Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Menyakitkan


__ADS_3

Selesai makan, kualihkan suasana hatiku dengan berfokus pada hal-hal lain. Aku menghampiri anak-anak yang sedang berbaris rapi. Inilah yang merupakan bagian terbaik dari acara ini, ketika anak-anak menerima kado. Aku terharu melihat wajah-wajah polos itu kegirangan mendapatkan kado. Meski hanya berupa mainan dan boneka, tapi kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka begitu murni, bukan ekspresi yang dibuat-buat.


Di panti, ada seorang anak lelaki berkulit putih dan rambutnya kriwil. Anak itu mengingatkanku pada Tirta. Dia senang sekali mendapatkan mainan pesawat-pesawatan. "Aku mau jadi pilot," katanya. Aku hanya tersenyum dan mengaminkan cita-citanya.


Sejenak kemudian, perhatianku teralihkan pada anak perempuan cantik di samping Zahra. Rambutnya hitam, lurus, panjang, dan berponi, anak itu agak gendut dengan kulit agak kekuningan. Wajahnya nampak murung. Di tangannya ada sebuah boneka beruang madu yang hanya dipegang menggantung di ujung jari-jarinya.


"Hei, siapa namamu?" tanyaku.


"Nama aku Khiala," katanya.


"Khiala?"


"Khiara, Mbak," sahut Zahra. Ternyata anak itu cadel.


"Oh... Khiara," kataku. "Nama yang cantik, orangnya juga cantik."


Dia tersenyum dipuji begitu. "Tante juga cantik," katanya balas memujiku.


"Terima kasih, Khiara."


"Sama-sama, Tante. Telima kasih juga Tante bilang aku cantik."


"Kalau Tante boleh tahu, Khiara kenapa duduk di sini? Kenapa tidak ke sana?"


Aku menunjuk ke arah anak-anak panti lainnya yang asyik bermain boneka. Khiara menggeleng, dengan polosnya dia mengatakan kalau dia bosan bermain boneka. "Khiala kepingin punya sepeda," rengeknya.


Aku menelan ludah getir. Hatiku seolah tertampar oleh masa lalu. Sewaktu kecil dulu aku punya sepeda, akuĀ  bahkan punya apa pun mainan yang kuinginkan, sebab aku punya tempat untuk merengek, ada orang-orang yang sayang padaku dan mau menuruti semua kemauanku. Aku ini sekadar tidak memiliki ayah -- ayah yang sebenarnya ada.


"Khiara, coba Khiara tanya Bu Nurul, boleh, tidak, Khiara punya sepeda? Kalau Khiara diizinkan punya sepeda, nanti Tante yang beli untuk Khiara. Oke?"


Dia mengangguk dengan sangat girang. "Oke, Khiala tanya sekalang."


Dia pun bergegas. Bisakah kau membayangkannya? Ia berlari dengan penuh semangat, dengan kaki-kaki mungilnya dan suaranya yang lucu, dia memanggil-manggil nama ibu pengurus panti sambil berlari, sekencang dan senyaring yang ia bisa. Yeah, mereka -- anak-anak yang dibesarkan di panti, tidak sepertiku atau sepertimu yang bisa merengek pada ibu, nenek, oom, tante, atau sepertimu -- anak-anak yang memiliki seorang ayah.


Aku melihat Khiara dari kejauhan, aku tidak bisa mendengar bagaimana dia bertanya atau menyampaikan keinginannya pada pengurus panti. Tapi aku bisa melihat betapa antusiasnya dia mengutarakan apa yang ada di hatinya. Beberapa menit setelah itu, Bu Nurul menghampiriku. Dia menyapaku dan mencium pipi kanan, lalu pipi kiriku. Ternyata ia sosok yang modern juga, pikirku.

__ADS_1


"Bagaimana, Bu? Apa boleh saya memberikan sepeda untuk Khiara?" tanyaku.


Bu Nurul menyunggingkan seulas senyum. "Begini, Nak," katanya. "Anak-anak di sini memang sudah lama kepingin punya sepeda, terutama Khiara. Tapi seperti yang kita tahu, yang namanya anak-anak pasti akan merasa iri kalau salah satu dari mereka dituruti kemauannya. Jadi sebaiknya tidak usah. Maaf, ya, Nak. Bukannya saya melarang maksud baiknya Nak Nara."


Aku mengangguk. Aku sangat paham keadaan itu. Bahkan, dulu Inara kecil dan Ihsan kecil yang sedarah pun seringkali bertengkar karena berebut sesuatu, berebut mainan ataupun makanan, dan seringkali tidak mau berbagi.


"Baiklah, saya paham," kataku.


Kupikir aku ingin mendiskusikan hal ini dengan Reza. Aku pun mengedarkan pandang ke sekitar halaman panti, tetapi Reza tidak ada. Entah dia ada di mana saat itu.


"Tante, apa Tante jadi beli sepeda untuk Khiala?" tanya gadis kecil itu dengan penuh harap.


Sekilas aku menoleh ke Bu Nurul dengan sorot mata kebingungan, apa yang harus kukatakan pada anak kecil ini -- yang menatapku dengan penuh harap? Aku tidak sanggup membuatnya kecewa. "Emm... nanti Tante kabari lagi, ya, Sayang? Tante harus tanya dulu ke Oom Reza. Tapi Khiara harus rajin berdoa, semoga Oom Reza setuju. Oke?"


"Oke," sahutnya. Dia tersenyum girang, seolah yakin sekali bahwa dia akan mendapatkan sepeda yang sangat ia dambakan.


Well, aku terpaksa keliling panti untuk mencari Reza. Kalau saja dia tidak menyita ponselku, aku bisa menanyakan ke mana dia pergi via telepon.


Aku berjalan melewati pintu masuk, melewati dinding-dinding yang bercat putih dan kamar anak-anak dengan pintu tertutup. Kemudian berbelok dan melewati beberapa ruangan. Ada satu ruangan dengan pintu terbuka, letaknya paling ujung dari tempat aku berdiri, Ruang Bayi -- itu keterangan yang tertulis di atas pintu. Aku ke sana. Dan...


Reza dan Salsya, bersama bayi mungil yang berada di gendongannya.


"Apa aku boleh memberikan nama Dinata untuk calon anakku?" Salsya bertanya pada Reza. Dia tersenyum dengan amat sangat bahagia ketika Reza menganggukkan kepala tanda setuju.


Oh Tuhan...


Aku mundur selangkah. Aku harus keluar dari tempat ini. Hawanya tidak enak. Pengap. Sesak. Aku tidak bisa bernapas.


"Sedang apa kamu di sini?"


Aku berputar setelah nyaris terjerembab. Suara itu berasal dari belakangku. Suaranya kedengaran bernada tinggi.


Kayla. Kayla yang berdiri di sana, dia datang dari arah toilet.


"Aku--"

__ADS_1


"Kamu harus pergi."


"Auw!"


Kayla mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku dengan paksa. Aku linglung, adegan yang baru saja kusaksikan membuatku tak berdaya. Aku...


"Kay!" suara Reza menghentikan Kayla, tetapi tangannya tetap saja mencengkeram tanganku dengan kuat. "Lepas!" kata Reza. Kayla pun menurut, bersamaan dengan Salsya yang menghampiri kami.


Bingung. Aku butuh ruang untuk sendiri. "Aku... aku mau pulang," kataku. Akhirnya aku menemukan kembali suaraku. "Tolong, berikan ponselku."


Bukannya memberikan ponselku, Reza malah mencengkeram pergelangan tanganku. Persis yang dilakukan oleh Kayla. "Kamu pulang denganku," katanya.


"Tapi, Za," kata Salsya dan Kayla bersamaan.


"Aku bisa pulang sendiri."


"Jangan membantah." Reza melotot ke arahku. "Aku yang mengajakmu ke sini, aku juga yang harus mengantarkanmu pulang. No debat!"


Kurasa sebenarnya posisiku tidak terlalu menyedihkan, Reza masih berusaha menjaga perasaanku. Tapi tetap saja, secara keseluruhan -- aku adalah pihak yang tersakiti.


"Sya, kamu pulang dengan Kayla. Ingat pesanku, jaga dirimu baik-baik dan jaga kandunganmu, oke?"


Euw! Harus ya memberikan perhatian kepadanya di depanku? Aku melengos. Aku benci adegan ini. Menyakitkan. Terlebih cara Salsya dan Kayla menatapku, seolah aku ini perempuan kotor, hina dan penuh dosa -- perempuan yang telah merebut miliknya -- kekasihnya.


Padahal...


Kau tahu, kan? Kau tahu siapa yang tersakiti?


Yeah, AKU -- korban cinta lama yang belum usai.


Dan kau tahu? Sakitnya itu di sini, di dalam sini -- di dalam hati ini.


Sakit, perih -- tiada bertepi.


Aku ingin pulang!

__ADS_1


__ADS_2