
Jam delapan pagi, kami menghadiri undangan kursus pranikah untuk mendapat bimbingan seputar pernikahan dan kehidupan berumah tangga, seperti keutaman pernikahan, rukun nikah, dan persiapan berumah tangga dari sudut pandang agama. Acara yang kukira akan berlangsung cukup lama. Tetapi tidak, acara kursus pra nikah itu berlangsung hanya sebentar, tidak selama yang kami kira, bahkan kurang dari satu jam acara itu sudah selesai dan peserta pun segera dibubarkan. Dengan semangat yang membumbung tinggi, Reza langsung mengotak-ngatik ponselnya. Karena penasaran, aku pun bertanya apa yang sedang ia lakukan.
"Cari tiket pesawat," sahutnya tanpa menolehku.
"Kamu mau ke mana?"
"Kita," katanya, kali ini ia menatapku. "Aku dan kamu. Kita akan ke Palembang."
"Mau apa?" Praktis keningku mengerut, sementara hatiku mulai merasa cemas.
Oh Tuhan, tapi Reza langsung tersenyum. "Membeli mahar untuk menghalalkanmu," katanya.
Huuuuuh...! Jawaban itu membuatku sedikit terperangah dan sekaligus sangat senang. Kupikir dia akan mengajakku bertemu keluarga besar ayahku. Oh no!
"Ibu-ibu kita itu cukup kolot. Aku diwajibkan membeli emas Palembang. Kalau tidak dituruti, nanti mereka pada bawel, ya kan?"
Aku mengangguk.
"Kamu mau, kan, menemaniku?"
Aku menganggukkan kepala. "Tapi janji dulu, kamu tidak akan membawaku ke rumah ayahku? Oke?"
Dia pun berjanji dengan takzim, "Iya, Sayang," katanya. "Aku janji, aku tidak akan membawamu ke rumah ayahmu. Sekarang lega?"
__ADS_1
"Em." Aku mengulum senyum. Setengah senang mendengar janjinya, setengah cemas akan menginjakkan kaki di kota di mana banyak keluarga ayahku di sana, yang sejujurnya aku sama sekali tidak pernah ingin bertemu dengan mereka.
Pagi itu, kami mendapatkan tiket penerbangan keberangkatan jam 10.05 WIB, dan penerbangan pulang jam 18.50 WIB. Ada jam penerbangan 10.30, tapi jam penerbangan pulangnya kami harus terbang dengan pesawat terpisah. Jadi terpaksa kami memilih jam terbang yang hanya satu jam lagi, benar-benar harus mengejar waktu ke bandara.
Jam dua belas siang, kami sudah berada di Masjid Agung Palembang. Reza hendak salat jumat dulu di sana. Jam satu siangnya, barulah kami menyinggahi salah satu toko emas di sekitar jalan Rustam Effendy, lokasi penjualan emas paling hits di Palembang.
Dalam mahar dan seserahan, keluarga kami sepakat menerapkan adat dan tradisi Sumatera Selatan, berupa uang, perhiasan emas, seperangkat alat salat, dan sejumlah seserahan lainnya mulai dari bahan makanan, kue, pakaian, hingga peralatan rumah tangga. Sebuah adat dan tradisi yang mengingatkan dari mana kami berasal. Tapi kami tidak menentukan berapa jumlah dan nominalnya, terserah pada Reza dan ibunya.
Saat di toko emas itu, Reza mempersilakan aku untuk memilih seperangkat perhiasan sesuai seleraku, tetapi aku tidak mau, aku takut salah dalam memilih. Memilih yang gramnya kecil nanti di bilang naif, memilih yang gramnya besar nanti dibilang matre. Akhirnya kuserahkan urusan itu kepadanya.
Kuperhatikan, pandangan mata Reza selalu tertuju ke perhiasan-perhiasan yang berukuran besar, sudah barang tentu gram dan sukunya pun besar. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyelinap ke hatiku. Bukan, bukan tidak enak terhadap Reza. Aku bukan tipe perempuan munafik yang akan menolak jika diberikan barang-barang mewah oleh lelakiku. Kukatakan padanya untuk membeli kalung, cincin, gelang, dan anting, masing-masing satu suku saja. Sebab aku punya saudara laki-laki, yang kelak saat dia menikah, aku tidak ingin orang-orang membandingkannya dengan Reza. Aku tidak ingin menciptakan suatu momen yang kelak menjadi beban bagi Ihsan, karena belum tentu Ihsan akan mampu menyeimbangi apa yang Reza berikan untukku. Aku tidak ingin anak gadis orang menuntut adikku itu memberikannya perhiasan semewah yang kudapatkan. Dan aku bersyukur, Reza mau memahami itu. Yap, pilihan kami jatuh pada set perhiasan model rantai, dilengkapi dengan anting bunga dan liontin bunga.
"Coba lihat yang model merak itu, Koh," kataku pada si Kokoh yang sedang menyiapkan surat untuk satu set perhiasan emas model rantai itu.
"Bagus, cantik," Reza berkomentar dengan senyuman -- dia membuatku tersipu. "Ada set komplitnya, Koh?" tanyanya kemudian.
"Cuma ada gelang dan liontin," sahut si kokoh yang kemudian mengeluarkan dua benda bermotif merak itu dari etalase dan menunjukkannya kepadaku, ditambah seuntai kalung model bambu.
Wow... melihat lebar gelang itu saja, aku sudah bisa menebak ukurannya. "Berapa suku ini, Koh?" tanyaku ingin memastikan, sambil memasangkan gelang itu ke pergelangan tanganku.
"Gelang lima suku, kalung lima suku, liontin satu suku," tuturnya.
Sekali lagi aku menoleh ke Reza. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku, tetap dengan senyuman manis yang tak kunjung padam sejak aku menyentuh perhiasan dengan model merak itu. Dia berdiri santai dengan kaki menyilang. Siku kirinya bertumpu di atas etalase, sementara tangan kanannya menyuruk santai ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Cantik, ya," kataku. Aku menaruh telapak tanganku yang terhias emas itu di depan wajahku. Reza menjawabku dengan anggukan, senyumnya pun masih terukir dengan manisnya. "Aku tidak keberatan kalau kamu mau membelikan ini diluar mahar." Aku mengerling dan nyengir selebar-lebarnya.
Masih dengan senyuman manisnya, Reza bertanya, "Kamu mau yang ini?"
"He'em. Boleh, ya?"
"Boleh."
"Terima kasih, Mas. Aku sayang kamu."
Hahaha! Matre!
"Tapi kamu dulu yang simpan. Berikan kepadaku kalau nanti aku sudah sah menjadi istrimu, baru aku akan menerimanya."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Aku pun nyengir sekali lagi, lengkap dengan mata yang agak menyipit. "Omong-omong, itu yang motif mawar bagus, lo. Satu set untuk Ibu. Sebentar lagi kan Ibu ulang tahun."
Reza mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. "Oke. Aku belikan satu set untuk Ibu juga."
"Uuuh... anak saleh, calon suami idaman," pujiku. Pujian yang membuat bibirnya menyunggingkan senyum. Dia merasa malu, lantas dengan gemas mencubit pipiku.
Sakit sih, tapi aku rela: apa pun demi Reza.
__ADS_1