
Salsya hamil. Pantas saja akhir-akhir ini dia sering sakit dan izin tidak masuk kerja. Jujur aku kasihan padanya, meski itu salahnya sendiri, dia yang menjerumuskan dirinya sendiri sampai kemalangan itu menimpa dirinya. Tapi, rasa kasihan itu tidak lantas membuatku menjadi naif. Aku takut Salsya akan memanfaatkan rasa iba Reza dalam situasi ini. Aku takut dia menjadikan musibah itu sebagai alat untuk merebut Reza dariku. Mungkin kaurasa aku orang jahat atau over negative thinking karena curiga terhadapnya. Tapi coba kau pahami aku, hampir separuh hidupku aku mengenal perempuan-perempuan yang berlagak polos, yang nampak lugu dari luar, tetapi di dalamnya begitu busuk. Wanita-wanita yang memanfaatkan status mereka sebagai janda untuk merebut milik orang lain, dan menggunakan anak-anak mereka untuk menarik simpati dari para lelaki. Contohnya tidak perlu jauh-jauh, aku bahkan kehilangan ayahku sejak kecil karena perempuan-perempuan sialan seperti Yanti dan Rhea. Mereka membuatku menanggung penderitaan seumur hidupku.
Sekarang, di saat aku baru menemukan kebahagianku bersama Reza, tapi takdir seolah mempermainkan aku. Aku dihadapkan dengan situasi seperti ini. Aku takut, sangat sangat takut kehilangan Reza. Dan aku tidak tahu bagaimana mesti memproses rasa takut itu.
Siang itu, Reza sudah pergi untuk bertemu Salsya. Aku tidak bisa melarangnya, aku tidak ingin terlihat sebagai perempuan yang mengekang kekasihnya, atau dicap sebagai perempuan yang tidak punya rasa belas kasihan terhadap sesama wanita. Sebagai gantinya aku menawarkan diri untuk menemaninya menjenguk Salsya, tetapi Reza malah tidak mengizinkan aku ikut dengannya, katanya dia tidak ingin pikiranku terkontaminasi dengan pikiran-pikiran negatif yang kau tahu -- hal-hal di luar batas pemikiran manusia normal.
Aku berusaha untuk tidak memikirkan Salsya atau apa pun tentangnya. Kucoba menyibukkan diri dengan membantu Mbok Tin di dapur, mengulek cabe, bawang, tomat dan teman-teman sejawatnya. Reza minta dimasakkan sambal pete untuk makan siang hari itu. Tapi rasanya percuma, sekelebat bayangan-bayangan Salsya yang sedang menangis sesenggukan di pelukan Reza tetap saja bermunculan di otakku, membuatku depresi. Pasti, pasti itu yang akan dilakukan wanita "malang" itu.
Aku menarik napas panjang, kucoba memikirkan hal-hal yang ceria, yang sangat manis -- tentang Reza. Dia akan pulang pada jam makan siang, dengan perut yang sudah keroncongan, dia akan duduk di sampingku, makan dengan lahap sambil sesekali menyuapiku. "Aku ingin mencabut kata-kata yang pernah kuucapkan dulu, aku tidak mau pegawai resto mengantar makanan setiap hari. Aku lebih suka masakanmu, sederhana, tapi penuh cinta." Begitu katanya nanti.
Ah, rasanya aku sudah gila.
"Non?"
"Eh?" Aku tersentak kaget. "Ya, Mbok? Kenapa?"
"Non baik-baik saja? Mbok perhatikan Non Nara melamun terus dari tadi."
"Hmm...," aku tersenyum tipis. "Nara baik-baik saja, Mbok," kataku.
Tapi itu tak lantas membuat rasa khawatirnya berkurang. "Non istirahat saja, biar Mbok saja yang ngulek," katanya lagi.
"Tidak usah. Nara bisa kok."
Aku nyengir, ternyata ulekanku belepotan. Ayolah Nara, mana bisa ngulek sambil melamun. Dodol! Huh!
__ADS_1
Begitu ulekanku selesai, aku baru saja hendak membuang sampah ke tempatnya ketika ponselku berbunyi, tanda ada pesan masuk, messenger dari Kayla.
Deg!
Sepersekian detik aku mematung, tidak tahu harus bagaimana dan tidak tahu harus berbuat apa. Jantungku seperti dicopot paksa dari tempatnya.
Kayla mengirimkan sebuah video singkat, video berkualitas tinggi, gambar dan suaranya sangat jelas, aku tidak perlu memutar ulang video itu untuk memastikan aku tidak salah lihat ataupun salah mendengar -- Reza dan Salsya sedang berpelukan. "Aku janji, aku akan menikahimu," kata Reza dalam video itu. Dia mengatakan itu pada Salsya yang sedang menangis sesenggukan di pelukannya.
Satu menit kemudian, ponselku kembali berbunyi. Messenger dari Kayla kembali masuk.
》Aku Kayla, sahabatnya Salsya. Aku minta tolong kepadamu sebagai sesama perempuan. Tolong berikan Salsya kesempatan. Dia membutuhkan Reza di sisinya.
Di saat itulah aku merasakan pipiku terasa hangat akibat air mata yang mengalir bagaikan anak sungai. Aku marah sebab aku merasa dibohongi dan merasa dikhianati. Aku terduduk, tanganku gemetaran dan ponselku terlepas.
Tapi, belum habis syokku, Reza sudah muncul dan menampakkan wajahnya di hadapanku. "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Kenapa? Aku kenapa? Setelah kamu berjanji akan menikahi wanita lain, kamu masih bertanya aku kenapa?"
Kemarahanku benar-benar memuncak, sampai-sampai aku membanting sendok, garpu, piring dan gelas-gelas kaca ke lantai, bahkan pecahannya mengenai kakiku sendiri.
"Stop! Please!" pintanya.
"Kamu bohong! Kamu bahkan tidak pergi ke rumah sakit," teriakku.
"Tenang, ya? Aku bisa jelaskan," kata Reza. "Semua tidak seperti--"
__ADS_1
"Diam! Aku tidak butuh penjelasanmu. Kamu berengsek! Bajingan! Kamu sama saja seperti ayahku. Dasar lelaki sampah!"
Aku berteriak-teriak tanpa henti. Aku tidak mau memberikan dia kesempatan bicara -- kesempatan menyampaikan alasan-alasannya kenapa dia harus meninggalkan aku dan memilih Salsya. Aku tidak ingin kata-kata yang keluar dari mulutnya melukai hatiku lebih dalam lagi.
Reza mendekatiku, mencoba merangkulku, tetapi aku yang sudah terlanjur kalap meraih pisau dan...
Aku menusuknya.
Reza kesakitan. Pisau itu menghujam bahunya cukup dalam. Kupandangi darah-darah yang menetes mengotori lantai. Darah Reza. Tidak... Bukan. Bukan ini yang...
Kujatuhkan pisau itu ke lantai. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Aku tidak bermaksud melukainya. Dia memang telah menyakitiku. Tetapi aku tidak ingin dia mati. Aku tidak ingin membunuhnya.
Aku lunglai, terduduk di lantai. Sambil menahan sakit, Reza mencoba menghampiriku. Dia merenggut lenganku dan menarikku sampai berdiri. Dan aku tersadar sepenuhnya.
"Aku harus pergi," kataku. "Aku harus, aku tidak boleh ada di sini, kamu tidak boleh berada di dekatku. Aku tidak ingin membunuhmu. Aku..."
Aku mendorong Reza, kuraih ponselku dan langsung berlari, ke luar dari rumah itu. Reza tidak boleh ada di dekatku. Aku berlari secepat yang aku bisa, dengan pandangan kabur karena air mata dan isakan yang mengganjal di tenggorokan.
Pada akhirnya aku terjatuh, nyaris tersungkur, dengan telapak kaki dan lutut mendarat ke tanah.
"Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? Kenapa mereka semua jahat? Apa salahku?" Aku berteriak ke langit, kepada siapa pun yang sekiranya bisa mendengarku dari atas sana.
Aku hancur. Reza telah memorakporandakan semua pondasi yang mulai kubangun, cintaku, kepercayaanku, dan semua angan-anganku, semua tinggal kenangan.
Oh Tuhan, andai saja angan dan kenangan itu adalah jaring-jaring internet, sudah kugulung kabel-kabelnya dan kugunting bagiannya yang sudah kusut. Tidak akan sepedih ini. Tidak akan seperih ini.
__ADS_1
Aku terluka -- Lagi.