Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Memahami


__ADS_3

》Kalau kamu sudah bangun, kita sarapan di pantry.


Hanya itu isi pesannya. Pesan singkat yang ditulis Reza via whatsapp yang kubaca saat aku baru terbangun dari tidur. Aku pun bergegas mandi, berganti pakaian, dan sedikit berhias. Kupakai yellow dress yang dibelikan karyawan resto, dress dengan model halter neck, bagian bawahnya melebar dan panjangnya di bawah lutut. Saat itu jam enam lewat sepuluh menit, kuambil ponselku dan langsung menelepon Reza. "Bisa tidak sarapannya di kamar saja?" tanyaku.


"Oke. Nanti aku suruh orang antar ke kamar. Sudah dulu, ya. Aku lagi ada urusan sedikit. Sebentar lagi aku ke sana," katanya, ia pun menutup sambungan telepon.


Karyawan resto mengantarkan makanan sekitar lima belas menit kemudian. Seorang perempuan muda, tertulis Mayriska di name tag-nya. Menurutku usianya mungkin masih di bawah dua puluh tahun. Dia sangat manis, ada lesung pipi di wajahnya. Melihat sosok gadis itu aku seperti melihat diriku sendiri lima tahun silam, saat aku diam-diam berusaha mencari uang dengan caraku sendiri, tanpa sepengetahuan ibuku.


"Silakan, Mbak," katanya. Dia mempersilakan aku menyantap sarapan yang telah terhidang. Dua porsi nasi kuning hangat lengkap dengan lauk pauknya, juga seteko kecil teh panas dengan dua gelas berukuran kecil -- terhidang di atas meja.


Aku mengangguk. "Ya, terima kasih," kataku. "Oh ya, Mas Reza-nya di mana?"


"Mas di sini." Si pemilik nama tiba-tiba muncul dari pintu masuk. "Terima kasih, Mbak."


Mayriska menunduk hormat. "Ya, Pak. Permisi." Kemudian ia keluar dari ruangan kami.


Pagi itu Reza belum mandi, masih dengan kaus yang sama yang dipakainya tidur semalam. Masih tetap luar biasa tampan dan berkarisma meskipun ia belum mandi. Semakin kusadari, aku benar-benar melihatnya sebagai dirinya sendiri, ketertarikanku benar-benar pada sosok Reza Dinata, bukan lagi dalam bayang-bayang Reza Rahadian, baik Reza Rahadian sang aktor idolaku ataupun Reza Rahadian yang ada dalam khayalanku.


"Kenapa kamu mencari Mas?" tanyanya sembari mendekat padaku. Dia berdiri tepat di depanku, membuatku harus mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya. Kalau tidak memakai wedges, tinggiku hanya sebatas bahunya.


Aku berusaha menahan senyum. "Ih, kamu."


"Kamu sendiri tadi yang menyebutku Mas Reza, dan aku suka."


Dia menyalungkan kedua tangannya ke belakang leherku. Perlakuan manisnya itu membuat tubuhku langsung bergetar. Rasa-rasanya seluruh elemen tubuhku bergejolak tak karuan. Aku mungkin akan sesak napas karena nervous kalau saja ponselku tidak berbunyi, telepon dari ibuku.

__ADS_1


"Sori, ada telepon. Bisa diturunkan dulu tangannya, Mas Reza?"


Dia menggeleng. "Angkat saja," katanya. Aku pun menjawab telepon itu dan mengisyaratkan supaya ia diam, jangan mengeluarkan suara.


"Kamu sedang apa, Sayang?" tanya ibuku.


Aku menoleh, mengalihkan tatapanku dari sosok Reza. "Baru mau sarapan, Bund. Bunda sudah sarapan?"


Detik itu Reza yang jahil mulai iseng, dia merapatkan dirinya padaku, seolah dia paham betul kalau aku tidak akan bersuara, supaya ibuku tidak tahu kalau aku sedang bersama seorang lelaki saat menjawab teleponnya. Aku melangkah mundur sampai mentok ke dinding, tapi dia malah semakin merasa senang. Tatapan matanya yang dalam seakan mengandung magnet yang mengunci erat mataku, lalu dengan sengaja ia menyentuhkan jari-jarinya ke belakang telingaku. Lagi-lagi jantungku serasa melorot sampai ke perut, degupannya pun tak lagi biasa. Dadaku sesak dipenuhi debaran-debaran aneh. Oh Tuhan, bantu aku mengendalikan diri.


"Kamu kenapa?" tanya ibuku.


Aku gelagapan, "Oh, ee... itu, anu... Bund. Nara tidak apa-apa."


Aku gugup, sementara Reza malah cengengesan di depanku. Betapa dia sangat senang atas kesuksesannya menjahiliku. Dasar!


"Sudah?"


Aku mengangguk. "Sudah," kataku, lalu aku kembali menengadah ke atas melihat wajahnya. Saat itu Reza memandangiku lama, membuatku kembali merasa nervous. "Kamu itu benar-benar jahil."


"Kenapa? Nervous? Hmm?"


Aku tidak menjawab. Mana mungkin aku mengakuinya, meski sebenarnya siapa pun yang melihatku saat itu pasti tahu kalau aku sedang nervous berat.


"Cantik," pujinya.

__ADS_1


Aku mengedikkan bahu. "Seperti itu." Aku menunjuk ke nasi kuning yang ada di atas meja. Aku merasa jengkel karena Reza sampai terkekeh.


"Ayo, sarapan," ajaknya seraya berbalik. Kami pun duduk di sofa dan sarapan bersama. "Aku serius, aku suka kalau kamu memanggilku mas."


Aku tersenyum. "Oke, Mas Reza," kataku.


"Dan aku akan memanggilmu sayang, boleh, kan?"


Eh, eh, ada yang pipinya merona. Haha!


"Mmm... ya... boleh." Aku terkikik dalam hati. Yap, yap, yap, aku sangat suka dia memanggilku sayang.


Kami menghabiskan sarapan sambil mengobrol ringan. Reza menanyakan bagaimana tidurku semalam. "Nyenyak dan nyaman," kataku. Aku pun menanyakan besok dia akan pulang jam berapa.


Dia mengatakan jam sembilan pagi dia sudah harus stand by di bandara. "Jadi, kapan kamu akan pulang dan mengajakku bertemu keluargamu?"


"Mmm... maaf, ya. Aku... aku harus cerita dulu ke Bunda, dan tanya dulu kapan sebaiknya kita ke sana. Nanti pasti kukabari," kataku dengan ragu-ragu, sementara Reza hanya mengatakan oke.


Saat sarapanku hampir habis, dia menanyakan kenapa aku dan ibuku menggunakan bahasa Indonesia saat mengobrol, katanya tidak seperti orang lain yang kebanyakan menggunakan bahasa daerah kalau berbicara dengan keluarga.


Bingung. Mendengar pertanyaan itu aku malah sampai tertegun, aku memikirkan bagaimana kalimat yang tepat untuk menjelaskan padanya. "Kesepakatan," jawabku akhirnya. "Siapa pun dalam keluargaku kalau mereka mau berbicara denganku, mereka harus menggunakan bahasa Indonesia."


"Kenapa harus?"


Aku mengedikkan bahu. "Sulit untuk dijelaskan. Intinya, aku ingin kehidupan baruku membuat masa laluku menjadi samar-samar, sampai aku tidak teringat dari mana asalku dan bagaimana masa laluku. Dan... yeah, aku tahu aku seperti menipu diriku sendiri, karena pada kenyataannya masa laluku tidak akan pernah bisa terlupakan."

__ADS_1


Reza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar sedikit pun. Dia menunjukkan sikap bahwa dia mau memahamiku.


__ADS_2