, atau seperti mengejek dirinya sendiri. Aku tahu, May. Aku bisa menebak kelanjutan ceritamu.


"Orang tua Alfi bersedia merestui kami, tapi... mereka mengajukan syarat. Syaratnya...." Mayra menggelengkan kepala dengan air mata yang menetes-netes.


Oh Tuhan....


"Mereka meminta Alfi -- juga menikahi perempuan lain?" tebakku. Seperti itulah pemikiranku.


Mayra mengangguk. Dia membenarkan tebakanku. "Tidak ada yang bersalah dalam kisah ini, Ra. Apalagi Alfi, dia tidak bersalah. Dia bahkan bersedia meninggalkan keluarganya. Dia bahkan mengancamku, kalau tidak bersamaku -- dia tidak akan mau bersama siapa pun, termasuk keluarganya. Dia ingin pergi jauh meninggalkan semua orang. Yeah, akhirnya kami sama-sama berkorban, aku mau bersamanya asal dia juga mau memenuhi persyaratan orang tuanya."


"May... kamu kan punya pilihan bersama Alfi tanpa harus mengorbankan diri kalian berdua. Kenapa? Kenapa hatimu sebaik itu? Orang tuanya egois, kan? Hanya demi seorang cucu sampai harus mengorbankan anaknya sendiri?"


Mayra kembali tersenyum, senyuman yang sama seperti tadi. Dia membuatku speechless. "Aku kan sudah bilang, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Aku yang punya kekurangan, bukannya Alfi. Alfi berhak punya keturunan darah dagingnya sendiri. Orang tuanya -- ibunya -- yang melahirkan Alfi. Dia berhak...." Mayra menggeleng-geleng sambil menahan sesak. "Orang tuanya sama sekali tidak bersalah. Alfi anak tunggal, mereka menginginkan penerus keluarga Wijaya. Itu tidak salah."


"Oke. Aku paham," kataku.


Mayra pun menceritakan tentang Dinda, seorang gadis muda yang kala itu baru menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA, tapi demi membalas jasa orang tua Alfi kepada keluarganya, Dinda bersedia menikah dengan Alfi yang usianya terpaut hampir delapan tahun dengannya. "Orang tua Dinda waktu itu mengalami kebangkrutan dan hampir masuk penjara karena terbelit hutang. Orang tua Alfi yang membantu menyelesaikan masalah mereka. Bahkan biaya pendidikan Dinda pun ditanggung oleh keluarga Alfi. Sebelum mereka menikah, Dinda menganggap Alfi sebagai kakaknya. Begitu pula Alfi, dari dulu dia menganggap Dinda itu seperti adiknya sendiri. Siapa yang menyangka pada akhirnya mereka malah menjadi suami istri. Mereka sekarang sudah punya dua anak perempuan. Sekarang hampir tiga. Dinda sudah hamil lagi. Orang tuanya kepingin punya cucu laki-laki."


"Stop, May. Please...," kataku.


Sungguh, aku tidak tahan mendengarnya, terlebih melihat Mayra yang terguncang saat menceritakan kehamilan Dinda -- kehamilan yang ke tiga. Kurengkuh Mayra dengan kuat. Ikut merasakan sakitnya.


Aku pun sakit melihatmu seperti ini, May. Maafkan aku. Karena aku kamu harus menguak luka itu malam ini.

__ADS_1


__ADS_2