
Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum kami pergi jalan-jalan. Reza menyuruhku untuk rebahan di dekatnya. "Aku tidak akan berbuat macam-macam," katanya. "Aku tahu kamu lelah, kamu capek, dari pagi kamu duduk tanpa rebahan, sini."
Well, sesungguhnya aku percaya pada lelaki yang sedang bersamaku itu. Aku hanya malu, malu karena belum pernah sedekat itu dengan lawan jenis. Reza berdiri, mendekatiku, dan mendudukkan aku di sebelah kiri tempat tidur. Setelah itu dia memutar, duduk, lalu rebahan di sisi kanan. Aku pun merebahkan tubuhku. Posisi kami berlawanan arah, hanya kepala kami yang bersebelahan di atas bantal yang sama. Kepalaku di kanan dan kepala Reza di sisi kiri. Dengan posisi santai seperti itu, kami pun bisa mengobrol dengan santai.
"Za," panggilku.
"Emm?"
"Trims, kamu sudah mengajakku salat."
Dia tersenyum samar. "Aku pikir kamu malah menilaiku berlebihan, sok religius, sok alim, atau apalah," katanya.
"Tidak, aku tidak punya pikiran seperti itu. Aku tahu, kamu tidak punya niat jahat sama sekali terhadapku. Kamu juga tidak sengaja waktu kamu menciumku tadi. Mmm... maksudku, bukan dengan niat sengaja, kamu cuma terbawa suasana. Semacam itulah. Dan... aku sadar, aku juga tidak pantas berteman dengan orang yang akhlaknya super mulia. Dengan sifat dan karakterku yang seperti ini, dengan hatiku yang masih dikotori rasa benci juga dendam, berteman dengan orang sepertimu itu lebih dari cukup untukku. Kita bersama karena banyak kecocokan, dan itu yang membuat aku nyaman dekat denganmu. Lagipula kalau kamu berakhlak super mulia, kamu tidak akan ada di sini, tidak akan berduaan dengan lawan jenis di dalam ruangan seperti ini, bahkan kamu juga tidak akan menyusulku ke pantai hari itu. Sementara aku -- aku akan tetap kesepian tanpa... kamu."
__ADS_1
Kami diam dalam hening kurang lebih satu-dua menit sebelum Reza mulai bicara. Dia memiringkan tubuhnya menghadapku dengan hangat napas yang terasa di pipiku.
"Inara," panggilnya. "Emm... nikah, yuk? Aku mau kamu halal untukku. Kamu mau, ya, jadi istriku? Please...?"
Aku tertegun mendengarnya. Tapi aku berusaha mengontrol diriku baik-baik, karena bagiku, kehidupan tidak pernah segampang itu. Bagaimana mungkin ini terjadi? Seorang lelaki asing tiba-tiba memintaku untuk menjadi istrinya?
Aku pun memiringkan tubuhku ke kiri, posisi kami jadi saling berhadapan. Kupandangi dia lekat-lekat sebelum aku menjawabnya. "Aku tidak bermaksud menolak. Tapi aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Kamu belum mengenal keluargaku, begitu pun sebaliknya, aku juga belum mengenal keluargamu. Kita juga belum saling mengenal lebih jauh, belum mengenal kekurangan masing-masing. Aku tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan," kataku, lalu aku kembali terlentang.
Reza merubah posisinya menjadi telungkup. Dia merebahkan kepalanya di atas lengan kiri, matanya memandangi wajahku, dan tangan kanannya yang berada di ujung kepalaku -- meraih dan menggenggam tanganku. Hawa panas langsung mengalir, merambat ke sekujur tubuh. Rasanya ingin terbang melayang mendapat perlakuan manis seperti itu. "Aku akan datang untuk berkenalan dengan keluargamu, dan aku juga akan memperkenalkanmu pada keluargaku. Mengenai semua kekuranganmu, baik yang aku tahu ataupun yang belum aku tahu, aku akan menerima semua kekurangan itu, apa pun itu. Dan aku berharap kamu juga bisa menerima kekuranganku. Aku akan menanyakan jawabanmu lagi suatu saat nanti. Aku akan menunggu sampai kamu memberikan aku kepastian. Pegang janjiku.
Ups! Gara-gara ucapanku, Reza tersenyum kecut, lalu ia segera duduk. Aku jadi refleks ikut duduk dan merapikan pakaianku sebelum dia mendekat dan duduk di sampingku -- menghadapku.
Eh?
__ADS_1
Reza menggenggam tanganku, dan ia menatapku dengan ekspresinya yang begitu serius.
Deg!
Tenang, Nara. Tenang! Jangan gugup.
"Aku memang bukan lelaki romantis. Tapi aku punya niat baik."
Dia ini serius atau hanya ingin mengetesku? Kalaupun dia bersungguh-sungguh, ini terlalu cepat. Aku harus mengatakan apa? Kutarik tanganku dan berusaha menghindari tatapan matanya. "Sori, Za."
"Ra," katanya lembut. Dia meraih tanganku lagi dan menggenggamnya lebih kuat dan erat. "Coba buka hatimu untukku, ya? Izinkan aku memiliki tempat di sana. Please?"
Dag! Dig! Dug! Dag! Dig! Dug!
__ADS_1
Ya ampun, jantungku jadi jedag-jedug. "Ehm, jujur, aku merasa nyaman dengan kedekatan kita. Tapi... aku... aku belum bisa menjalin hubungan yang serius. Kita saling mengenal lebih jauh dulu, ya?"
Reza pun mengangguk dengan seulas senyuman tipis. "Aku tahu bagimu ini terlalu cepat. Tidak apa-apa kalau kamu butuh waktu untuk meyakinkan dirimu, aku bisa menunggu sampai hatimu yakin dan siap menerimaku."