Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Gila!


__ADS_3

Siang harinya kami bersantai dengan hammock. Berpelukan mesra sambil berpikir hendak ke mana lagi tujuan kami untuk menghabiskan hari-hari terakhir kami di Bali. Dengan bantuan google, Reza browsing dan membaca informasi di sana, sementara aku yang memutuskan iya atau tidaknya. Sebuah obrolan panjang menemani siang kami.


"Kita awali dengan informasi air terjun."


"Tidak mau, Mas. Terlalu jauh," tolakku.


"Oke. Selanjutnya informasi danau."


Aku menggeleng. "Sama saja, Mas. Air terjun, danau, bukit, gunung, kan semua lokasinya jauh dari sini."


"Kalau wisata air panas?"


"Sama, jauh juga."


"Museum?"


"Emm... tidak usah, ya."


"Pura?"


"Kan kemaren sudah. Memang banyak jenis pura lain, tapi aku segan kalau masuk-masuk ke kawasan tempat suci. Aku--"


Seketika aku sadar dan tidak jadi melanjutkan ucapanku. Oh Tuhan, mulutku sekarang suka sekali menyerocos tanpa konfirmasi dulu pada otakku.


"Kamu? Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Tidak apa-apa."


"Kenapa?"


"Tidak usah dibahas, Mas. Tolong...," rengekku.


"Oke, oke," responsnya cepat begitu menyadari reaksiku.


Seketika itu juga dia mengelus-elus bahuku dan menciumi kepalaku, bermaksud menenangkan dengan pura-pura semuanya baik-baik saja dan barusan tidak ada hal-hal semacam itu. "Oke, kita lanjutkan. Kalau ke pusat perbelanjaan, mau?"


Aku menggeleng. "Nanti saja kalau aku sudah jadi istrimu. Aku bisa kok menghabiskan uangmu. Jangan khawatir," tuturku dengan cengiran yang lebar.


"Yeah, oke. Selanjutnya ke pusat oleh-oleh."


Aku menggeleng lagi. "Tidak mau. Kan tidak ada yang perlu diberikan oleh-oleh. Lagipula aku sudah pernah mendatangi pusat oleh-oleh di sini."


"Lo? Kapan?"


"Dulu, semasa kuliah. Aku sudah pernah ke sini."

__ADS_1


"Ooo... kukira ini pertama kali kamu ke Bali."


"Sudah pernah. Tapi aku lupa, sih, nama-nama tempatnya. Yang paling kuingat itu aku pernah ke Jogger dan Krisna."


Dia manggut-manggut. "Baiklah. Kalau ke Waterboom, Waterpark?"


"Tidak perlu kujawab, kamu tahu jawabannya. Kita sudah melakukannya di Surabaya. Dan di Palembang, ada beberapa tempat bermain air yang hits. Dan, di masa lalu aku juga sudah cukup puas merasakan serunya permainan air."


Dia mengangguk. "Garuda Wisnu Kencana."


"Tempatnya luar biasa. Tapi aku sudah pernah."


"Wisata kuliner?"


"Kan sudah di Jimbaran kemarin malam, di kapal pesiar juga. Lagipula aku bisa makan sepuasnya di restoran."


"Oke. Jenis permainan, jetski sudah. Banana boat sudah. Snorkeling sudah. Apalagi? Permainan air semacam selancar dan sejenisnya kamu tidak bisa. 5GX?"


What?


"Tidak! Aku tidak berani. Sumpah! Kalau kamu mau, kamu sendiri saja. Biar aku jadi penonton."


Dia menggeleng. "Mendaki gunung?"


"Tidak mau. Dijuluki nona pengembara bukan berarti aku mau mendaki gunung. Aku cukup waras dan sadar diri dengan daya tahan tubuhku yang lemah. Tetanggaku di kampung ada yang meninggal sewaktu mendaki, tidak sempat dilarikan ke rumah sakit. Digotong-gotong tengah malam menuruni gunung. Akhirnya tidak tertolong. Aku tidak mau mati konyol seperti itu. Ngeri, tahu!"


"Kenapa? Kesal, ya?"


"Emm... tidak."


"Bohong...."


"Stok sabarku seluas alam semesta."


"Hoekkk!"


"Ada banyak jenis permainan air modern."


"Tidak mau. Tidak kepingin."


"Emm... yang menantang dan menguras tenaga, semacam flying fox, sejenis arung jeram, terus...."


"Jangan dilanjutkan. Itu bagus. Kamu bisa bermain. Tapi aku tidak. Nanti aku ngedrop kalau aku terlalu capek."


Reza menarik napas panjang lagi.

__ADS_1


"Sudah kesal, ya?" tanyaku lagi.


Dia tersenyum. "Bukan," kilahnya. "Cuma apa, ya. Ya gitu deh... tidak usah dibahas. Emm... sepertinya... sudah habis. Eh, masih ada Zoo, kebun binatang. Bagaimana?"


Kugelengkan lagi kepalaku. "Suatu saat saja, kalau kita sudah punya anak dan anak kita sudah bisa berjalan. Pasti lucu melihatnya girang diajak ke kebun binatang."


"Oke. Bagaimana kalau kita ke tempat-tempat yang berbau horor dan mistis?"


Aku melotot, ngeri. "Tidak mau."


"Kenapa? Takut?"


Aku tidak menyahut sebab aku tidak mau dia tahu kalau aku tidak berani. Bukan penakut lo, ya. Hanya tidak berani.


"O-ouwww... ternyata Nona Pengembaraku ini penakut...."


Kumiringkan kepalaku sedikit. "Bukan penakut, Mas. Hanya... tidak berani. He he."


"Sama."


"Beda."


"Sama...."


"Beda, Mas...."


"Oke, beda," katanya menyerah.


"Memang beda."


"Ke pemandangan sawah?"


"Jauh, lagi pula aku tidak tertarik. Aku anak kampung, masa kecilku aku sudah puas bermain di sawah dan memandangi hamparan sawah. Kamu ini, Mas, Mas. Anak kampung, jauh-jauh ke Bali kok diajak melihat sawah." Bibirku manyun.


Menyerah. Dia menutup ponsel. "Yeah, Gadis Kampungku. Maaf aku salah. Kalau begitu kita naik unta, yuk?"


"Tidak mau. Aku sudah pernah naik gajah, jalannya pelan. Sama kan dengan unta? Pelan juga. Kalau naik kuda aku mau. Tapi yang benar-benar berkuda, lo, ya. Bukan kuda yang jalannya pelan-pelan seperti unta atau gajah. Bagaimana? Yuk? Eh, kamu bisa berkuda, kan?"


Dia menggeleng. "Aku tidak bisa berkuda."


"O...," sahutku panjang. "Ada juga ternyata hal yang tidak bisa kamu lakukan. Kukira--"


Dengan cepat Reza bergerak dan menyilangkan kaki ke atasku, lalu dia menindihku. "Baiklah kalau kamu memaksa."


"Kamu mau apa, Mas?"

__ADS_1


Reza tersenyum nakal. "Seperti yang kamu inginkan. Berkuda bersamaku."


Gila!


__ADS_2