Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Nano-Nano!


__ADS_3

Reza mengutarakan permintaan maaf kepadaku atas situasi yang tidak kondusif akhir-akhir ini. Katanya hal-hal yang menimpanya akhir-akhir ini membuatnya jadi tidak peka -- atau kurang lebih seperti itu -- sehingga dia sampai tidak memerhatikan hal-hal yang mungkin membuatku merasa diabaikan.


"Basa-basimu terlalu panjang, bertele-tele. Langsung saja, kamu mau bilang apa?" kataku. Bubur yang tadinya sudah memenuhi sendok -- kutaruh kembali ke piring. Kuhentikan sebentar menyuapinya makan.


Reza menyunggingkan senyuman kecut, pada dasarnya kami cukup memahami satu sama lain, dia dengan kalimat-kalimatnya yang penuh basa-basi versus aku yang blak-blakan -- straight to the point.


"Aku minta maaf karena aku egois, aku menentukan sendiri apa-apa tentang pernikahan kita, tidak bertanya dulu apa kamu suka, apa kamu mau. Harusnya aku mendiskusikannya dulu dengamu kamu maunya bagaimana, ya kan?"


Aku mengangguk. "Memang," kataku. "Harusnya begitu, harusnya kamu tanya bagaimana mauku. Aku yang paling terpenting dalam pernikahan ini, tapi aku yang paling tidak digubris, yang paling diabaikan. Tahu-tahu harus mengikuti kemauan kalian, menggelar pernikahan di Palembang. Di Palembang mana ada pantai."


Reza menatapku dengan raut wajah penuh penyesalan. Mungkin dia tidak berpikir kalau aku akan membahasnya sampai ke pantai. "Maafkan aku," katanya sambil menggenggam satu tanganku kuat-kuat.


Sebisa mungkin kutahan senyum yang ingin mengembang. Puas sekali rasanya membuatnya merasa bersalah begitu. Siapa suruh mengabaikan perasaanku?


"Kamu marah?" tanyanya.


Kutaruh piring di atas bed dan kulepaskan satu tanganku yang ia genggam, lalu kupegangi kedua pipinya dan menariknya lebih dekat padaku. Aku pun mencium keningnya dengan sepenuh perasaan. "Hanya kecewa, sedikit," kataku pelan. "Tapi tidak apa-apa. Kamu kan manusia biasa. Tidak semua hal bisa kamu lakukan. Contohnya, kamu tidak bisa berkuda, tapi kamu bisa main kuda-kudaan."


Sontak dia tertawa dan langsung merasakan sakit pada luka bekas operasinya. "Kamu jangan melucu. Perutku masih sakit kalau tertawa."


Uuuh... kasihan, tapi aku malah ikut tertawa.


"Jadi?"


"Apa?"


"Aku sungguh-sungguh minta maaf, ya?"


"Em." Aku mengangguk. "Lupakan saja. Tidak apa-apa impianku menikah di tepi pantai tidak terwujud. Yang penting sah dan aku menikahnya denganmu, bukan dengan orang lain."


Bahagia. Reza langsung memelukku, lalu mengecup kepalaku. Dia mengucapkan terima kasih atas pengertianku kepadanya.


"Apa ada lagi yang mau kamu bahas?"


Masih ada katanya. Dia ingin membahas soal mahar pernikahan. Di rencana pernikahan sebelumnya, yang mestinya digelar di Jakarta, berapa jumlah gram emas dan berapa jumlah rupiahnya tidak akan menjadi sorotan, cukup menyebutkan emas kawin sekian gram. Kami tidak berniat menyebutkan nominal uangnya. Tapi beda halnya kalau di kampungku, berapa besar gram dan berapa rupiahnya pasti menjadi sorotan utama orang sekampung.


"Ihsan bilang begitu," katanya.


Aku pun membenarkan, memang seperti itu kalau di Palembang. "Jadi, apa kesepakatanmu dengan Ihsan? Kamu bukan bermaksud berdiskusi denganku, kan?"


"Maaf, Sayang.... Aku menyesal. Harusnya aku mendiskusikan soal ini dulu denganmu. Maaf, maaf, maaf... sekali."


Untuk urusan diskusi dia memang selalu menyebalkan. "Jadi berapa? Jangan bertele-tele."


"Sesuai keinginanmu supaya kelak tidak memberatkan Ihsan. Dua puluh tujuh juta," katanya. "Dan untuk emasnya, nanti kutambahkan satu cincin polos yang akan kusematkan di jarimu dan satunya gelang kaki, jadinya tujuh suku. Bagaimana?"


Senyumku langsung mengembang, selain pengertian -- lelakiku yang tampan itu masih sempat-sempatnya memikirkan hal semanis itu, tanpa kuminta dia berniat memberikan mahar sesuai tanggal kelahiranku. "Thanks, aku beruntung memiliki kekasih semanis kamu," kupuji dia dan kupeluk ia lebih erat.


Reza pun mengangguk dengan senyuman kecil membelah wajah.


"Sayang," dia bersuara lagi.


"Emm?"

__ADS_1


"Omong-omong...."


"Apa?"


"Aku belum kenyang. Suapi lagi...."


Ya ampun yang sedang sakit, manjanya luar biasa. Aku pun mengangguk. Tetapi...


"Biar aku yang suapi."


Aku dan Reza sontak menoleh ke pintu. Salsya berdiri di sana. Mungkin sudah sedari tadi dia menunggu kesempatan untuk masuk supaya tidak terkesan terlalu mengganggu. Meski sebenarnya tetap saja sangat mengganggu. Sangat. Dasar!


"Jangan bersikap manis," kataku setengah berbisik sambil melotot pada Reza.


Salsya yang tanpa menunggu persetujuan langsung masuk dan menghampiri kami. "Boleh, kan, aku yang menyuapimu?"


"Tidak perlu," sahutku. "Biar aku saja."


Salsya tidak menjawab, dia hanya mengangguk lemah lalu menggeser kursi. Dia duduk di sana, di samping Reza. "Bagaimana keadaanmu?"


Aku yang duduk di depan Reza, di atas bed -- merunduk tapi sambil melotot ke depan dengan sorot mata mengancam. Reza sempat melirikku sebelum menjawab pertanyaan Salsya. Aku tahu dia merasa canggung berada di antara kami, di antara aku dan Salsya -- dua wanita gila yang sama-sama mencintainya.


"Aku sudah lebih baik," sahut Reza.


"Syukurlah. Aku turut senang."


"Em. Terima kasih, Sya."


"Ya, sama-sama."


"Oh ya, aku sudah dari tadi ke sini. Tapi Alfi melarangku masuk. Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu masuk rumah sakit?"


Reza tidak menjawab. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Berdetik-detik.


"Untungnya Kayla melihat Alfi di sini. Jadi dia bisa tahu kalau kamu dirawat di sini. Dan dia... dia yang memberitahuku."


Oh, untung saja aku tidak memperdebatkan soal itu. Untung aku tidak menyalahkan Reza dan tidak berpikir kalau Reza yang memberitahukan keberadaannya pada Salsya.


"Kukira kalian sudah pergi bulan madu. Ternyata...."


Tetot! Tidak ada yang menyahut.


"Oh, sori. Maksudku, aku... aku turut sedih atas pernikahan kalian... yang gagal."


Tik tik tik tik...


Haruskah kulempar dia dengan piring porselen ini?


Bubur yang sedari tadi kuaduk-aduk sekarang jadi terlihat menjijikkan. Tapi tetap kusuapkan ke mulut Reza, terserah dia jijik atau tidak. "Mas, aaa... makan lagi," kataku. Kuberikan dia senyuman manis. "Thanks, Sya, sudah ikut prihatin. Ya... walaupun aku tidak tahu kamu sungguhan tulus atau pura-pura prihatin. Siapa yang tahu -- mungkin kamu malah senang karena pernikahan kami gagal. Ups! Sori. Maksudku diundur. Iya, kan? Kan hatimu busuk."


"Hei...," kata Reza dengan agak melotot padaku. Suaranya pelan, tapi menyakitkan. Edisi menyebalkan ronde pertama.


Salsya menggeleng, melakukan pembelaan. "Ra, aku tidak--"

__ADS_1


"Stop. Aku tidak butuh pembelaan diri atau penjelasan macam apa pun darimu. Oke?"


Kulanjutkan menyuapi Reza dengan suapan satu sendok penuh, sebab aku rada kesal kepadanya. Di saat itulah Salsya bertanya -- pertanyaan yang menyebabkan Reza sampai tersedak. "Za, boleh malam ini aku menjagamu di sini?"


Sialnya saat Reza tersedak aku tidak bisa sigap mengambilkan minum. Pertama, karena tanganku memegang piring. Kedua, aku harus turun dulu dari bed, sebab posisiku untuk meraih botol air dari atas meja terhalang oleh Salsya. Jadilah Salsya yang bisa sigap meraih botol air minum yang berada di dekatnya itu. Adegan menyebalkan edisi ronde kedua pun terjadi, Reza langsung meminum air itu -- minum dari tangannya Salsya.


"Thanks, Sya," katanya. Barulah dia menolehku dan menyadari kalau aku melotot padanya.


Menyebalkan!


"Jadi, bagaimana? Boleh, ya?"


Reza kebingungan harus menjawab apa. Sebab, kalau dia tidak bingung, dia bisa langsung mengiyakan atau langsung menolak.


Kenapa harus bingung, sih? Tinggal tolak saja, ya kan?


"Bagaimana? Boleh atau tidak, Ra?"


Ra? Dia menyebutku "Ra"?


Sialan! Dia bahkan tidak memanggilku "Sayang" di depan Salsya. Keterlaluan, dalam berapa menit dia menyakitiku sampai tiga kali.


"Terserah!" kataku. Kutaruh piring itu dan kuambil tasku dari atas sofa. "Aku pergi!"


"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan agak berteriak.


"Pergi sebentar. Takutnya ada yang mati muda kalau aku tetap di sini. Kamu tidak mau itu sampai terjadi, kan?"


Sebenarnya aku tahu, Reza ingin aku menjawab tidak pada Salsya. Dia ingin aku menolak Salsya untuknya. Tapi aku sudah terlanjur kesal padanya. Bisa-bisanya dia menyebutku tanpa panggilan Sayang di depan Salsya, sedangkan selama ini -- di depan siapa pun -- selain di depan ibu kami -- dia selalu memanggilku Sayang. Dia menyebalkan. Dalam sekejap dia membuatku merasa bahwa aku sama sekali tidak istimewa baginya.


Aku baru saja membuka pintu dan hendak keluar, tapi aku berhenti sebentar di situ. Aku berbalik dan menatap tajam kepada calon suamiku itu. "Mas, luka di bahumu belum sembuh, jangan sampai setelah ini hatimu ikut terluka. Dan tolong, pastikan ruangan ini sudah steril saat aku kembali. Jangan sampai aku harus membuang sendiri sampah itu ke tempatnya. Kamu paham, kan?"


Reza hanya mengangguk, sementara Salsya membeku di sampingnya. Dan aku, aku tidak langsung pergi dari sana, aku masih berdiri di depan pintu.


"Kok bisa, sih, kamu jatuh cinta pada perempuan sekasar dia?"


Ya Tuhan... ingin sekali aku kembali masuk dan merobek-robek mulut perempuan jalan* itu. Tahan Nara... tahan...


"Sebenarnya dia orangnya baik. Hatinya baik. Walaupun terkadang bicaranya kasar, kadang-kadang sikapnya aneh, kelakuannya kadang-kadang barbar, kadang-kadang dia nyeleneh, malah kadang dia jahil. Tapi dia itu istimewa. Sangat istimewa."


Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Reza sewaktu mengucapkan kata-kata itu. Tapi kubayangkan dia tersenyum. Ada ketulusan di setiap penuturan kata-katanya.


"Istimewa, bagaimana?" tanya Salsya.


Sama. Aku pun ingin tahu jawabannya.


"Dia memiliki cinta yang luar biasa untukku, cinta pertamanya. Dia belum pernah mencintai laki-laki lain, apalagi pacaran. Belum pernah disentuh orang lain. Aku -- yang pertama dan satu-satunya. Dia juga memiliki kesetiaan yang luar biasa. Dia pernah dijodohkan ayahnya, tapi dia bisa menolak, dia bisa mempertahankan aku dan membuat keluarganya menerimaku. Yeah, keluarganya bisa menerima aku apa adanya, tidak dengan syarat ini-itu. Mereka cuma mengharapkan kesetiaanku. Tapi aku malah mengkhianatinya, aku malah berjanji akan menikahi perempuan lain."


Deg!


"Za, kamu...?"


Reza berdeham. "Nara bisa mengerti keadaanku."

__ADS_1


What? Mengerti? Aku terpaksa, Bambang....


Arrrgh... kesal!


__ADS_2