
Delapan hari berikutnya berlalu dengan cepat. Setiap malam Reza meneleponku dan kami menghabiskan waktu berjam-jam di telepon, memimpikan masa depan kami, dan merencanakan bulan madu yang tidak ke mana-mana. Reza ingin kami tinggal di kampung sampai selesai perayaan iduladha. "Kamu mau, kan?" tanyanya.
"Iya, aku mau," kataku. "Tidak masalah. Di mana pun asal bersamamu -- akan selalu menyenangkan."
Reza terkekeh di seberang sana, membuatku semakin rindu melihat wajah dan senyumannya -- yang terakhir kali kulihat sebelum aku pulang ke Jakarta, karena setelah hari itu kami tidak pernah melihat wajah satu sama lain meski lewat video call. Reza bilang dia ingin melihatku lagi setelah akad, setelah dia mengucapkan ijab, setelah aku resmi menjadi istrinya.
Di malam terakhir menjelang pernikahan kami, Reza mengabarkan kalau dia sudah berada di Palembang -- bersama Alfi, Mayra, Tirta, Erik, dan Mbok Tin. Dia juga akan membawa serombongan karyawan Dinata Resto Palembang bersamanya di hari pernikahan kami. Sekalian untuk membantu membawakan seserahan katanya. Dan terakhir dia juga mengatakan, "Tidak ada siapa-siapa lagi."
Ya Tuhan, dengan sigap aku melarangnya melanjutkan kalimat itu. Dengan memohon, kukatakan jangan membahas hal itu lagi. Aku tidak mau ada kesedihan sedikit pun menjelang hari pernikahan kami. Dan akhirnya kami memilih untuk segera tidur.
"Ehm...," dia berdeham sebelum menutup telepon. "Apa kamu masih mencintaiku?" tanyanya.
Ya ampun... pertanyaan macam apa itu? Tapi aku tidak mau memperdebatkannya.
"Masih. Akan selalu. Terus. Dan selamanya. Aku akan mencintaimu tanpa henti. Selama darahku masih mengalir, dan selama jantungku masih berdetak. Selama itu pula aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
Reza terkekeh lagi. "Aku lelaki yang beruntung karena aku akan menikahi seorang penulis novel roman. Semoga kehidupanku sebahagia cerita fiksi."
"Aamiin...," sahutku. Aku berguling dan berbaring tengkurap, melihat jam di samping tempat tidurku. "Coba bayangkan, dalam dua belas jam dan lima belas menit lagi, aku akan menjadi seorang Nyonya Dinata."
Lagi-lagi Reza terkekeh, tapi kali ini ia terkekeh pelan. "Aku juga sedang menghitung jam, Sayang. Aku juga sudah tidak sabar," ujarnya dengan parau. "Sampai bertemu di pelaminan. Aku sangat mencintaimu."
Aaaaah... bahagianya.
Hari pernikahan itu pun tiba. Hari yang kutunggu-tunggu sejak aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada sosok Reza Dinata. Begitu bangun dari tidur, pikiran pertamaku adalah bahwa hari ini hari pernikahanku. Hari yang indah. Langit berwarna biru cerah dah cuacanya menjanjikan kehangatan.
Sekilas aku memandang ke arah jam yang menunjukkan bahwa aku hanya memiliki waktu kurang dari tiga jam untuk mandi, makan, berpakaian dan berhias.
Aku baru turun dari tempat tidur ketika terdengar ketukan di pintu. "Sayang, kamu sudah bangun?"
Itu ibuku. "Ya," seruku. "Masuk, Bund."
Ibuku tersenyum ketika masuk ke kamar dengan secangkir creamy latte di tangannya. "Hari inilah harinya," ujarnya sambil mengulurkan cangkir itu kepadaku.
Aku mengangguk, aku menyadari diriku gugup. Tetapi aku merasa hal itu sudah sewajarnya. Bukankah para pengantin memang seharusnya gugup?
"Tenangkan dirimu. Pergilah mandi, nanti Bunda buatkan makanan untukmu." Ia memelukku, dengan air mata berkilauan di matanya, lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Aku tahu, aku tahu Bunda pasti merasa kehidupan yang selama ini terasa berjalan dengan lambat, tapi hari ini malah terasa berjalan dengan begitu cepat, sebab Inara kecilnya sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Inara kecilnya akan dinikahi seorang lelaki asing yang mencintainya.
Aku pun cepat-cepat mandi, dan ketika aku kembali ke kamar, ibuku sudah ada di sana. Dia membuatkan bubur ayam kesukaanku. "Terima kasih, Bund. Tapi Nara makannya nanti, ya?"
"Makanlah sekarang. Merias pengantin butuh waktu yang lama. Cacingmu nanti bisa meronta-ronta selama kamu dirias."
Aku terkekeh mendengarnya. Aku pun memutuskan untuk langsung makan. "Baiklah, Bund. Nara menurut," kataku, lalu aku duduk dan makan.
Tiga jam pun berlalu.
Suara-suara keramaian sudah terdengar di luar sana sewaktu aku selesai dengan riasanku. Kulirik diriku untuk terakhir kali di depan cermin sebelum keluar dari ruang rias. Aku suka riasan ala Zaza. Mataku berkilauan, pipiku kemerahan. Di saat bersamaan aku memikirkan Reza, dan itu membuatku merasa cantik dalam balutan kebaya putih yang dirancangkan Mayra khusus untukku.
"Hai," suara lembut Ihsan menyapaku. "Kamu luar biasa. Sangat cantik."
Jiaaah pujiannya. "Trims... tapi aku tidak punya uang receh." Aku pun cekikikan. "Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan?" tanyaku.
"Cuma mau bertanya, sedikit."
"Mmm-hmm?"
"Kamu... apa kamu yakin, kamu mau aku...."
"Kamu mau aku yang menjadi wali nikahmu? Apa mau...?"
Eh? Kenapa dengan adikku ini?
"Kenapa kamu yang ragu?"
"Bukan ragu. Hanya mau memastikan. Kan dia--"
"Dia tidak berhak. Kamu yang berhak. Kamu yang selalu ada dan kamu yang selalu melindungiku. Bukan dia."
Ihsan baru akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab. Tapi aku langsung memotongnya. Tidak ada yang berhak selain dirinya.
"Jangan bahas ini lagi, tolong? Aku mau calon suamiku menerima tanggung jawab -- atas diriku -- itu darimu, saudara kandungku, saudara laki-lakiku satu-satunya. Bukan dia yang berstatus ayah tapi tidak pernah bertanggung jawab, apalagi mereka yang sedarah seayah tapi tak seibu denganku. Kamu paham itu? Aku mau hanya kamu yang menjadi wali nikah untukku. No debat." Kuraih tangan Ihsan dan menggenggamnya dengan kuat. "Aku mau dia menjabat tanganmu, tangan ini, tangan yang selalu melindungiku. Bukan tangan orang asing. Oke?"
Ihsan mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Dia langsung memelukku dengan erat. "Aku sangat menyayangimu," katanya. Dia tersenyum lalu menghapus bulir bening di sudut-sudut matanya. "Tidak terasa, dua puluh tiga tahun berjalan dengan cepat."
__ADS_1
Ah, Ihsan kecilku benar-benar sudah menjelma menjadi pria dewasa. Bahkan sejak dulu -- dia sudah dewasa sejak dulu. Adik lelakiku yang tampan. Pelindungku.
Untungnya aku stand by memegang tisu. Kalau tidak, air mata itu akan merusak mekapku.
Well, inilah waktunya.
Prosesi akad pernikahan di kampungku bukanlah seperti akad pernikahan yang sering kaulihat di tayangan televisi, di mana mempelai pria dan mempelai wanitanya duduk berdampingan saat ijab kabul dengan sepotong kain putih menutupi kepala keduanya. Tidak seperti itu. Jika kausuka menonton film-film Malaysia, maka seperti itulah gambarannya. Mempelai wanita akan memasuki ruang akad menjelang saat sang mempelai pria akan mengucapkan ijab kabul, dan mempelai wanita akan duduk agak jauh di belakang calon suaminya.
Saat aku memasuki ruang akad itu, aku hanya bisa melihat Reza dari belakang. Melihatnya justru membuatku semakin gugup. Aku harus mengerahkan seluruh konsentrasi untuk mendengarkan kata-kata penuh makna yang akan menjadikanku istri sah Reza Dinata. Kata-kata indah yang mengikatku pada lelaki impianku. Mataku sampai berkaca-kaca ketika Reza menyebutkan namaku dalam ijab kabul, yang membuat lelaki itu menjadi suamiku -- pasangan halalku. Lalu kata sah dari para saksi pernikahan melebur semua perasaanku, benar-benar lega rasanya menyadari bahwa aku dan Reza sudah terikat dalam pernikahan yang sah. Sekarang ini, pada detik ini, dia sudah sah menjadi suamiku. Kekasih yang halal bagiku.
Dan, akhirnya, dia -- mempelai priaku itu, ia diperbolehkan untuk melihatku -- yang sudah halal baginya. Ia membalik badan dalam gerak lambat dan langsung menatapku dengan lekat selama beberapa detik, seakan ia ingin mengenang saat itu untuk selamanya. Yeah, mata kelamnya sarat dengan cinta dan janji abadi. Sementara aku malah tersipu malu, beruntung aku bisa menguasai diriku saat kami saling menyematkan cincin dijari satu sama lain dan saat aku menciumi tangannya.
Aaaaah... senangnya, kelopak mataku sampai bergetar terpejam dan semua hal terlupakan begitu Reza mencium keningku untuk pertama kalinya sebagai suami.
Pernikahan yang sederhana, bukan? Begitulah adat di kampungku, tidak ada potong kue, lempar bunga, apalagi wedding dance. Kecuali jika kaumenggelar pesta resepsi mewah dan menyewa gedung mewah di luar kampung, di kota mungkin, atau minimal di pusat kecamatan. Tapi aku harus mengubur mimpi itu -- mimpi menggelar pesta pernikahan impian dengan gaun mewah, potong kue, lempar bunga, dan dilengkapi dengan dansa bersama mempelai priaku. Hanya itu, bukan tentang ribuan undangan atau sajian mewahnya. Tapi... ya sudahlah. Yang terpenting aku dan Reza sudah sah sebagai pasangan suami istri. Dan setidaknya, hampir seluruh anggota keluarga besarku hadir, mereka memberikan pelukan dan ucapan selamat kepada kami berdua. Reza sampai terheran-heran melihat antrian yang begitu panjang. "Kamu punya keluarga besar sekarang," bisikku. Dia tersenyum, bahagia sekali.
Sampai pada akhirnya ayahku datang -- dalam antrian itu. Dia mengucapkan selamat pada kami. Reza menciumi tangannya dan saling berpelukan. Sedangkan aku... aku terdiam sejenak -- sebab aku keberatan untuk mencium tangannya -- tangan yang mengabaikan aku -- tangan yang seharusnya...
"Sayang," Reza menegur.
Sebelum mendapat ceramah atau ocehan pertama dari suamiku, lekas-lekas aku meraih tangan lelaki itu dan... dengan terpaksa aku menciumnya -- tangan yang kubenci. Kubiarkan lelaki itu memelukku -- pelukan asing yang seandainya bisa ingin cepat-cepat kulepaskan. Tetapi aku tidak melakukannya. Demi tidak meninggalkan kesan buruk di hari pernikahanku, kubiarkan dia memelukku seberapa lama yang dia mau. Pun di saat sesi dokumentasi, kubiarkan dia berdiri di sampingku, yang sebenarnya terasa konyol. Anak dan ayah kandung berada dalam satu jepretan foto setelah dua puluh dua tahun tidak pernah saling mengasihi. Yeah, apa boleh buat, aku membiarkan momen-momen itu terjadi. Dan di saat itulah aku menyadari, meski aku sangat membencinya, namun tetap saja -- untuk suatu alasan yang aneh -- aku menemukan penghiburan dalam keberadaannya. Maksudku, aku punya ayah. Walaupun ayah yang tidak berguna. Walaupun aku tidak mau bicara dengannya. Walapun dia meninggalkan kekecewaan yang sangat mendalam pada diriku, tetap saja aku cukup senang akan keberadaannya -- SEBAB setidaknya aku bisa mengakui diriku sebagai anak yang terlahir dari sebuah pernikahan yang sah, bukan anak yang asal-usulnya tidak jelas, bukan anak yang dikandung di luar pernikahan, apalagi anak yang terlahir di luar nikah. Karena aku sudah cukup malu menyandang status anak Product Broken Home, apalagi kalau aku harus menyandang status lebih komplit dari itu.
"Aku sangat mencintaimu," Reza mengucapkan kata itu tanpa suara saat jemarinya mengenggam tanganku.
Aku juga mencintaimu. Tak perlu kuungkapkan kalimat itu, Reza juga sudah tahu. Dan kuakui, aku tenggelam dalam cinta yang terpancar dari matanya.
"Bahagia?" tanyanya. Dia tersenyum, senyum yang hanya ditujukan kepadaku. Aku merasakan panasnya tatapan Reza membakar dan menembus diriku.
Aku mengangguk. "Tentu. Aku bahagia karena impianku tercapai, aku menjadi istrimu, memilikimu, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Dia menatapku dengan penuh cinta. "Aku mencintaimu, Nara."
"Seberapa besar?" tanyaku.
Aku merasa gugup, pertama kali sebagai suami -- Reza membelai bibirku dengan bibirnya dengan lembut, lalu menciumku lagi, kali ini lebih lama dan lebih dalam. Dia menatapku: panas dan mendamba, dipenuhi cinta dan gairah. "Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Aku akan berusaha membahagiakanmu seumur hidupku," ujarnya bersungguh-sungguh, sambil mengusapkan ujung jarinya ke bibirku. "Terima kasih karena kamu mau membuka hatimu untukku. Entah aku pernah mengatakan ini atau tidak, tapi biar kukatakan saat ini, bahwa aku bukan, dan tidak akan pernah, menjadi bajingan yang sengaja menyakiti hatimu, seperti pendapatmu tentang ayahmu. Kamu harus ingat itu baik-baik. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu."
"Terima kasih, sudah mencintaiku sebesar itu. Aku juga mencintaimu, lebih dari apa pun yang ada di dunia ini."
__ADS_1
Aku tersenyum, dan sumpah demi apa pun, aku sangat bahagia.
Ini bukanlah akhir dari kisah cintaku.