
Reza sibuk dengan pekerjaannya di sepanjang hari. Dia hanya menyempatkan diri untuk menghubungiku melalui video call beberapa kali, dan mengirimiku nasi boks untuk makan siang dan makan malam, meski aku tidak makan malam sebab hilang selera. Selebihnya, dia fokus dengan pekerjaannya dan pulang larut malam.
Aku tahu saat dia pulang. Waktu dia masuk ke kamar, aku pura-pura sudah tidur. Aku tidak bermaksud membohonginya. Aku hanya tidak ingin dia melihatku dalam keadaan bad mood dan membuatnya memikirkan aku, padahal dia sendiri pasti sudah lelah bekerja seharian. Aku tidak ingin membebaninya dan ingin dia cepat-cepat istirahat.
Reza sudah berganti pakaian saat masuk ke kamarku. Dia sudah mandi dan sudah menyisir rambutnya yang masih basah dan terurai. Aku merasakannya saat dia mencium keningku. Lalu, ia pun merapikan selimutku. Setelah itu dia keluar, tidur di kamar lain. Itu artinya kemarin malam pun dia tidak tidur di sampingku.
Keesokan paginya, dia sudah bangun dan duduk di kursi di teras depan. Dia menyesap kopinya dalam diam, dan seperti sedang memikirkan sesuatu yang sifatnya serius. Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku yang sudah berdiri cukup lama di depan pintu.
"Mas?"
"Emm?" Dia menoleh kaget ke arahku.
"Kamu sedang memikirkan apa? Apa ada masalah?"
Ekspresi aneh tiba-tiba bernaung di wajahnya saat aku mendekat. Wajahnya nampak benar-benar dingin, tatapan matanya berbeda, tidak hangat seperti biasanya. Dia yang biasanya mencium pipiku dengan ucapan selamat paginya, pagi ini justru berbanding terbalik dari biasanya. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku.
Kenapa? Dia terkesan mendiamkan aku. "Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita kepadaku. Hmm? Atau aku ada berbuat salah, ya?"
"Kamu merokok?" tanyanya tiba-tiba, tanpa sebab tanpa alasan, tanpa angin, tanpa hujan, apalagi badai.
Pertanyaannya membuatku terkejut. Apa maksudnya tiba-tiba bertanya seperti itu?
"Aku tidak tahu kamu merokok," katanya.
Hah? Apa ini? "Sebentar dulu, Mas. Apa dasarnya kamu bertanya seperti itu padaku? Aku sama sekali tidak pernah merokok."
Dia menatap seolah tak percaya padaku. Sorot matanya serasa menguliti hatiku.
"Ya Tuhan, tidak. Aku tidak pernah merokok. Kamu tidak percaya padaku? Iya?"
Dia menggeleng dan melempar pandangan ke arah lain.
"Mas, kamu sudah beberapa kali menciumku. Apa ada bau rokok dari napasku? Atau kamu mau membuktikannya sendiri? Sini. Cium aku kalau kamu tidak percaya."
Tak!
__ADS_1
Dia mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik api dari sakunya. Ditaruhnya kedua benda itu ke atas meja. "Lantas, ini milik siapa? Aku menemukan ini di atas meja."
Oh, Tuhan. Itu milik Aris. Ceroboh sekali aku sampai tidak menyadari hal itu. "Mungkin... mungkin milik seseorang yang tertinggal di situ," kataku. Aku tidak berbohong dengan jawabanku itu.
"Berarti kemarin ada seseorang yang datang ke sini?"
Ya ampun... tatapan matamu membuatku ngeri. Apa aku harus menjawab iya? Aku tidak ingin berbohong. Aku tidak mungkin mengatakan tidak.
"Nara?" Setelah sekian hari, baru kali ini dia memangilku dengan nama asliku, bukan memanggilku Sayang seperti biasanya.
Aku menatapnya dengan takut. "Emm?"
"Kemarin pagi aku sempat duduk di sini. Kedua benda ini belum ada. Itu artinya, ada seseorang yang datang ke sini saat aku pergi. Benar?"
Aku mengangguk.
"Siapa?"
"Aris. Tapi dia cuma duduk di sini kok."
"Sumpah, Mas. Aku tidak mengizinkannya masuk."
"Aris itu siapa? Kenapa kamu tidak bilang padaku?"
Ya Tuhan....
"Aris itu... dia... temanku."
"Kamu janjian ketemu dia di sini?"
"Mas...."
"Apa itu alasanmu kemarin malam minta kita tinggal di sini?"
Aku menggeleng. "Bukan begitu!"
__ADS_1
"Apa karena itu kamu tidak mau ikut aku ke restoran kemarin?"
Plak!
Ouwww... sifat barbarku kumat. Tanganku refleks menamparnya karena dia mencecarku dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.
Kutarik napas dalam-dalam. "Kamu keterlaluan! Kamu tega menuduhku serendah itu. Kamu mengintrogasiku seolah aku ini istri yang ketahuan selingkuh. Kamu jahat!"
Kutinggalkan dia di sana. Aku lari ke kamar dengan air mata yang sudah berurai. Apa ini? Sebuah kisah yang di awalnya saja sudah sepahit ini. Bagaimana bila aku meneruskannya? Tidak. Aku tidak ingin cinta yang seperti ini. Aku tidak ingin lelaki yang seperti ini, yang bahkan tidak memberikan aku waktu untuk bicara.
"Berengsek! Semuanya berengsek!" Aku bahkan membenci diriku sendiri karena terjebak dalam cinta yang bahkan tak sedalam yang kukira. Aku benci, tidak seharusnya aku secengeng ini. Persetan dengan semua janjiku. Aku ingin pergi. Kulepaskan kalung pemberian Reza dari leherku. Kulemparkan benda itu ke tempat tidur. Aku datang ke sini tanpa apa-apa, aku tidak akan membawa apa-apa. Kuraih tas dan ponselku. Aku menghambur keluar dari kamar.
Oh, sial! Reza mengunci pintu depan. Dia pasti menyimpan semua kuncinya supaya aku tidak bisa pergi.
Hah? Bisa-bisanya dia santai di belakang sana dengan bermain gitar. Dasar berengsek!
"Mana kuncinya?" tanyaku, masih dengan air mata berlinang yang tidak mau berhenti mengalir. Ini kenapa sih air mataku tidak bisa dikontrol?
Keningnya mengerut. "Kamu mau ke mana?" tanyanya. "Kamu itu belum mandi."
"Persetan! Bukan urusanmu!" bentakku. "Sini, berikan kuncinya padaku! Aku mau pergi. Aku tidak sudi berlama-lama dengan lelaki berengsek sepertimu," kataku kasar dan dengan nada tinggi.
Dia hanya tersenyum. Masih memainkan gitar di tangannya.
Kenapa sih? Apa dia gila? Aku tidak mengerti apa maksudnya? "Tolong, berikan kuncinya," pintaku dengan suara melemah. Mungkin sebaiknya aku tidak perlu berkeras, pikirku. Aku takut lelaki itu psikopat. Bisa mati konyol aku di dalam sini. "Tolong, izinkan aku pergi. Jangan mempermainkan aku."
Terpaksa, aku memohon dengan ekspresi memelas. Berharap Reza akan mengasihaniku dan membebaskan aku. Aku terkesan seperti tawanan yang kapan saja bisa mati konyol di tangannya. Pikiran-pikiran aneh pun memenuhi ruang di otakku.
Tuhan, jika nyawaku tidak bisa diperpanjang, tolong jaga selalu Bunda dan Ihsan.
Aku duduk lemas -- meringkuk dengan menekuk kedua lutut ke lantai. Rasa sesak menjalar, menguasai rongga dadaku. Pandanganku berkunang. Dan...
Gelap.
Aku pingsan.
__ADS_1