
Malam itu Reza berbaring di lantai dengan jaket dan selimut yang menyelubungi tubuhnya, persis di samping sofa tempat aku berbaring. Kurasa dia tidak tidur sama sekali. Dia hanya bergulak-gulik di lantai beralas karpet itu. Kutawari dia tidur di sofa, biar aku yang tidur di lantai, tapi ia menolak. Katanya dia tidak bisa tidur karena gelisah, bukan karena keras dan dinginnya lantai rumah sakit.
"Ada perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Semacam... rasa cemas... dan... rasa takut yang berlebihan. Tapi aku tidak tahu kenapa, apa alasannya," ujarnya. Kemudian dia bangun dan menyalakan televisi, lalu duduk di sofa, di ujung kakiku.
Aku tidak tega membiarkan Reza sendiri dengan kegelisahannya, aku ikut bangun dan membuat dua cangkir cokelat panas, satu untuk Reza dan satu lagi untuk diriku sendiri. Reza meminum cokelat panasnya dalam diam, tatapannya fokus ke layar televisi yang menyiarkan berita malam. Aku tahu dia sedang tidak ingin bicara, maka itu aku hanya menemainya dengan duduk di sampingnya. Entah berapa puluh menit setelah itu, kami sama-sama ketiduran dengan televisi yang masih menyala.
Aku terbangun oleh suara Reza yang memanggil-manggil ibunya dengan isak tangis yang memecah keheningan. Waktu itu sekitar jam dua pagi. Aku langsung terduduk dan meyakini aku tidak sedang bermimpi, kurasakan dingin dan menggigil melihat adegan penuh air mata itu. Seluruh tubuhku serasa lumpuh. Aku benar-benar tidak bisa merasakan kedua lengan dan kakiku, selain desiran darah di pembuluh-pembuluh nadiku. Dia memeluk dan menciumi ibunya yang sudah terbujur kaku. Menyaksikan itu, air mata langsung memenuhi kelopak mata.
Sesaat setelah berhasil menguasai kembali lengan dan kakiku, aku pun bangkit berdiri. Sepelan mungkin kupanggil namanya. Dia menoleh dan menatapku dengan wajah seorang anak yang membutuhkan pertolongan. Kuhampiri dan kuraih dia ke dalam pelukanku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menenggelamkan wajahnya di pelukanku sambil menangis.
Urutan-urutan cerita setelah itu adalah bagian-bagian yang tidak mampu kuceritakan, bagian yang aku sendiri tidak tahu pasti apa-apa saja yang terjadi. Yang kuingat, aku memanggil dokter, perawat atau siapa pun yang bisa datang ke ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter dan perawat saat dan selama ada di ruangan duka itu. Kefokusanku pecah, kekhawatiran terhadap Reza mendominasi di otakku.
Sekian menit kemudian, Reza sudah bisa menguasai diri sepenuhnya, sesaat setelah perawat menutup jenazah ibunya dan memindahkannya ke ruang jenazah. Sementara Reza menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, aku menelepon Alfi, Ari dan Ihsan untuk menyampaikan berita duka itu. Kemudian, aku pun langsung merapikan barang-barang kami untuk dibawa pulang.
Yeah, siapa pun di dunia ini pasti pernah kehilangan orang-orang yang dicintai. Ini terjadi setiap hari, sebab ini merupakan bagian kehidupan di dunia, di mana Tuhan menakdirkan manusia untuk datang dan pergi. Sebagaimana ada yang hadir dan lahir ke dunia, ada juga yang pergi meninggalkan dunia. Itulah yang dinamakan dengan takdir. Dan hari itu, bagi orang-orang yang pernah merasakan kehilangan karena kematian, adalah hari di mana dunia mereka terasa berhenti berputar dan langit terasa runtuh tepat di atas kepala, tak terkecuali bagi seorang Reza Dinata.
Sama halnya dengan situasi saat di rumah sakit, situasi di pemakaman pun tak bisa kujelaskan dan kugambarkan dengan rangkaian kata-kata. Melihat wajah-wajah penuh duka, anekdot-anekdot yang mengundang air mata, keranda yang berisi jenazah yang lalu dikebumikan dan dipasangi batu nisan, tetap takkan bisa menggambarkan seperti apa duka dan kesedihan Reza yang sesungguhnya, sebab yang ia rasakan jauh melebihi itu semua. Akan tetapi, meskipun dengan wajah sendu terselubung duka, Reza tetaplah anak laki-laki yang menunjukkan baktinya terhadap orang tua, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai anak, dia ikut menyalatkan, mengangkat keranda, bahkan masuk ke liang lahat itu untuk mengumandangkan azan dan memakamkan jenazah ibunya, meski dengan deraian air mata yang hampir tak ada hentinya.
Setelah prosesi pemakaman, aku, ibuku, Ihsan, Alfi, Mayra dan Ari, adalah orang-orang terdekat Reza yang belum beranjak pergi, sebab ia masih duduk termangu di depan pusara mendiang ibunya. Tapi keberadaanku di sisinya hanya sekadar hadir, lidahku sama keluhnya seperti dia. Aku tidak bisa berpura-pura bicara manis ataupun dengan nada-nada yang terdengar sendu, mengharukan, dan pintar dalam menghadapi hal itu. Beruntung, ibuku berhasil membujuknya untuk beranjak dari sana. Mungkin ada semacam rasa segan atau dia terlalu menghormati orang tua, sebab itu dia mau mendengarkan kata-kata ibuku.
Kami pulang dengan mobil terpisah. Ihsan bersama ibuku. Aku hanya berdua dengan Reza, dia tidak mau ikut mobil Ihsan atau membiarkan Alfi membawa mobilnya. Aku yakin itu karena ia menghindari situasi-situasi di mana orang-orang akan menatapnya dengan iba dan kesedihan yang menggelayuti wajahnya. Kecuali padaku, dia membiarkan aku selalu di sisinya, meski dia masih terus membeku dengan pandangan lurus ke depan, seolah apa pun yang ada di depan sana begitu menarik perhatian. Dia malah meminta Alfi dan Mayra ikut saja di mobil Ari. Zia tidak ikut, dia sedang hamil anak pertama mereka, hari itu juga aku baru tahu kalau Ari mengatakan pada Reza bahwa Zia tidak bisa ikut bagian dalam mengurus pernikahan kami, dia sedang mual-mualnya menghadapi trimester pertama usia kehamilannya. Ari menyampaikan berita bahagia itu saat kami berada di Cianjur, tetapi waktu itu Reza tidak menceritakan hal itu kepadaku.
Hari sudah menjelang siang saat kami sampai di rumah Reza. Aku, Mayra, ibuku dan Mbok Tin bergegas menyiapkan makan siang. Sedangkan Reza, Alfi, Ari dan Ihsan disibukkan dengan urusan persiapan takziah untuk malam itu. Tidak ada karyawan resto yang membantu di rumah, sebab mereka juga disibukkan dengan urusan katering untuk disuguhkan kepada para tamu, sementara sebagian karyawan lain mengurusi katering di sebuah hajatan yang aku juga tidak tahu entah di mana. Pesanan katering itu sudah dipesan dari jauh-jauh hari, sehingga tidak bisa dibatalkan hanya karena pemilik resto ditimpa musibah yang datangnya tak pernah pandang waktu, termasuk di hari minggu yang seharusnya menjadi waktu liburan nan syahdu.
Di saat makan siang sudah siap, aku bersyukur Reza memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap ibuku, hingga lagi-lagi dia langsung menurut tanpa bisa menolak saat ibuku menyuruhnya makan, mengisi perutnya yang kosong. Setelah cokelat panas yang kubuatkan tadi malam, dia tidak makan atau minum apa pun selain air putih. Meskipun dia hanya makan sedikit, setidaknya aku lega -- ada makanan yang masuk ke perutnya. Begitu juga pada saat selesai acara pengajian malam itu, dia ikut makan bersama para tamu yang hadir mendoakan mendiang ibunya.
Tetapi sayangnya, selepas pengajian itu ibuku langsung pulang ke Jakarta, pamit bersamaan dengan bibiku sekeluarga, sebab Ihsan harus masuk kerja senin besok. Pun Ari yang langsung pulang ke Lampung, dia tidak bisa menginap sebab khawatir sudah seharian meninggalkan Zia yang tengah mabuk berat. Dan semua karyawan pun juga pulang setelah tugas mereka untuk beres-beres dan bersih-bersih sudah selesai dikerjakan.
Suasana rumah itu kembali hening, sunyi dan sepi, seolah tak berpenghuni. Ditambah lagi Reza seperti orang yang benar-benar kehabisan tenaga. Dia sengaja mengurung diri di kamar ibunya semalaman, sampai dia tertidur lelap di sana. Bahkan dia memintaku atau siapa pun untuk tidak mengganggunya, katanya dia ingin istirahat. Akhirnya dia keluar dari kamar setelah matahari terbit: dalam keadaan masih mengantuk, rambutnya terikat tanpa disisir, ia belum mandi ataupun berganti pakaian, masih dengan pakaian yang sama yang ia pakai tadi malam. Itu untuk pertama kalinya aku melihat Reza dengan tampang kusut seperti itu, penampilannya saat itu benar-benar berantakan. Aku langsung teringat saat-saat kemarin, saat ibunya berpesan agar aku menemani dan mengurusinya, seakan ia tahu bahwa itu saat-saat terakhirnya di dunia, dia tidak ingin anaknya sendirian tanpa ada yang mengurusi dan menemaninya melewati hari-hari yang terselubung duka.
Kupaksakan bibirku untuk tersenyum. "Pagi, Mas," sapaku. Saat itu aku tengah berdiri di depan wastafel, baru selesai mencuci piring dan cangkir kotor bekas aku dan Mayra sarapan. Reza hanya merespons dengan senyuman kecil, hampir tak terlihat. "Mas Alfi ada di halaman belakang. Nanti siang mereka akan pulang. Kamu mau mengobrol dulu? Nanti aku bawakan sarapan. Kamu mau apa? Nasi goreng, bubur, roti, atau semuanya?" berondongku sambil berjalan menghampirinya. Aku berusaha seceria mungkin di hadapannya, rasa sedih melihatnya seperti itu tak bisa kutepis begitu saja.
"Roti saja, tolong buatkan kopi, ya," pintanya. Suaranya terdengar serak.
Aku langsung menempelkan tanganku di kening dan lehernya, panas. Fix, dia demam. "Kamu demam, jangan minum kopi dulu, ya. Kamu harus minum obat."
"Tolong? Aku butuh kopi," katanya memohon seperti anak kecil. "Obatnya nanti siang saja, ya?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan, bak seorang istri yang ingin menjaga ketat kesehatan suaminya.
"Please, Sayang?"
Ah, dari kemarin malam, jangankan memanggilku Sayang, dia bahkan hampir tidak bicara denganku, bahkan dengan siapa pun.
"Iya, akan kubuatkan," kataku mengalah. Aku tidak ingin berdebat dengannya yang masih diliputi duka.
"Sekalian tolong diantar ke belakang, ya."
Aku mengangguk. "Iya, Mas," kataku.
Sebelum ia melangkahkan kaki, ia sempat mengecup keningku. Meski hanya sekilas, ciuman itu membuat bibirku menyunggingkan senyum dan menaruh harapan agar duka itu segera berlalu. Bahkan saat itu aku jadi bertanya-tanya, berapa lama kabut duka itu akan menyelimuti dunia kami? Di sisi lain, hari pernikahan itu sudah ada di depan mata.
Tapi apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Hanya membiarkan waktu yang memberikan jawaban -- seperti jawaban yang dituturkan Reza kepada Alfi sewaktu mereka berdiri di dekat kolam di halaman belakang saat aku membawakan sarapan. Mereka tidak menyadari keberadaanku. Kudengar mereka sedang membahas tentang pernikahan kami.
"Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Tidak akan diundur, kan?" tanya Alfi.
Pertanyaan itu membuatku mematung, aku ingin tahu apa jawaban Reza, ini tanggal dua puluh tiga Maret, aku sendiri bahkan tidak berani menanyakan pertanyaan itu padanya.
Reza menggeleng. "Tidak, malah kalau bisa dipercepat," sahutnya.
"Mas, sarapan dulu," seruku.
Reza langsung menghampiriku dan mengajak Alfi untuk sarapan bersamanya. "Maaf, ya. Aku sudah merepotkanmu," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku senang melakukan ini untukmu. Tapi... apa aku boleh bicara?"
"Apa?" tanyanya, lalu ia menggigit ujung roti selai serikaya kesukaannya.
"Aku mau kita menikah atas dasar cinta dan kebahagiaan yang kita tunggu-tunggu, bukan sekadar untuk menutupi duka dan kesedihanmu. Kamu paham, kan?"
Reza manggut-manggut, sambil menatapku ia berkata, "Aku mengerti."
Well, siang harinya, Alfi dan Mayra berpamitan. Mereka tidak bisa lama-lama meninggalkan Tirta di rumah sepupu Alfi. Sebelum pergi, Alfi merangkul Reza. Melihat pemandangan itu mataku berkaca, haru atau apa aku tidak tahu, yang pasti aku rasanya ingin menangis.
"Jaga Reza, ya Ra," pesan Alfi. "Kalau ada apa-apa, langsung kabari kami."
__ADS_1
Aku mengangguk. Alfi dan Mayra pun naik ke taksi dan kami saling melambaikan tangan.
Saat aku membalikkan badan, aku menangkap basah Reza sedang menghapus air matanya. Aku tahu, kali ini dia bukan menangisi kehilangannya, melainkan karena kenyataan menyadarkannya bahwa dia hanya sebatang kara, dia tidak memiliki satu orang pun anggota keluarga yang sedarah dengannya. Alfi dan Mayra hanya sebatas sahabat meski sudah seperti keluarganya sendiri, begitu pun sosok Inara, AKU -- hanya sosok kekasih yang menyandang status sebagai calon istri, bukan dan belum menjadi istri.
Kuhampiri ia, kuraih tangannya dan kutelusupkan jemariku ke ruas jarinya. "Kamu tidak sendiri, ada aku. Aku akan selalu di sini bersamamu," ujarku.
Dia tersenyum sedikit. "Aku lapar," katanya. "Aku mau makan masakanmu."
Aku mengangguk, dengan sedikit senyuman langsung kuajak ia masuk. "Aku memasakkan sup hangat untukmu. Tapi kamu jangan memprotes rasanya, ya? Awas saja."
"Iya, rasanya akan tetap enak kok kalau kamu yang menyuapi."
Oalaaah... kupaksakan diriku untuk selalu tersenyum walau hatiku meringis. Mungkin kaupikir Reza sedang menggombaliku atau sedang bercanda denganku. Tapi sumpah, jika kaumelihatnya sendiri, kau akan tahu, dia tidak sedang menggombaliku apalagi bercanda. Dia sedang berusaha menyembunyikan dan menutupi kesedihannya.
Malamnya, Reza kembali menyendiri di teras belakang, dia duduk termangu di ayunan. Waktu itu kami baru saja selesai makan malam. Aku baru saja menaruh piring kotor di wastafel, tapi Mbok Tin dengan sigap mengambil alih posisiku.
"Non temani Den Reza saja. Ajak masuk, nanti tambah sakit kena angin malam," kata si Mbok, perhatiannya memang luar biasa.
Aku diam sejenak, memikirkan bagaimana caranya untuk membujuk Reza supaya dia mau masuk. Sekilas terpikir untuk menemaninya sebentar, lalu berpura-pura kedinginan, berharap dia akan iba padaku dan membawaku masuk. Tapi sekelebat kenangan manis sewaktu kami di villa muncul di otakku. Aku mengambil sehelai selimut flanel lebar, dan membuat cokelat panas yang mengepul untuk masing-masing.
Dia tersenyum padaku sewaktu aku datang menghampirinya. Kutaruh cokelat panas di atas meja, di sisi kiri ayunan, lalu duduk di sampingnya. Kami meringkuk berpelukan dalam gelap, terlindung dalam selimut lebar yang nyaman. Satu tangannya memeluk pinggangku, dan satu tanganku kuletakkan dengan aman di dadanya. Kami memandangi bintang-bintang sambil mendengar lantunan merdu Michael Jackson dalam lagu You Are Not Alone, juga Bryan Adams dalam Everything I Do.
Dalam keadaan seperti ini, semesta menuntutku untuk berperan sebagai teman yang paling bijak baginya. Yah, duka ditinggal pergi oleh orang yang dicintai memang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, tidak ada kesedihan yang benar-benar sama. Kusadari, penting untuk tidak membandingkan sedih dan duka yang pernah kualami atau dialami oleh orang-orang lainnya di situasi seperti ini. Aku tahu, orang yang sedang berduka tidak butuh dihibur, ia hanya ingin dimengerti, dipahami, dan dimaklumi bahwa kehilangan seseorang itu menyakitkan.
"Kegelisahanku malam itu ternyata isyarat kalau Ibu akan pergi. Aku sebatang kara. Aku tidak punya keluarga -- maksudku yang benar-benar anggota keluarga. Seanggota. Sekeluarga. Yang...."
Kulepaskan pelukan dan kutegakkan bahuku, lalu kutatap ia dengan iba. "Aku tahu, aku paham apa yang ingin kamu katakan," ujarku menyalip ucapannya, yang Reza sendiri bingung bagaimana merangkai kalimat yang tepat. "Tapi, kamu punya aku. Kita akan menikah, dan kamu akan punya istri. Selain itu kamu akan punya ibu mertua, punya saudara ipar, ada banyak sepupu, keponakan, tante, oom, dan yang terpenting selain kamu punya istri, kamu akan punya empat orang anak, atau bisa lebih. Tidak masalah kalau aku harus hamil terus," celotehku berapi-api. "Kamu akan punya banyak anak, darahmu akan mengalir di tubuh mereka. Akan ada Dinata-Dinata kecil yang meramaikan rumah kita. Kamu tidak akan pernah sendirian. Ada aku, aku akan selalu menemanimu, selalu ada di sisimu walau apa pun yang terjadi. Apa pun yang terjadi, Mas. Aku akan selalu ada untukmu. Jangan lagi bilang kalau kamu sendirian. Kamu tidak sebatang kara, ya? Ada aku. Kamu punya aku." Air mataku kembali menetes.
Reza mengangguk. "Tapi tetap saja, aku menyesal," ucapnya lirih. "Harusnya aku penuhi keinginan Ibu, harusnya aku turuti apa yang dia mau. Dia hanya ingin melihatku menikah." Reza mengalihkan pandang sebelum munuturkan lagi kalimat-kalimat penyesalannya. "Aku bodoh, apa susahnya mengiyakan waktu Ibu minta kita menikah seminggu setelah lamaran itu? Benar-benar bodoh."
Aku tersentak mendengar kalimat penyesalan itu, seolah dia juga menyalahkan aku. Waktu itu dia tidak ingin buru-buru menikah jelas karena melihat reaksiku yang terkejut. Dan, hatiku lebih sakit saat mendengar Reza mengucapkan, "Atau bahkan harusnya aku menikah sejak dulu, supaya Ibu merasakan bahagianya menimang cucu."
Yang dulu bersamamu itu bukan aku, Mas. Hatiku menjerit. Sakit. Tapi apa dayaku. Aku tidak boleh sakit hati. Kutekan segala rasa yang berkecamuk. Saat ini, bukan hanya sultan yang bebas, orang yang diselimuti kesedihan pun bebas, bebas mau bicara apa dan bebas mau berbuat apa.
"Ibu sudah bahagia di atas sana. Ibu ingin kamu juga bahagia di sini. Meskipun Ibu sudah tidak ada di tengah-tengah kita, ia akan tetap melihatmu menikah. Dia akan melihatmu dari sana."
Sekali lagi Reza mengangguk. Dia sudah lebih tenang. "Boleh aku tidur di pelukanmu?" tanyanya.
__ADS_1
Aku mengangguk dan senyumku mengembang. Kuajak dia masuk dan kami tidur di kamarnya. Sengaja aku menyetel lagu Bintang, lagu miliknya Anima. Dan aku tahu, Mbok Tin tidak akan berpikir macam-macam perihal aku yang menemani Reza di kamarnya, karena aku tahu ia juga sayang pada Reza. Yang terpenting saat ini Reza tertidur, demamnya sembuh, dan dukanya berkurang. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menjaganya. Aku sangat mencintainya, melebihi cintaku kepada diriku sendiri.