
Hampir satu setengah jam kemudian -- Reza baru keluar dari Masjid. Dia keluar sekitar lima belas menit setelah azan Isya berkumandang. Kurasa dia menenangkan diri di dalam sana, sebab dia kembali dalam keadaan sudah tenang dan lebih tampan, dia sudah mandi dan berganti pakaian.
"Maaf, ya. Aku lama," katanya setelah duduk dan siap mengemudi.
Aku mengangguk dengan senyuman. "Tidak apa-apa, kok. Lagipula cacing di perutku tidak terlalu anarkis unjuk rasanya," kataku, memberikan kode bahwa aku sedikit lapar.
"Kamu cacingan?"
"Kampret!" Ah akhirnya aku keceplosan mengucapkan kata itu.
"Ouwww... lama-lama nampak juga aslinya, ya." Lagi-lagi dia meledekku, lengkap dengan tawa lebar nan renyah.
Duuuh... malunya. "Sori, Mas. Aku keceplosan."
"Oke. Kalau begitu kita cari makan dulu, supaya mereka tidak sampai anarkis."
Malam itu, ceritanya Reza lagi kepingin makan pecel lele kaki lima. Dia bertanya apakah aku keberatan diajak makan di pinggir jalan. Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan, kan aku bukan seorang tuan putri dari kalangan atas yang kalau makan harus di restoran dengan menu seuprit tapi harganya selangit.
"Tidak masalah," kataku, persis menirukan gayanya ketika mengucapkan dua kata itu.
__ADS_1
Well, Reza menyadari kalau aku menirukan gaya pelafalannya dan dia tersenyum. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan kecilnya setelah dia tahu ada kebiasaannya yang kupahami dan bahkan aku menirukannya.
Sesampainya di tenda pecel lele, Reza langsung memesan menu makan malam untuk kami berdua. Dan persis di saat itu aku mencuci tanganku, lalu mendesis menahan perih: ada luka di telapak tanganku. Reza pun langsung menyadari tanganku terluka karena jatuh hampir tertabrak motor tadi. Dengan sigap -- dia menarik tanganku dan mengecek lukaku.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu luka?"
"Jangan berlebihan, Mas."
"Hei--"
"Ini hanya luka kecil dan hanya sedikit perih."
Aku menggeleng. "Nanti saja," tolakku.
"Jangan ngeyel...!"
Euw...! Kau tahu kan aku tidak bisa berkutik lagi kalau Reza sudah berkata seperti itu? Baiklah, kuikuti saja ketika dia menarikku ke mobil.
"Biar aku saja, Mas," kataku saat dia hendak membersihkan lukaku. Tapi dia tidak mau mendengar. "Kamu tidak perlu selalu melakukan hal-hal seperti ini. Kamu membuatku manja dan ketergantungan, tahu?" Aku berkata lagi saat lukaku sudah terbalut plaster.
__ADS_1
Dia tersenyum dan menatapku dengan hangat. "Aku suka kalau kamu manja dan bergantung padaku," katanya. Lalu bibirnya menyunggingkan senyuman yang menyiratkan ketulusan. Kalau tidak pandai-pandai menjaga image, pastilah sudah kusosor dan kunikmati bibirnya saat itu juga. Dan, yeah, aku memang mengatakan dia tidak perlu melakukan semua itu untukku, tapi sebenarnya aku sangat senang dia perhatian padaku.
Cerita pun berlanjut, kami segera kembali ke tenda beberapa saat kemudian. Nasi goreng pete, lengkap dengan lauk, sambal, tempe, tahu, lalapan, dan teh tawar hangat tersaji di meja tidak lama setelah kami kembali ke tenda pecel lele kaki lima itu. Kau tahu, Reza tidak seperti kebanyakan pemuda yang sok gengsian dan jaga image, dia biasa saja makan si biji hijau yang dinamakan pete atau petai itu di depanku. Bahkan sebelum makan dia mengatakan kepadaku, "Jangan jaim, jangan sok gengsi, makan saja kalau kamu suka."
"Emm... aku belum pernah memakannya. Aku tidak tahu suka atau tidak."
Mendengar itu, Reza tanpa ragu menyodorkan sesendok nasi goreng dengan seiris pete ke depan mulutku. "Hanya sedikit pahit. Juga sama sekali tidak seperti mayones," ujarnya mengingat tragedi mayones waktu itu, dia mebuatku malu dan menahan tawa. "Ayo, coba."
Kubuka mulutku dengan sedikit ragu. Tapi keraguan itu langsung memudar setelah kurasa pete tidak seburuk dan tidak sepahit seperti yang kupikir selama ini.
"Suka?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Kamu omnivora, ya. Pemakan segalanya."
"Yeah, sama sepertimu. Kita sama-sama omnivora. Bahkan, bila nanti sudah tiba waktunya -- kamu juga akan kumakan tanpa terlewat seinci pun. Aku ingin merasakanmu, keseluruhan dirimu."
Uuuuuh... Mas Reza. Dia membuat pipiku merona. Dan aku berpikir: bagaimana dia akan "memakanku"?
Eh?
__ADS_1