Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Rasa Takut


__ADS_3

Tetapi sayangnya kebahagiaan itu terusik saat samar-samar kudengar suara Ihsan menggelegar di bawah sana. Aku pun buru-buru keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga secepat yang kubisa.


Dia lagi, dia lagi, dia lagi. Lelaki itu, yang kaukenal sebagai ayahku. Bibiku benar-benar melakukan kesalahan besar dengan memberikan alamat rumah ini kepadanya.


"Kamu seharusnya bisa menegur Nara. Tidak baik jika dia selalu bersama Reza sementara mereka belum menikah," katanya menegur ibuku.


Hmm... sok peduli sekali. Ke mana saja Anda selama dua puluh dua tahun? Baru sadar kalau punya anak perempuan yang mesti dilindungi?


"Aku percaya pada Reza seperti aku percaya pada anak gadisku. Aku yang membesarkannya, aku yang mendidiknya. Aku percaya walaupun mereka bersama, mereka tahu batasan." Ibuku yang selalu jadi garda terdepan membelaku.


Tapi bukan ayahku namanya kalau dia tidak sok suci dan sok benar. Dia akan terus menghakimi siapa pun yang salah di matanya. "Bagaimanapun juga, yang namanya lelaki--"


"Mas Reza menjaga kehormatanku sebagai perempuan." Aku menyela ucapan ayahku. "Ya, dia memelukku, dia menciumku, tapi hanya sebatas itu. Kami belum pernah bercinta, belum pernah bersetubuh layaknya suami istri. Mas Reza cukup beradab, dia bukan lelaki yang suka celup sana celup sini. Dia bukan seperti seseorang yang bernama Satria tapi kelakuannya lebih mirip... Anda tahu, kan? Mirip setan. Dia tidak seperti Anda, Tuan Pengacara Terhormat."


Tidak peduli durhaka atau tidak, tapi aku tidak sudi berbicara sopan dengan lelaki itu.


"Yang sopan. Dia ayahmu," tegur seorang wanita asing yang baru kusadari keberadaannya.


"Anda siapa? Dia bukan ayah yang membesarkan saya, untuk apa saya sopan?"


"Tapi dia ayahmu. Ayah kandung yang mewariskan darahnya kepadamu."


Hah! Aku tertawa. "Dengar, dia hanya lelaki asing yang kebetulan darahnya mengalir di dalam tubuh saya. Darah kotor, pula! Apa istimewanya? Heh?"


"Silakan kalian pergi dari sini. Biar saya yang bicara dengan Nara."


"Bund? Maksud Bunda apa? Apa yang mau dibicarakan?"


"Sayang," katanya -- dengan isyarat mata yang memintaku untuk diam.


Tetapi aku tidak bisa diam. "Bunda, Bunda bisa bawa aku ke dokter kalau Bunda tidak percaya padaku. Bunda bisa cek aku masih perawan atau tidak."


"Meskipun begitu, bukan berarti kamu bebas tinggal bersamanya." Lagi-lagi ayahku menculut api.


Fix, dia membuatku geram. "Ayolah, itu hanya sekadar liburan, memang kami tinggal di villa yang sama, masih mending begitu, kan, daripada sekamar di hotel? Mas Reza tidak pernah membawaku ke hotel. Kami pun tidur di kamar terpisah," tuturku setengah jujur, setengahnya... ya kau tahulah maksudku.


"Anda sudah mendengar klarifikasi dari orangnya langsung. Apa masih belum puas? Hmm?" Ihsan ikut menimbrung. "Lagipula harusnya Anda sadar diri, apa pun tentang kami, itu bukan urusan Anda. Silakan angkat kaki dari sini."

__ADS_1


"Kamu lihat, kan, bagaimana hasil didikanmu? Mereka kurang ajar pada orang tua."


Ya Tuhan... dasar lelaki sialan!


Aku baru maju selangkah untuk menampar mulut lelaki asing itu, kalau saja ibuku tidak melerai dan meminta Ihsan untuk menarikku ke lantai atas, aku pasti sudah membuatnya merasakan sakit tujuh hari tujuh malam dan mengenang sejarah itu di sisa hidupnya.


Lelaki bedebah!


"Masih memikirkan masalah tadi?" tanya ibuku beberapa saat setelah kehebohan itu.


Yeah, aku sedang melamun di balkon lantai atas, aku baru saja selesai mandi, masih dengan handuk membungkus rambut di kepala. "Eh, ada Bunda."


"Kamu melamun." Kuanggukkan kepala dan ibuku pun mengulangi pertanyaannya.


Aku menggeleng lemah. "Tidak. Bukan," jawabku. "Emm... Bund, soal... ciuman dan pelukan itu... maafkan Nara, ya?"


Aduh... ibuku melotot seram. Ekspresinya membuatku merinding ngeri, aku takut dia marah kepadaku, terlebih takut ia marah pada Reza.


"Sejauh mana yang kalian lakukan? Jujur pada Bunda."


Deg!


Hmm... aku tertunduk. Mengakui hal ini saja aku takut kalau nantinya ibuku jadi tidak menyukai Reza, apalagi kalau kukatakan hal yang lebih. Tidak. Aku tidak mungkin mengatakan kalau Reza pernah mencumbu leherku.


Ibuku melotot. "Ikut Bunda," cetusnya.


"Ke mana?"


"Ikut saja. Kamu tidak akan takut kalau kamu tidak bersalah."


"Iya, Nara ikut supaya Bunda tidak meragukan Nara. Mau ke semua klinik se-Jabodetabek juga Nara jabani. Kalau begitu Nara siap-siap dulu, ya." Kucium pipi ibuku untuk mencairkan suasana. "Senyum dong, Bunda, please...."


Tidak mempan. Ia masih enggan tersenyum.


"Ya sudah kalau mau cemberut terus, jelek lo." Aku masuk ke kamar dan meninggalkan ibuku di sana.


Dua puluh menit kemudian aku sudah siap berangkat, bahkan ibuku sudah duduk santai di dalam taksi. Ibuku masih saja diam sepanjang perjalanan. Pikir, pikir, pikir. Ah, yeah. Kucoba mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol. Kutanyakan kepadanya siapa perempuan yang datang bersama ayahku tadi pagi. Ibuku bilang itu yang namanya Rhea. Berarti benar, yang tempo hari kulihat adalah Yanti.

__ADS_1


"Berarti sekarang laki-laki itu punya dua istri?"


Ibuku mengangkat bahu. "Siapa yang tahu, bisa iya, bisa lebih."


"Kenapa mereka mau di madu?"


"Entahlah. Mungkin sebegitu cintanya mereka kepada ayahmu. Dia tampan, kan?"


"Memang. Tapi untuk apa sekadar tampan kalau cintanya terbagi?"


Ibuku mengelus jemariku, lalu ia berkata, "Setiap orang punya pilihannya masing-masing, Sayang. Mungkin ayahmu bisa adil dan bisa membahagiakan mereka, jadi mungkin mereka tidak mempermasalahkan kalau mereka bukan istri satu-satunya. Kan sudah jelas juga dari awal mereka tahu ayahmu punya istri dan anak, tapi mereka mau jadi selingkuhan, mau jadi istri siri. Jadi tidak ada yang aneh, kan? Itulah hakikatnya perempuan yang suka merebut milik orang lain. Mereka tipe-tipe perempuan murahan yang rela berbagi kehangatan."


"Yeah. Mungkin laki-laki itu hebat di ranjang dan ahli segala gaya. Pasti perempuan-perempuan itu suka sekali disodok dari belakang seperti doggy."


Ups! Macan di sampingku melotot lagi. "Nara...," tegurnya.


"Apa sih, Bund? Nara tu lagi membayangkan si Yanti lagi disodok-sodok dari belakang. Pasti ekspresinya begini, uh... Kang... lagi Kang... iya... terus Kang... terus... ah... uh... oh yeah... ah, Akang meni hebat pisan euy."


Aku terbahak-bahak setelahnya. Sementara ibuku menutup mulut menahan tawa, dan Pak Supir di depanku tak henti melirik ke arahku melalui kaca spion.


Euw...!


"Lihat ke depan, Pak. Nanti nabrak."


"Eh, ya, Mbak. Maaf."


"Jangan suka mencuri dengar, lo. Itu tidak baik."


Haha! Sok yes, ya, aku?


Well, kau pasti berpikir orang macam apa ibuku itu sampai aku sebagai anak berani bercanda seperti itu kepadanya, ya kan? Yeah, pada dasarnya aku sepenuhnya hormat kepadanya sebagai orang tuaku. Tapi selebihnya kami seperti teman. Aku tidak segan kepadanya tentang apa pun itu dalam konteks bercanda. Tapi itu tidak mengurangi sedikit pun rasa hormatku kepadanya sebagai wanita yang melahirkan aku ke dunia ini. Jadi, jangan heran kalau aku dan ibuku sama gilanya dalam hal bercanda.


"Ayo turun," kata ibuku seraya membuka pintu.


"Lo? Bukannya kita mau ke klinik, ya?"


"Siapa yang bilang kita mau ke klinik? Bunda mau ajak kamu ke pasar, tahu!"

__ADS_1


Hmm... dasar, ya... ibuku itu sama gesreknya dengan anak-anaknya. Auto manyun.


Tahu begitu aku tidak perlu berdandan, Bunda....


__ADS_2