Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Resah


__ADS_3

Sewaktu aku berdiri di depan kompor, Reza berjingkat-jingkat masuk ke dapur, menyelinap ke belakangku, lalu merangkul pinggangku. Aku terlompat kaget, membalikkan badan, dan memukul dadanya dengan tangan.


"Jahil!"


Dia terkekeh kesenangan, lalu kembali merangkulku sewaktu aku mengambilkan nasi goreng untuknya. Kepalanya bertumpu di pundakku, dan dengan manisnya ia membisikkan cinta di telingaku. Aku tidak melarangnya, kubiarkan saja dia seperti itu walau sebenarnya dia memperlambat gerakku. Aku tahu dia butuh tempat untuk bermanja-manja, seperti pada ibunya dulu. Mbok Tin yang sedang menyiapkan teh hangat, tak hentinya melirik dan terus tersenyum tanpa komentar. Aku tahu dia senang karena Reza sudah kembali ceria seperti biasanya.


Betapa indahnya pemandangan di depanku hari itu, saat aku kembali menyaksikan Reza makan dengan lahap, menikmati suapan demi suapan nasi goreng pete yang kumasakkan spesial untuknya.


Dia mengacungkan jempol. "Hebat," pujinya. "Baru beberapa hari kamu sudah pandai memasak."


"Jangan memujiku, nanti aku terbang."


Reza tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, sampai benda persegi di depannya berbunyi -- untuk mengganggunya. Padahal dia baru menghabiskan setengah porsi makanannya.


Fix, aku jengkel. Aku tidak tahu itu telepon dari siapa, nomornya tidak terdaftar di kontak Reza. Namun anehnya, setelah mendengar suara seseorang di seberang sana, Reza langsung masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Biasanya juga dia menerima telepon di depanku. Aku merasa ada yang aneh. Tapi apa?

__ADS_1


Hampir setengah jam sejak pintu itu tertutup, Reza masih belum juga keluar dari sana. Aku tidak tahan. Kuketuk pintunya, dan aku masuk. Dia sedang duduk di kursinya, satu siku bertelekan di lengan kursi, dan satu tangannya masih menggenggam ponsel. Matanya menatap tajam ke dinding yang polos, menerawang. Aku jadi teringat, dia pernah seperti ini waktu pertama kali Salsya meneleponnya saat kami liburan di Bali. "Ada apa?" tanyaku. "Siapa yang menelepon?"


"Kayla," katanya.


Aku duduk di atas mejanya. Dia menaruh ponselnya dan membenamkan wajahnya di pangkuanku. "Mas, ada apa? Siapa Kayla? Ada urusan apa dia menelepon?" tanyaku. Mungkin kau mengira aku mencecarnya, tapi sungguh, aku bertanya sepelan mungkin.


Reza mengangkat wajah. Keningnya berkerut. "Kayla, temanku, sahabat dekat Salsya."


Perkiraanku tidak meleset, ini tentang Salsya. Pasti bukan berita bagus. "Ada hubungannya dengan Salsya? Dia kenapa?" tanyaku, berusaha -- untuk tetap tenang.


What?


Aku terkejut, terlonjak tepatnya. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Jantungku rasanya berhenti berdetak, seolah ada jutaan peluru yang ditembakkan tepat di dadaku, menembus jantung dan menghancurkannya sedemikian rupa hingga tak bersisa. Dan, amarah pun mulai bersemayam di hatiku. Dari ekspresi wajahku, Reza pasti menyadari apa yang sedang kupikirkan. Dia pun mencoba untuk menenangkan aku.


"Bukan aku," katanya. Dia bangkit dan menaruh tangannya di pundakku. "Jangan khawatir. Bukan aku yang menghamilinya. Dia sendiri tidak tahu dia hamil dengan siapa."

__ADS_1


Aku menarik napas dalam-dalam dan merasakan lagi jantungku berdegup. Aku turun dari meja dan menghambur ke pelukannya. "Sungguh? Kamu tidak membohongiku?"


"Aku bersumpah. Demi Tuhan. Bukan aku. Kayla bilang Salsya pergi ke club sehari setelah bercerai dengan suaminya. Dia mabuk dan tidak tahu siapa yang membawanya ke hotel. Saat dia sadar, dia sendirian dan dalam keadaan yang menyedihkan. Dia...."


Telanjan*. Aku yakin itu yang ingin ia katakan.


"Well, kalau kamu memang jujur, kenapa kamu--"


Reza menaruh jarinya di bibirku. Aku pun terdiam. "Sekarang dia di rumah sakit dan tidak tahu harus bagaimana." Lalu diam sejenak. "Aku hanya kasihan padanya. Dia butuh pertolongan, sedangkan dia tidak punya siapa-siapa. Kamu mengerti, kan?"


Aku melepaskan diri dari pelukannya, berjalan ke arah jendela, memandang ke luar, ke langit biru di atas sana. "Mas," kataku. "Rasa kasihan itu tidak akan menyakitiku, kan?"


"Hei...," katanya sembari berjalan menghampiriku, lalu ia memelukku dari belakang. "Jangan berpikir kalau aku akan menyakitimu dengan cara apa pun. Oke? Kamu separuhku. Menyakitimu sama saja aku menyakiti diriku sendiri. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Hal ini tidak akan memengaruhi hubungan kita. Percaya padaku."


Tetapi aku takut. Apakah takdir baik akan tetap berpihak kepadaku?

__ADS_1


__ADS_2