Hot Couple: Cerita Cinta Inara

Hot Couple: Cerita Cinta Inara
Shock


__ADS_3

Pagi baru saja merekah sewaktu aku mengambil ponselku yang masih terpaut pada kabel charger dan segera kuaktifkan. Dalam beberapa detik benda persegi itu langsung bergetar pertanda ada pesan yang masuk.


》Sayang, aku langsung pulang ke Bogor. Besok tidak jadi ke Semarang.


Ternyata pesan itu dikirim Reza semalam, setengah jam setelah ia mengantarku pulang. Rasa khawatir pun langsung menyelip ke sanubari. Tak ayal, aku langsung meneleponnya, namun tak diangkat. Secara bersamaan, Ihsan mengetuk pintu kamarku dan langsung membukanya sesaat setelah aku menyuruhnya masuk. "Mandi gih, siap-siap, kuantar ke Bogor," ujar Ihsan tanpa spasi.


"Ada apa?" tanyaku cemas.


Ihsan diam sesaat, lalu ia berkata, "Ibunya Mas Reza masuk rumah sakit. Mas Reza memintaku untukmu mengantarmu ke sana. Katanya ibunya mau ketemu."


Mulutku membulat kecil tanpa suara. Aku membeku sesaat sampai Ihsan kembali bersuara. "Cepat, ya. Kutunggu di bawah." Ihsan pun menutup pintu dan berlalu.


Perjalanan menuju Bogor hari itu tak begitu bersahabat, maklum, hari sabtu, volume kendaraan plat B sedang tinggi-tingginya menguasai jalanan. Jadilah aku dan Ihsan tiba di Bogor jam sepuluh pagi dan langsung menuju ruang rawat ibunya Reza yang sudah ia beritahukan via whatsapp. Dengan agak terburu-buru, kulangkahkan kaki menuju ruangan itu, meninggalkan Ihsan yang sedang menerima telepon di parkiran rumah sakit.


Dan, tubuhku menegang saat membuka pintu. Aku mendapati calon suamiku, Reza -- yang tengah tidur di sofa bersama Salsya -- yang juga terlelap nyaman di bahunya.


"Mas!" pekikku tak percaya, lupa kalau itu di rumah sakit dan ada ibunya yang sedang terbaring sakit. Beruntung, ibunya saat itu sedang terlelap di bawah pengaruh obat. Reza yang terbangun refleks mendorong tubuh Salsya, ia bangun dan berjalan cepat ke arahku dengan ekspresi berusaha menjelaskan. Namun aku tak kuasa. Refleks tanganku menampar pipinya.


Suster yang tiba-tiba masuk ke ruangan membuatku tersadar di mana keberadaanku saat itu, tidak seharusnya aku membuat keributan di rumah sakit. Aku segera angkat kaki dari ruangan itu dengan tubuh gemetaran. Pandanganku pun kabur sebab gumpalan air mata. Ini sangat menyakitkan.


Aku yang setengah berlari menabrak Ihsan yang hendak menyusulku. Melihatku menangis dia langsung bertanya ada apa, tapi aku tak menghiraukannya dan terus berlari. Aku harus segera angkat kaki dari tempat ini, jika tidak, aku bisa membuat kehebohan lebih dahsyat lagi di luar kendaliku.


Aku berlari menuju taman secepat mungkin, mencoba meredam amarah yang membuncah di dada. Kupikir aku akan terkena serangan jantung. Lututku mulai goyah, dan bintik-bintik hitam mulai bermunculan di tepi penglihatanku. Bernapas... aku lupa bernapas. Kureguk udara banyak-banyak dan kusandarkan satu tangan di sandaran kursi taman untuk menyeimbangkan diri, dan beringsut untuk duduk.


Aku membungkuk ke depan dan membiarkan kepalaku menggantung, rambutku tergerai ke sekitar tanganku. Kupijat kulit kepalaku dengan kuat, namun tetap saja tangisku pecah. Aku terisak keras sampai tubuhku terguncang-guncang hebat.


Reza mendekat, ia menghampiri dan duduk berlutut di depanku. "Maafkan aku," ucapnya lirih.


Aku menghela napas, bersandar kembali ke bangku besi. Rasa kacau membuatku lelah. Semua ini sungguh sulit. Aku sesak.


"Kenapa Mas? Kamu merasa gagal dengan cara kemarin, jadi hari ini kamu mencoba lagi? Kamu bisa bicara baik-baik untuk putus denganku. Kamu tidak harus memintaku jauh-jauh dari Jakarta ke Bogor cuma untuk memperlihatkan kemesraan antara kamu dan Salsya. Simple, kan?"


Reza yang tadinya berjongkok lutut di depanku berpindah duduk ke sampingku. "Kamu boleh cemburu," katanya santai sambil satu tangannya menarik cepat tanganku ke pangkuannya. Kucoba menarik kembali tanganku, tapi tak berhasil. Genggaman Reza terlampau kuat. "Aku senang kalau kamu cemburu. Tapi demi Tuhan, yang kamu tuduhkan itu sama sekali tidak benar."

__ADS_1


"Jangan coba-coba membodohiku. Aku sudah muak!"


Kesal. Aku melengos, dan mengedarkan pandangan ke pepohonan rindang di depan sana.


"Demi Tuhan, Sayang. Aku tidak tahu sama sekali kalau Salsya ada di sana. Aku ngantuk berat, semalaman tidak bisa tidur. Kalau benar seperti yang kamu tuduhkan, untuk apa aku menyusulmu ke sini? Untuk apa aku bersumpah dan berusaha menjelaskan ini padamu? Iya, kan? Please, percaya padaku, ya?"


Reza menyentuh pipiku dan membuatku mengalihkan pandangan ke wajahnya. Aku menangkap kejujuran dari tatapan matanya, kejujuran yang masih bisa kupercayai. Dan dia benar, matanya sayup, jelas dia sangat mengantuk. Wajahnya nampak lesu seperti orang belum mandi.


"Terus tadi... Salsya..."


"Entahlah. Nanti kutegur dia."


"Jelas dia masih menginginkanmu."


"Yang penting aku tidak, kan? Aku hanya menginginkanmu. Yang kuinginkan hanya kamu. Di sini, hanya ada kamu," katanya sambil menunjuk dada. "Please, aku mohon, maafkan aku?"


Tetapi aku menggeleng. "Tidak akan," kataku. "Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu menegur Salsya."


"Iya, Sayang."


"Iya, akan kukatakan itu padanya. Aku janji. Oke?"


Hmm... aku mengangguk.


Lega rasanya. Seulas senyum pun menyembul. Meski matanya terlihat masih mengantuk, tapi sebentuk cinta masih terpancar dari sana. Dia menjelaskan padaku kalau semalam sehabis mengantarku -- tepat setelah mengaktifkan ponsel, dia mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Lalu ia langsung kembali ke Bogor, dan semalaman diliputi rasa khawatir, sebab itu ia tak bisa tidur dan sangat mengantuk.


"Ayo, kita kembali ke ruang rawat Ibu," ajakku.


Lagi, dia menggeleng. "Sebentar lagi," katanya. "Aku tidak mau Ibu melihatmu habis menangis. Nanti Ibu berpikir yang aneh-aneh, dikira aku menyakitimu."


"Oke. Aku paham," kataku. "Oh ya, bagaimana dengan meeting-nya? Bisa reschedule, kan?"


"Gampang. Kamu jangan khawatir. Nanti bisa diatur atau bisa meeting virtual."

__ADS_1


"Lah? Kalau bisa meeting virtual, kenapa kamu selalu keluar kota?"


"Kan sekalian ngecek... sekalian bertemu karyawan. Kamu sendiri kenapa cuma menulis tapi selalu keluar kota?"


Aku nyengir. "Kan aku sudah pernah bilang, itu tu pelarian...."


Dia mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau kamu menyebutnya pelarian, maka aku menyebutnya pencarian."


"Pencarian?" tanyaku heran.


Reza mengangkat kedua bahunya, dia mengatakan perjalanannya itu sebuah pencarian, mencari banyak hal: lingkungan baru, suasana baru, pengalaman baru dan teman baru, termasuk jodoh.


"Jodoh?"


Dia mengangguk. "Iya, cari jodoh," katanya. "Meskipun... pada akhirnya rasaku tetap tertuju padamu. Buka ig lihat kamu, buka facebook lihat kamu, sampai memejamkan mata pun, aku masih bisa melihatmu."


"Ah, lebay...! Gombal...!"


Haha!


"Swear." Dua jarinya mengacung. "Aku serius. Dan kamu benar-benar membuatku patah hati di hari pernikahan Ari."


Eh?


Ckckck!


Aku tergelak mendengar pengakuannya. Entah kenapa, kejadian itu tetap saja lucu bagiku, orang yang waktu itu kutolak dan kubuat patah hati, justru sekarang aku sama tergila-gilanya seperti dia.


"Tapi, sepercik harapan kembali muncul saat kamu mau kuajak berkenalan, waktu pertama kali kita bertemu di resto. Harapan itu membuatku kembali bersemangat mendekatimu. Kamu tahu, hari itu rasanya aku mendapatkan sinyal bahwa kamu juga tertarik padaku."


Aaaaah... aku tersenyum dengan pipi merona merah. "Tahu kenapa? Karena kamu setampan Reza Rahadian."


Reza balas tersenyum dengan mata menyipit. "Terserah. Yang terpenting sekarang kamu milikku. Dan pencarianku berhenti di kamu. Hanya padamu."

__ADS_1


Kali ini aku tersenyum tipis. Dalam hati aku tetap saja takut -- takut kalau Salsya melakukan berbagai upaya agar Reza kembali padanya. Dengan kembali bekerja di Dinata Resto -- itu menunjukkan bahwa langkah pertamanya untuk kembali masuk ke dunia Reza sudah berhasil. Aku percaya feeling-ku yang kuat tidak mungkin meleset. Siapkah aku menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi?


Bagaimana jika aku yang akan tersingkir?


__ADS_2