
Reza kembali menyibukkan diri dengan aktivitas olahraga. Aku senang, dia hanya parkir di teras belakang, sehingga tidak ada perdebatan di antara kami, mungkin dia tahu aku akan melarangnya atau mengikutinya jika dia keluar dari rumah.
Sambil menikmati cokelat panas di tanganku, aku mengamatinya dari kejauhan, memandangi apa yang ada di hadapanku lekat-lekat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat otot-otot itu menghiasi tubuhnya. Waktu itu dia sedang olahraga angkat beban, kausnya agak tersibak sehingga aku bisa melihat kulit telanjang di atas celananya, bagian pinggang dan perutnya yang sixpack. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya. Ingin sekali rasanya mengulurkan tangan untuk merasakan bagian dirinya yang begitu kudambakan.
Reza menoleh begitu menyadari keberadaanku. Dia menatapku, senyum tipis perlahan merekah di wajahnya. "Kamu mengamati-amatiku, ya? Dasar mesum!"
"Melamun," kataku sambil tersenyum nakal.
Dengan gerakan cepat, dia berdiri lalu membuka kausnya. Ketika terlepas, jantungku berdebar tak karuan. "Senang?" tanyanya.
"Em, lebih dari itu. Sumpah demi apa, kamu begitu seksi."
Ah, aku mendesa*. Aku benar-benar tak bisa menahan diri untuk menatapnya. Tak bisa mencegah diriku menatap kulitnya. Sungguh memesona. Jantungku berdentum kencang seperti genderang mau perang, dan semakin kencang lagi saat dia menghampiriku. Dia melingkarkan tangannya yang berotot itu di pinggangku. Begitu tanganku menempel di dada bidangnya, aku bisa merasakan detak jantungnya, terasa indah dan berirama. Begitu juga dengan deru napasnya yang begitu hangat menyapu telinga. ia berbau campuran pewangi berkonsentrat, keringat, dan kopi, dan aku rasanya bisa mati bahagia di situ. Ya Tuhan... dia memabukkan.
"Sayang?"
__ADS_1
"Emm?"
"Maafkan aku sudah melewatkan tanggal dua puluh tiga itu, sekarang biar kukatakan, keputusanku sama sekali tidak akan pernah berubah. Aku mencintaimu, aku akan hidup dan menua bersamamu. I will marry you, only you," katanya.
Bunda... nikahkan aku sekarang....
Hasrat kegadisanku meronta-meronta. Sumpah! Aku bahagia, bahkan aku sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan rangkaian kata-kata. Setidaknya Reza tahu kalau aku benar-benar bahagia saat itu.
"Aku masak nasi goreng pete spesial untukmu. Kamu mau makan sekarang?"
Aku menatapnya dan mengangkat alis. "Apa yang kudapatkan sebagai balasannya?"
Eh?
Wow!
__ADS_1
Reza langsung menarikku, lalu tangannya berpaut di leherku. Dia meluma* bibirku dengan lembut, perlahan-lahan lidahnya menerobos masuk. Aku merasa dia begitu bergairah melahapku, sampai-sampai dia menyibakkan rambutku dan hendak melukiskan cinta di leherku. Tetapi...
Hmm, dia tersadar sebelum berhasil meninggalkan jejak merah di situ.
"Sebaiknya aku mandi," katanya. "Adegan ini terlalu berbahaya bila dilanjutkan."
"Baiklah. Kamu punya hutang yang besar dan harus dibayar lunas saat malam pertama kita."
"Oh, jangan khawatir, Sayang. Akan kubayar lunas beserta bunga-bunganya. Aku menjanjikanmu surga yang indah di malam itu. Cinta yang sempurna, yang tak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu." Lalu ia berbisik, "Aku mencintaimu, Nyonya Dinata."
Uuuh... manisnya kekasihku. "Aku menantikannya," bisikku.
"Em." Reza tersenyum, sangat bahagia. "Aku mau mandi dulu, ya. Tunggu aku di meja makan," katanya sejenak kemudian, lalu ia mencium keningku dan langsung berlalu.
Aku tahu, dia pasti kembali kepadaku....
__ADS_1