Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Mengalahkan Ego


__ADS_3

Reza memintaku untuk membuktikan janji. Dia langsung menelepon ayahku dan membuat janji untuk bertemu. Maka aku pun terpaksa setuju untuk bertemu ayahku. "Aku sangat bangga padamu," Reza berkata setelah menutup telepon.


"Ah, monyet."


"Apa?"


"Monyet...!" pekikku yang langsung meronta geli akibat gelitikan parah dari Reza yang membuat kami sama-sama larut dalam tawa.


"Mas benar-benar sayang padamu," katanya selepas tawanya reda. Dia mengatakan itu seraya membelai wajahku dan dengan tatapan mata yang penuh cinta, membuat hatiku berdendang ria dan jiwaku melayang ke angkasa. Sebab, Reza bukan lelaki yang suka mengumbar kata-kata cinta dan sayangnya tanpa sebab dan alasan, lebih tepatnya dia mengatakan itu hanya di saat-saat tertentu, di momen yang penuh arti dalam hubungan kami.


Kami pun langsung menuju kawasan resto Demang Lebar Daun untuk bertemu ayahku, sembari untuk mengisi perut yang sedikit keroncongan minta diisi. Begitu sampai di sana, rupa-rupanya ayahku sudah sampai lebih dulu, dengan style ala pengacara kondang, lengkap dengan kaca mata, jas, dan dasi panjangnya. Kami pun langsung duduk di meja yang sama -- ya, ya, kuakui sebenarnya Reza menarikku dengan kuat untuk sampai ke meja itu. Kemudian dia langsung menyalimi tangan ayahku. Sedangkan aku pura-pura bodoh. Aku berlagak tidak melihat adegan itu. Reza pun menghela napas, dan berkata dengan bibir agak dikatupkan, "Sayang, ingat aku bilang apa padamu?"


Yang sopan, itulah yang dikatakannya kepadaku, tepat sebelum kami turun dari mobil.


Ayahku menyodorkan kelapa muda yang sudah ia pesankan untuk kami masing-masing. Dia bergerak-gerak gelisah di dekatku, seperti ingin memelukku, tetapi tidak tahu apa aku akan memperbolehkannya. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya dia hanya mencekal pundakku dengan mantap. "Ayah senang sekali bertemu denganmu," katanya, lalu, ia pun memuji-mujiku, menanyakan tentang kehidupanku, dan ramah-tamahnya juga tidak kelihatan palsu: singkatnya, dia bersikap sebagai orang yang tahu bahwa akulah yang memegang kuasa di sini. Dia sekadar ingin aku menyukai dan menerimanya.


"Jadi, berapa banyak istri Anda sekarang? Yanti?  Rhea? Tia? Tiga orang? Atau lebih?"


Aku tidak tahu kenapa aku bertanya seperti itu. Sementara, di sampingku, ayahku nampak kebingungan, lalu ia menggeleng. "Cuma mereka," katanya -- menyahut dengan pelan.


"Cuma?" kataku dengan nada jauh lebih sengit daripada yang kuniatkan. Seputar meja seketika hening.


Ayahku menunduk memandang lantai di bawah pijakan kakinya, berusaha menyembunyikan rasa malu dari wajahnya.


Reza memiringkan kepala dan mengangkat satu alisnya kepadaku, seolah-olah aku telah melanggar janji. Sialan, kataku dalam hati, dengan dada panas terbakar dendam masa lalu. Kenapa cuma aku seorang yang luka-luka masa lalunya tidak bisa disembuhkan oleh waktu? Apakah memang hanya aku yang menganggap masa lalu itu begitu buruk?


"Apa mereka semua tahu Anda punya tiga orang istri?" tanyaku lagi, ayahku mengangguk tanpa suara. "Heran, kenapa mereka mau?"


Aku mendengus, sementara di depanku, Reza nampak tak bisa berkutik, dia hanya bisa melotot -- pelototan yang sama sekali tak kugubris.


Ayahku berdeham, nampak bingung hendak menjawab apa. "Emm... mereka semua janda, punya anak. Mereka... mereka butuh pendamping untuk--"

__ADS_1


"Dengan mendepak aku dan ibuku? Juga adikku, bayi yang berusia empat bulan? Begitu?"


Lagi. Dia menggeleng. "Nak," katanya, "Ayah punya alasan kenapa--"


"Aku tahu," potongku lagi.


Kali ini, nampaknya Reza akan membiarkan aku melampiaskan amarahku yang sudah tidak terbendung. Dia hanya memerhatikan dan tak mencegahku lagi untuk bicara.


"Aku tahu semuanya. Aku tahu segala kemungkinan kenapa Anda meninggalkan kami. Tapi bukan itu permasalahannya. Bukan." Lalu aku menunjuk ke wajahnya dengan jari tengah. "Anda tahu apa? Hmm? Salah Anda -- Anda selingkuh. Anda seorang bajingan tengik, lelaki berengsek, dan seorang pecundang yang hanya jantan di ranjang. Tidak lebih!"


Kontan Reza melotot. "Nara!" sergahnya, tapi aku tak peduli.


"Harusnya Anda bicara baik-baik. Katakan kalau sudah tidak mencintai kami. Kembalikan ibuku baik-baik pada keluarganya sebagaimana Anda memintanya dengan baik. Bukannya malah berselingkuh wahai Bapak Pengacara yang terhormat."


Ayahku menunduk, beberapa kali dia mengucapkan kata maaf di sela-sela ucapanku, tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku berang bukan kepalang.


"Meskipun Anda dan Bunda tidak bisa bersama, harusnya Anda tetap datang dan bertanggung jawab terhadap anak-anak Anda. Terhadap aku. Seharusnya Anda tetap menafkahi aku dan memberikan kasih sayang untukku. Keabsenan Anda, itu -- itu yang membuatku sangat benci. Itu yang tidak bisa kutolerir sama sekali. Oh astaga... andai saja Anda paham apa yang kukatakan ini."


"Ayah waktu itu tidak mampu--"


"Waktu itu Anda mampu membeli motor!"


"Ayah butuh, Nak...."


"Anda bahkan punya niat membeli mobil."


"Iya, tapi--"


"Oom...," Reza mencekal. "Bisa kita mengobrol sebentar di luar?"


Ayahku mengangguk, menyetujui permintaan Reza, dan mereka pun keluar, meninggalkan aku sendiri di meja itu. Aku berharap telingaku dapat memanjang elastis agar dapat mendengar pembicaraan mereka yang tampak serius. Sayangnya, aku bukanlah tokoh kartun yang bisa memanjangkan telingaku begitu saja. Jadi, aku hanya dapat menebak-nebak apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Kemungkinan yang paling masuk akal: Reza meminta ayahku jangan bersikeras membela diri di depanku. Sebab, hal itu akan semakin membuatku marah, panas, dan semakin membencinya. Tapi ya sudahlah. Terserah! Aku lapar dan aku ingin makan.


Aku sudah mendapatkan pesananku, nasi goreng ijo dengan telor mata sapi -- saat Reza dan ayahku kembali duduk di meja kami. Lalu, dengan sengaja kusumbat telingaku dengar earphone dan langsung memutar lagu dari ponsel.


"Aku mau menikmati makananku. Kalian silakan mengobrol saja," kataku -- memilih menghindari obrolan dengan mereka.


Untuk mencairkan suasana -- kurasa -- Reza menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia pengacara pada ayahku, dan ini berkembang menjadi obrolan tentang hal-hal lain, misalnya tentang Hak Asasi Manusia dan tentang kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara ini.


Whatever...! Lagi-lagi terserah. Aku pun tidak bicara lagi sampai akhirnya tiba juga waktunya bagi kami untuk lekas ke bandara.


"Ayah benar-benar senang bertemu denganmu," ayahku berkata lagi sebelum kami berpamitan, maksudku -- sebelum Reza berpamitan, dan bukan aku. Dan kali ini, lelaki itu bicara sambil memelukku -- begitu erat -- meski aku tidak balas memeluknya. Malahan, sejujurnya aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku tidak suka dia memelukku, tetapi aku tidak punya keberanian untuk mengucapkannya. Sebab... ngeri, Reza tak hentinya mengawasiku dengan sorot matanya yang mengancam.


Seram!


"Nak," kata ayahku lagi, dia mencoba memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang untuk kami. "Belilah hadiah untuk merayakan pernikahan kalian," katanya.


Aku menggeleng, aku tidak butuh uangnya. "Tidak perlu," kataku menolak. "Aku sudah besar, aku sudah cukup dewasa dan aku sudah bisa mencari uang sendiri. Terima kasih." Aku melangkah pergi, meninggalkan Reza dan ayahku yang masih bercuap-cuap di belakang sana.


Yeah, aku tidak ingin menerima uang dari ayahku, aku bukan Inara kecil yang membutuhkan uang yang dihasilkan dari keringat dan jerih payahnya. Dan yang pasti: ITU SUDAH TERLAMBAT. SANGAT TERLAMBAT.


"Nak, apa Ayah boleh datang ke pernikahanmu?" tanya ayahku, suara gemetarnya menyetop langkah kakiku yang sudah berjalan beberapa langkah menuju parkiran tanpa pamit.


Aku mengangguk. Kemudian, tanpa membalik badan aku berkata, "Datanglah sebagai keluarga, bukan sebagai wali nikah. Dan, please, tolong datang sendirian, jangan mengajak siapa pun."


"Baiklah," sahutnya. Entah kenapa, meskipun responsku begitu cuek, aku merasa dia pasti tersenyum bahagia di belakang sana.


Tapi jujur saja, bagiku ini sangatlah sulit. Dalam perjalanan pulang pun aku mesti mengatakan kepada Reza untuk tidak berkomentar sedikit pun, yang penting aku sudah membiarkan ayahku bertemu denganku -- tanpa -- aku menghindar dan menjauh.


Sungguh, cinta ini mampu mengalahkan egoku.


Dan aku melakukan semua ini hanya demi kamu.

__ADS_1


__ADS_2